Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ekonomi Lagi Bagus, Jangan Gegabah Lakukan Pembatasan

Minggu, 19 Desember 2021 09:25 WIB
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani (Foto: Antara)
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pelaku usaha dan Pemerintah tidak panik menghadapi varian Omicron yang baru masuk ke Indonesia. Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani menuturkan, virus adalah sesuatu yang tak terlihat. Seketat apapun kebijakan diambil Pemerintah, risiko kebobolan tetap ada.

“Ini risiko, seperti suatu hal nggak bisa dihindari. Yang penting nggak usah panik, hadapi Bersama saja,” katanya, kepada Rakyat Merdeka.

Menurutnya, walaupun Omicron telah masuk, belum ada alasan yang cukup kuat untuk kembali melakukan pengetatan mobilitas masyarakat untuk perjalanan dalam negeri dan internasional. Hariyadi berharap, Pemerintah tidak gegabah mengambil kebijakan pembatasan ketat yang dapat mengganggu momentum pemulihan sektor industri.

Berita Terkait : Ylon Louise, Semangati Ezra Lewat Medsos

“Saya pikir belum ada urgensi untuk pembatasan. Kita sekarang justru sedang bagus-bagusnya, kita harus jalan terus, tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya.

Bos Sahid Group ini ini optimistis kasus mutasi Covid-19 asal Afrika Selatan itu tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemulihan ekonomi nasional dalam jangka waktu menengah. Alasannya, vaksinasi dosis kedua di Indonesia sudah mencapai 38,16 persen dari keseluruhan populasi yang tercatat sebesar 270,2 juta orang. Artinya, realisasi vaksinasi itu hanya terpaut 2 persen dari amanat WHO yang mematok 40 persen dari keseluruhan populasi.

“Rasanya kehebohan yang ada di Afrika Selatan itu, karena vaksinasinya mereka masih rendah, sedangkan kita jauh lebih baik. Kami meyakini bisa mengatasi varian ini,” ucapnya.

Berita Terkait : Indonesia Vs Laos 5-1, Garuda Makin Perkasa!

Untuk mencegah varian baru lainnya, Hariyadi ia meminta Pemerintah mempercepat program vaksinasi booster. Hal itu bisa diserahkan kepada perusahaan farmasi swasta. Vaksinasi booster berbayar itu diklaim dapat menjaga kekebalan kelompok masyarakat yang bermukim di sejumlah kota besar. “Karena penyebaran yang paling besar itu di kota besar, tidak mungkin di tempat terpencil, di kota besar orang pasti punya kemampuan untuk beli vaksin booster,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengaku waswas dengan kemunculan varian baru ini. Karena, dunia usaha baru saja mulai bergeliat setelah nyaris lumpuh saat terjadi ledakan varian Delta.

Alphonzus mengungkapkan, saat ini tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan dan mall baru mulai menuju di angka 60 persen. Ia memastikan belum ada dampak penurunan yang terjadi hingga saat ini saat varian Omicron masuk. “Pusat perbelanjaan masih belum merevisi target tingkat kunjungan sampai dengan akhir tahun 2021 nanti yang diharapkan rata-rata sebesar 70 persen,” ujarnya.

Berita Terkait : Indonesia Vs Laos, Garuda Siap Berikan Kejutan

Namun, kata Alphonzus, tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 berakhir. Bahkan, bukan tidak mungkin bakal muncul varian-varian lain setelah Omicron. Ketidakpastian itu, membuatnya berharap aktivitas masyarakat yang sudah mulai dilonggarkan tak kembali dilarang. Namun, aktivitas di luar rumah dipastikan aman.

“Untuk dapat memastikan kita dapat berkegiatan secara aman dan sehat itu, maka saat ini hanya ada dua instrumen yang harus digunakan yaitu disiplin protokol Kesehatan dan vaksinasi,” pungkasnya. [KPJ]