Dark/Light Mode

Pemulihan Ekonomi Akibat Pandemi Tak Selama Krisis 98

Senyum Sri Mulyani Mengembang

Kamis, 10 Februari 2022 08:50 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Instagram/smidrawati)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Instagram/smidrawati)

 Sebelumnya 
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, ekonomi di kuartal IV-2021 tumbuh 5,02 persen, naik 1,06 persen per kuartal. Sementara, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 mencapai 3,69 persen. Penopang pertumbuhan ini didominasi konsumsi rumah tangga yang tumbuh 3,55 persen.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengamini pernyataan Sri Mulyani. Ia sepakat, pemulihan setelah pandemi bisa lebih cepat dari krisis 1998, karena kedalaman krisisnya tidak separah 23 tahun silam.

Baca juga : Ramalan Sri Mul Nyaris Terwujud

Jika ekonomi tahun 2020 hanya minus 2 persen, di 1998 mencapai minus 13 persen. Pada 2021, ekonominya sudah tumbuh 3,69 persen. Sedangkan di 1999, pertumbuhannya hanya 0,79 persen.

"Tapi, apakah tidak sampai dua tahun sudah pulih? Itu masih sangat besar ketidakpastiannya. Sebab, pandeminya juga belum berakhir. Jadi, pemulihannya bisa lebih dari dua tahun," ulas Faisal, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Baca juga : Sri Mulyani Pasang Kuda-kuda

Terlebih, lanjut dia, tantangan di sektor ekonomi sebelum pandemi saja sudah banyak. Karena itu, Pemerintah perlu memerhatikan kebijakan yang diterbitkan. Seperti kebijakan fiskal dan moneter. Jika cenderung ketat, pemulihan ekonomi otomatis lambat.

Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno mengakui, dari segi kelembagaan, koordinasi lintas sektor dan kebijakan fiskal maupun moneter saat ini jauh lebih baik dibanding 1998. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan juga sudah tersedia. Komunikasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sudah dilembagakan.

Baca juga : Terapkan Teknologi Modern Dalam Berbisnis, Blibli Diganjar 3 Penghargaan

Hanya saja, kata Hendrawan, sekuat apa pun ekonomi domestik ingin pulih, masih tergantung aspek internal. Karena itu, arus investasi ke sektor riil harus digenjot dan kurs dijaga. “Bila ekonomi tumbuh karena inflasi, terus suku bunga naik, pertumbuhan tidak akan maksimal," terang politisi PDIP ini. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.