Dark/Light Mode

Penuhi Kebutuhan Puasa dan Lebaran

Bulog, ID Food, dan Swasta Rame-rame Impor Daging

Rabu, 9 Maret 2022 09:00 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional/NFA Arief Prasetyo Adi saat meninjau langsung kedatangan daging impor oleh BULOG di New Priok Container Terminal One, Jakarta. (5/3). (Foto: Istimewa).
Kepala Badan Pangan Nasional/NFA Arief Prasetyo Adi saat meninjau langsung kedatangan daging impor oleh BULOG di New Priok Container Terminal One, Jakarta. (5/3). (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta mengimpor daging sapi dan kerbau untuk memenuhi kebutuhan puasa dan Lebaran. Pasokannya bulan ini diharapkan sudah membanjiri pasar.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto mengungkapkan, pihaknya telah mendapatkan kontrak untuk melakukan impor daging sapi. Tahap pertama, pihaknya akan mengimpor sebanyak 20 ribu ton daging sapi. “Per Sabtu (5/3), sudah tiba sebanyak 60 persen impor daging sapi. Sampai akhir Maret ini akan rampung 100 persen,” ujar Suyamto saat memantau langsung kedatangan daging impor di New Priok Container Terminal One (NPCT1), Jakarta, Sabtu (5/3).

Ia menuturkan, pihaknya sudah melakukan pengaturan dan percepatan proses kedatangan stok daging impor ini. Dengan sarana cold storage dan jaringan infrastruktur yang dimiliki Bulog, daging sapi tersebut akan segera didistribusikan ke seluruh Indonesia. “Bulog menjamin kebutuhan daging beku tersedia di masyarakat walau ada lonjakan permintaan. Kami akan menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk menjamin ketersedian pangan tersebut,” janjinya.

Selain itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA), Pemerintah Pusat maupun Daerah guna membantu mensukseskan program Pemerintah untuk menstabilkan harga pangan lainnya pada saat Ramadan dan Idul Fitri. Di kesempatan yang sama, Kepala NFA Arief Prasetyo Adi menuturkan, kedatangan stok daging impor oleh Bulog ini sangat dibutuhkan guna menjawab persoalan ketersediaan daging yang mengalami tren kenaikan permintaan.

Karenanya, ia mengapreasiasi aksi korporasi yang dilakukan Bulog, sebagai salah satu BUMN, yang mendapat penugasan importasi daging tahun ini. Diharapkannya, semua stok daging tersebut akan terdelivered dengan baik sebelum puasa dan Lebaran. “Kami akan mendorong BUMN Pangan yang mendapat penugasan untuk mempercepat masuknya cadangan stok nasional. Kami juga minta untuk bisa langsung didistribusikan,” katanya.

Baca juga : Jelang Ramadhan, Bulog Dan Badan Pangan Pastikan Stok Daging Aman

Dengan jumlah stok daging beku yang dikuasai Bulog tersebut, mantan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia/ RNI (Persero) ini meyakini, hal ini dapat membantu mengatasi lonjakan permintaan daging beku selama Ramadan dan Idul Fitri. Untuk memastikan stok daging aman, pihaknya juga berkolaborasi dengan Holding Pangan ID Food, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Dharma Jaya, Pemprov DKI, Importir daging dari private sector. Sehingga konsumen memiliki beberapa pilihan daging mulai dari hot meat atau daging segar, frozen daging kerbau, frozen daging sapi dan sapi dari sentra produksi Indonesia.

“Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok daging aman. Variasi produknya juga beragam, dengan harga yang baik,” akunya. Tak hanya itu, BUMN Holding Pangan ID Food, melalui PT Berdikari, juga telah menerima penugasan dari Pemerintah untuk kontribusi penyediaan stok daging sapi Brazil.

Ia memastikan, sumber ketersediaan stok daging sapi tetap dipenuhi dari lokal, meski dilengkapi dari sumber impor. “Impor memang harus dikurangi, tetapi bukan berarti cadangan pangan kita tidak baik. Kami bersama Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong optimalisasi Sentra sapi untuk memenuhi produk lokal.” terangnya.

Sepanjang pekan ini, pihaknya bersama Kementan juga akan melakukan kunjungan ke beberapa peternak sapi untuk melakukan pengiriman sapi hidup. Hal ini dalam rangka memenuhi pasokan hot meat pasar di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) dan Bandung Raya.

Sementara, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Achyat mengatakan, sesuai arahan Badan Pangan Nasional, pihaknya juga akan memastikan ketersediaan daging mencukupi dan harga yang baik memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kami siap memenuhi ketersediaan daging guna memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya singkat.

Baca juga : Penuhi Kebutuhan Pangan, Sahabat Ganjar Sebar Ratusan Sembako Untuk Korban Banjir Serang

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nisrina Nafisah mengungkapkan, menjelang Bulan Ramadan dan Idul Fitri, jumlah permintaan biasanya akan meningkat. Sehingga perlu diikuti dengan kecukupan pasok sebagai bentuk antisipasi. Untuk itu, ia meminta Pemerintah bisa memastikan ketersediaan daging sapi untuk konsumsi domestik cukup spanjang tahun ini. Selain itu, produksi domestik juga bisa ditingkatkan dengan mengembangkan sistem produksi daging sapi. Agar bisa mencapai produktivitas yang optimal.

“Kita juga bisa mengantisipasi lonjakan harga di pasar internasional. Upaya lainnya, dengan memodernisasi sektor peternakan Indonesia dan meningkatkan kapasitas peternak lokal,” imbaunya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Bahkan, sambungnya, Indonesia seharusnya dapat membuka diri terhadap investasi untuk memajukan sektor peternakan. Ke depannya, Indonesia dapat memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara produsen utama daging sapi, selain Australia. “Tujuannya, untuk mendiversifikasi sumber pangan dan memperkuat resiliensi sistem pangan Indonesia,” ucapnya.

Ia menambahkan, Pemerintah sebaiknya fokus membenahi rantai distribusi dan logistik daging sapi nasional. Dia melihat, selama ini panjangnya rantai distribusi tersebut menimbulkan biaya tambahan yang cukup tinggi. Seperti, kenaikan harga logistik dan transportasi yang berdampak signifikan pada kenaikan harga modal produksi daging sapi di tingkat produsen.

Begitu juga saat Pemerintah memilih mengimpor sapi bakalan yang harus digemukkan lagi dan dipotong di Indonesia. Lalu, daging sapi yang dihasilkan dijual langsung ke pedagang grosir berskala besar di pasar. Atau melalui tengkulak yang membantu Rumah Potong Hewan (RPH) untuk mendapatkan pembeli.

Tahapan selanjutnya, sambung dia, menjual daging sapi ke pedagang grosir berskala kecil. Proses panjang inilah yang menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit. “Secara umum, tingginya harga daging sapi di Indonesia juga disebabkan tingginya harga logistik.

Baca juga : AS Dan Swiss Nyawer Rp 689,5 M

Terutama biaya penyimpanan dalam cold storage,” bebernya. Sementara, Pengamat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menerangkan, penyelesaian pangan ada dua sumber. Yaitu, produksi petani dan impor.

Sayangnya, kebijakan pangan sekitar 30 tahun terakhir lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan konsumen. Karena itu, sambung dia, diharapkan BUMN maupun Badan pangan Nasional ini mampu menjaga keseimbangan dua sisi tersebut. “Bagaimana caranya bisa menjaga stabilitas harga di konsumen, sekaligus menjaga kesejahteraan petani melalui instrumen yang dimiliki Badan Pangan Nasional,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [IMA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.