Dewan Pers

Dark/Light Mode

Prediksi Pengamat, Alibaba Siap Jadi Penantang Di Ekosistem Digital Indonesia

Minggu, 12 Desember 2021 15:46 WIB
Alibaba Group. (Foto: Ist)
Alibaba Group. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Alibaba Group diyakini berencana melakukan ekspansi yang lebih agresif ke pasar internasional melalui e-commerce, setelah sebelumnya Alibaba tersandung persoalan di negara asalnya, China.

Indikasinya, mantan pimpinan Taobao dan Tmall Rabu (8/12), Jiang Fan, didapuk untuk memimpin unit baru Digital Commerce bagi pasar internasional grup Alibaba, yang di dalamnya termasuk AliExpress dan Lazada.

Indonesia disebut-sebut menjadi salah satu negara yang diincar untuk ekspansi bisnis ini. Alibaba dikabarkan akan menanamkan investasi lebih besar untuk masuk dalam peta raksasa ekosistem digital di Indonesia, yang saat ini masih dipimpin duo Gojek-Tokopedia, Grab-Emtek, serta Shopee.

Salah satu portfolio e-commerce di Indonesia, Lazada, tahun ini genap tujuh tahun masuk di pasar dalam negeri. Terpaut satu tahun dengan Shopee yang masuk di Indonesia pada 2015, market share Lazada terbilang jauh di bawah.

Berita Terkait : PPLI Hadirkan Insinerator Terbesar Di Indonesia

Similarweb Quartal I 2021 mencatat traffic share marketplace Indonesia masih dipimpin Tokopedia dengan persentase 32,04, lalu disusul Shopee yang mencatat 29,73 persen. Sementara Lazada, jauh tertinggal dengan 7,45 persen.

"Perusahaan ecommerce harus menyadari bahwa di tahun-tahun kedepan dominasi bisnis e-commerce kemungkinan besar masih dipimpin oleh Tokopedia gojek dan shopee," ujar Direktur Program INDEF Esther Sri Astuti, Minggu (12/12).

Meski demikian, angka ini bukan tidak mungkin dikejar. Dia menyebut, Alibaba bisa menjadi penantang ekosistem raksasa yang saat ini dipimpin GoTo, kongsi Grab-Emtek.

"Alibaba itu sudah sejak lama dia memiliki Pelanggan dari Indonesia Jika dia semakin membesarkan namanya di Indonesia maka akan semakin menarik lagi pengguna," imbuhnya.

Berita Terkait : Kurangi Emisi Karbon, Indonesia Gercep Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Justru, persaingan ekosistem digital yang serba ketat di Indonesia justru membuat banyak konglomerasi dunia menyadari posisi Indonesia sebagai potensi menjanjikan untuk berinvestasi di masa mendatang. "Fenomena ini akan semakin menarik bagi perusahaan e-commerce terutama sekelas Alibaba," tambah Esther.

Model bisnis digital pun diyakini berubah. Meski saat ini masih dengan strategi bakar uang dengan berbagai promo, gratis ongkir misalnya, tapi ke depannya diprediksi bakal berubah menjadi kolaborasi. Kenapa?

"Karena lebih baik bersatu untuk bisa menaklukkan pasar daripada saling bersaing dengan perang harga, perang promo yang ujung-ujungnya yang diuntungkan konsumen, tapi mereka buntung," beber Esther.

Alibaba juga diyakini akan menggandeng partner lokal yang memiliki berbagai bisnis dan platform teknologi informasi maupun digital yang mumpuni untuk menjadi penantang baru tiga raksasa ekosistem digital yang sudah dulu ada. Menurut Esther, skenario itu sangat mungkin.

Berita Terkait : Kemendagri Dorong Penguatan Kelembagaan Penataan Ruang Di Daerah

“Alibaba berkolaborasi dengan perusahaan di dalam negeri itu pasti, bukan mungkin lagi, tapi pasti. Alibaba akan mencari perusahaan yang sejalan dan Indonesia ini adalah market yang besar (bagi mereka)," tuturnya.
 Selanjutnya