Dark/Light Mode

Presidensi G20 Mulai Bahas Langkah Kongkrit

Negara Maju Bantu Pendanaan Negara Miskin Agar Kuat Hadapi Covid

Jumat, 28 Januari 2022 23:58 WIB
Forum International Financial Architecture Working Group atau IFAWG (Dokumen Bank Indonesia)
Forum International Financial Architecture Working Group atau IFAWG (Dokumen Bank Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perhelatan G20 tidak melulu membicarakan upaya pemulihan keuangan negara-negara kaya. Tapi juga ikut peduli dan memikirkan nasib negara-negara yang miskin. Atau negara yang situasi perekonomiannya rentan akibat dampak pandemi Covid-19.

Bagaimana cara membantunya? Dari rilis yang diterima media dari Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, menyebut, akan dilakukan penyaluran IMF Special Drawing Right atau SDR secara sukarela oleh negara-negara yang posisi keuangannya kuat. “Ini adalah bagian dari kelanjutan ambisi global yang telah dicanangkan para pemimpin negara G20 dalam KTT di Roma, tahun 2021,” tulisnya, Jumat malam (28/01/2022).

Meski dibayangi peningkatan jumlah kasus varian Omicron, namun secara umum, sistem keuangan internasional saat ini dipandang lebih berdaya tahan, dibanding periode beberapa waktu lalu. Meski demikian, perlu diantisipasi berbagai risiko terhadap sistem keuangan, agar tidak menghambat proses pemulihan ekonomi dunia.

Baca juga : IMF: Omicron Bisa Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Hal-hal seperti itu menjadi topik yang mengemuka di Forum International Financial Architecture Working Group atau IFAWG, yang diselenggarakan Presidensi G20. Pembicaraan tentang ekonomi dan sistem keuangan ini, pihak Indonesia diwakili oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Kegiatan berlangsung secara virtual pada 27-28 Januari 2022.

Forum ini mendiskusikan upaya-upaya untuk memperkuat ketahanan dan mendorong stabilitas sistem keuangan internasional. Pada pertemuan hari pertama, IFAWG membahas dinamika aliran modal beserta respons kebijakan yang diperlukan khususnya di negara berkembang, penguatan jaring pengaman keuangan global, dan upaya memperkuat ketahanan sistem keuangan dari berbagai sumber kerentanan. Berbagai risiko terhadap sistem keuangan internasional termasuk potensi pengetatan kebijakan moneter akibat meningkatnya tekanan inflasi, menyempitnya ruang kebijakan, tinggi dan terus meningkatnya level utang di berbagai negara, serta peningkatan volatilitas di pasar keuangan mewarnai diskusi karena berpotensi menghambat proses pemulihan ekonomi dunia.

Dalam pertemuan ini, negara G20 menyambut baik rencana pembentukan Resilience and Sustainability Trust (RST) oleh International Monetary Fund (IMF) sebagai opsi penyaluran SDR guna menanggulangi permasalahan pendanaan jangka panjang bagi negara miskin dan negara berkembang yang memiliki kerentanan, khususnya dalam mengatasi pandemi dan perubahan iklim. SDR adalah cadangan devisa internasional yang diciptakan IMF sejak tahun 1969 dan berfungsi sebagai cadangan tambahan devisa negara-negara anggota IMF.

Baca juga : Mulai Besok, Amerika Buka Pintu Perbatasan Darat Dan Udara

Negara G20 juga memandang penting koordinasi internasional untuk memperkuat jaring pengaman keuangan global. Negara G20 mendiskusikan upaya mendorong aliran modal yang berkelanjutan, antara lain melalui asesmen manfaat dan risiko atas diversifikasi mata uang dalam transaksi perdagangan dan keuangan internasional.

Pada pertemuan hari kedua, IFAWG membahas upaya memperkuat dukungan pendanaan dan pengelolaan utang bagi negara miskin. Sehubungan dengan telah berakhirnya perpanjangan program penundaan pembayaran utang (Debt Service Suspension Initiatives atau DSSI) kepada negara miskin di akhir 2021. Negara G20 mendiskusikan arah penguatan kebijakan pengelolaan utang bagi negara miskin melalui Common Framework for debt treatment beyond the DSSI. Pendampingan bagi negara miskin untuk dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan utang turut menjadi bahasan.

Selain itu, negara G20 juga mendiskusikan komitmen untuk terus meningkatkan transparansi dan keberlanjutan dalam memberikan bantuan pendanaan bagi negara miskin, sesuai semangat recover together, recover stronger.

Baca juga : Persija Vs Barito Putera, Macan Kemayoran Ngarep Husnul Khatimah

Apa yang jadi fokus Indonesia? Negara kita menggarisbawahi pentingnya memperkuat sistem keuangan internasional dan menjaga semangat multilateral dalam menghadapi tantangan global di tengah pandemi untuk dapat mendorong pemulihan ekonomi yang kuat dan inklusif. Indonesia tentu saja menegaskan dukungan bagi upaya G20 membantu negara miskin dalam mengatasi pandemi.

Hasil dari pertemuan IFAWG menunjukkan penguatan upaya kolektif G20 untuk meningkatkan stabilitas dan ketahanan sistem keuangan internasional selama 2022. Bahasan ini menjadi bagian yang akan dilaporkan dan mendapatkan arahan lebih lanjut dari Menteri dan Gubernur Bank Sentral negara G20 pada pertemuan bulan Februari 2022 mendatang. (NAN)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.