Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Kurangi Beban Pertamina, Harga BBM Pertamax Diusulkan Naik

Jumat, 18 Maret 2022 09:17 WIB
Kurangi Beban Pertamina, Harga BBM Pertamax Diusulkan Naik

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax seperti yang telah dilakukan perusahaan lain terhadap produk sejenis dinilai wajar dilakukan PT Pertamina (Persero).

Pasalnya, Pertamax adalah termasuk BBM yang tidak disubsidi Pemerintah sehingga dapat mengikuti harga pasar.

Dari empat jenis BBM nonsubsidi, memang baru tiga jenis BBM yang harganya sudah disesuaikan, yaitu Pertamax Turbo, Pertamina dex, dan Dexlite, dimana volume penjualannya hanya 3 persen saja.

Sedangkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax, yang volumenya sekitar 12 persen, saat ini dijual Rp 9.000 per liter. Harga tersebut sudah bertahan sejak lebih dari dua tahun lalu.

Padahal, produk BBM sejenis Pertamax dengan kadar oktan (RON) 92 dari perusahaan lain dijual sekitar Rp 11.900-Rp 12.990 per liter.

Kepala Ekonomi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David E Sumual, mengatakan untuk menyesuaikan harga Pertamax, bisa membandingkan dengan pesaing Pertamina.

Baca juga : Agar Subsidi Tepat Sasaran Harga Pertamax Harus Dinaikkan

Misalnya produk BBM RON 92, pesaing Pertamina sudah mirip dengan harga market. “Pertamax dan Pertalite kan tidak dalam posisi harga minyak sekarang,” ujarnya, Kamis (17/3/2022).

Menurut David perbedaan harga Pertamax - Pertalite dengan harga market sekitar 20-40 dolar AS per barel, bergantung pada pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS, yakni saat ini antara Rp 14.200-Rp 14.400 per dolar AS.

Harga Pertamax-Pertalite memang wajar untuk dinaikkan, apalagi produk sejenis dari perusahaan lain sudah dinaikkan,” katanya.

Namun, Pemerintah melalui Pertamina sudah memutuskan bahwa harga Pertalite masih tetap dipertahankan stabil. Selain Pertalite, harga Solar Subsidi tidak berubah.

Saat ini, 83 persen dari volume BBM yang dijual Pertamina adalah BBM yang disubsidi negara. Sebagaimana barang subsidi pada umumnya, BBM subsidi diperuntukan bagi masyarakat yang kurang mampu, transportasi umum, dan usaha kecil.

Menurut David, volume Pertalite saat ini sudah paling tinggi. Dengan mobilitas masyarakat yang semakin baik, konsumsi Pertalite juga akan terus meningkat.

Baca juga : Dukung Pemulihan Pariwisata Bali, IMA Gelar Diskusi Publik

Dengan volume yang semakin naik, beban yang harus ditanggung Pertamina juga akan semakin besar.

Apalagi tanpa ada kenaikan harga Pertamax yang tidak disubsidi karena dikonsumsi masyarakat mampu.

“Sekali lagi, ini bergantung pada kursnya di berapa, harga minyak global kira-kira berapa? Sedangkan badan usaha lain sudah mengikuti dua variabel utama ini,” katanya.

David mengasumsikan baseline skenario harga minyak sekitar 130-an dolar per barel paling tinggi dan bertahan di level tersebut hingga akhir tahun.

Sementara kurs rupiah terhadap dollar AS sekitar Rp 14.600-an. Beban tambahan yang ditanggung Pertamina bisa mencapai Rp 200-an triliun paling sedikit dalam setahun.

Kondisi ini akan bergerak terus seiring pergerakan kurs dan harga minyak global.

Baca juga : Direksi Kilang Pertamina International Dirombak, Taufik Aditiyawarman Jadi Dirut

“Pertamina memang butuh suntikan likuiditas dan mereka sudah kelihatan beberapa kesempatan menyampaikannya,” kata David.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Setyakti, mengatakan disrupsi global akibat pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina akan mempersulit posisi neraca energi Indonesia pada 2022.

Sistem stok energi Indonesia dapat terganggu, disebabkan eskalasi yang terjadi belakang ini, kesenjangan antara harga internasional dan domestik.

“Alangkah baiknya, harga domestik mendekati harga internasional, minimal 80-90 persen dari harga internasional . Ini untuk menjaga keseimbangan agar pasar domestik tetap terjaga dan menghidari kelangkaan supply karena BBM bisa diselundupkan ke luar negeri,” ujarnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.