Dark/Light Mode

Survey Zebra Technologies

Pasien Khawatir Masalah Supply Chain Di Industri Farmasi

Rabu, 15 Desember 2021 22:32 WIB
Southeast Asia (SEA) Sales Vice President Zebra Technologies Asia Pacific Christanto Suryadarma. (Foto: Istimewa)
Southeast Asia (SEA) Sales Vice President Zebra Technologies Asia Pacific Christanto Suryadarma. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Mayoritas dari pembuat keputusan dalam industri farmasi (84 persen) merasa bahwa mereka siap mematuhi mandat traceability dan transparansi. Sebanyak tiga perempat menegaskan, mereka sudah menggunakan teknologi location service atau berencana untuk menggunakannya pada tahun depan. Langkah yang akan meningkatkan workflow produksi dan tracking obat, mengurangi penyusutan maupun perubahan, serta memberikan visilibilitas dan informasi yang diinginkan oleh pasien.

Tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin ini adalah memproduksi, dan memindahkan, obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain penundaan karena masalah regulasi, pembuat keputusan di industri ini mengatakan bahwa mereka juga berurusan dengan batas produksi, distribusi dan masalah penyimpanan, batasan kapasitas pengiriman, dan penundaan transportasi. Sebagai konsekuensi, 92 persen berencana menambah investasi mereka di sektor manufaktur farmasi dan tool pemantauan supply chain pada tahun depan.

Baca juga : Legenda Bulutangkis Verawaty Fajrin Tutup Usia Di RS Kanker Dharmais

Masalah Point of Sales
Lebih dari tiga perempat pasien yang disurvei mengatakan, mereka pernah menghadapi masalah, baik saat melakukan pembelian atau saat mengonsumsi obat pada masa lalu. Yang mengejutkan, keluhan ini lebih banyak berasal dari generasi milenial (82 persen) dibandingkan generasi boomers (61 persen).

Generasi milenial tidak menoleransi kesalahan, dan memiliki kemungkinan dua kali lipat dibandingkan generasi boomer untuk berpindah apotek demi mendapatkan layanan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan 70 persen pasien mengonfirmasikan bahwa mereka pernah beralih ke pemberi resep, apotek atau pemberi obat lain pada masa lalu karena pengalaman yang tidak menyenangkan. 

Baca juga : Kemenperin-Surveyor Indonesia Genjot TKDN Industri Farmasi Lokal

Di antara berbagai masalah yang dialami pasien, masalah isu efek samping yang berat adalah salah satu dari lima masalah terbesar, tapi ini bukan yang teratas:
1. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia atau stok kosong (32 persen)
2. Hanya menerima sebagian obat karena ketidaktersediaan pada saat itu (29 persen)
3. Menemukan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah di tempat lain (27 persen)
4. Tidak menerima obat tepat waktu atau saat dibutuhkan (22 persen)
5. Mengalami efek samping yang parah (21 persen).

Mayoritas kekhawatiran berkepanjangan pasien berpusat pada ketersediaan obat (76 persen), dan kurang pasokan (73 persen). Namun, penyedia obat tidak lepas tangan mengenai masalah keamanan dan efikasi. Sebanyak 85 persen pasien mengatakan, semua apotek harus memonitor obat yang dijual, termasuk apotek yang menerima pesanan lewat jasa delivery.

Baca juga : Punya Jejak Ideologis Jelas Dan Kuat, Puan Maharani Dinilai Layak Jadi Capres

“Zebra memiliki portofolio solusi yang dapat membantu mentransformasi supply chain di industri farmasi, seperti TC52ax, TC52ax-HC, L10ax, VC8300, RFD40, dan ZD621,” tambah Tan. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.