Dewan Pers

Dark/Light Mode

Exit Strategy Usaha Rintisan

John Riady: Startup Solutif Yang Bakal Bertahan

Selasa, 16 Agustus 2022 06:16 WIB
Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady/Ist
Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak usaha rintisan berbasis teknologi digital terpaksa melakukan efisiensi untuk bertahan. Gejala ini diistilahkan sebagai tech winter.

Direktur Eksekutif Lippo Group yang juga Pendiri Venturra Capital John Riady menilai, situasi ini disebutnya sebagai badai, yang menghempas usaha rintisan di hampir semua lini.

“Bahkan, gelembung pecah usaha rintisan tidak saja terjadi di Indonesia, juga terjadi di pasar global,” kata John dalam rilisnya, kemarin.

Menurut John, kondisi indikator makro ekonomi yang masih melemah hingga goncangan geopolitik akibat ketegangan di Eropa dan Asia Timur, menggoyahkan fondasi usaha rintisan. Pasalnya, usaha rintisan masih sangat membutuhkan likuiditas tebal sebagai kapital, serta stabilitas pasar.

Di tengah dinamika tersebut, tren usaha rintisan melantai di bursa pun semakin marak sebagai jalan keluar dari krisis pendanaan.

Tren serupa juga tengah melanda bursa di Indonesia. Berbagai usaha rintisan berbasis teknologi informasi melakukan Initial Public Offering (IPO).

Berita Terkait : Banyak Usaha Rintisan Gugur, John Riady: Startup Harus Punya Prinsip Solutif

Exit strategy usaha rintisan meretas, jalan IPO pun menjadi mulus seiring regulasi yang memungkinkan startup menjaring dana. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menggelar karpet merah bagi usaha rintisan melangsungkan IPO,” jelas John.

Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan papan pencatatan baru yang didedikasikan bagi barisannew economy. Harapannya, dengan strategi tersebut, gairah pasar tetap terjaga bagi usaha rintisan setara dengan papan utama.

Sebelumnya, OJK telah mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 22/POJK.04/2021 terkait Multiple Voting Shares (MVS), yang membuka jalan perusahaan rintisan masuk ke pasar modal. 

MVS yang berlaku dalam jangka waktu tertentu itu diharapkan memproteksi visi dan strategi inovasi usaha rintisan yang digagas para pendiri, meski startup telah dimiliki publik.

Menurut John, langkah otoritas, baik bursa maupun OJK saling melengkapi. Pasar akan tetap bergairah, usaha rintisan pun semakin percaya diri untuk melantai karena tidak kehilangan kendali inovasi.

Persoalannya, walau banyak dilakukan usaha rintisan di luar negeri, IPO hanya salah satu cara untuk menopang pendanaan. IPO masih menyisakan problem mendasar, yakni saham startup harus bertarung dengan ekspektasi publik serta likuiditas pasar.

Berita Terkait : Saatnya Hentikan Korupsi Di Daerah

Persoalan fundamental lainnya, seberapa besar impact inovasi yang terus diciptakan oleh startup tersebut.

Berkaca pada indeks S&P 500 Information Technology Sector Outperform, selama 2014-2021, saham perusahaan teknologi mengantongi kenaikan mencapai 422 persen (22,9 persen per tahun). Torehan itu lebih tinggi dibandingkan indeks S&P 500 yang naik 158 persen (12,6 persen per tahun).

Kendati demikian, reli saham teknologi mulai memudar sejak akhir 2021 hingga sepanjang tahun berjalan 2022. Kini, kesenjangan kinerja saham teknologi dengan penghuni indeks S&P 500 semakin melebar.

Hal serupa, kata John, juga terjadi di dalam negeri. Dari IPO beberapa perusahaan teknologi dengan status unicorn, malah menghadapi koreksi pasar yang cukup dalam.

“Kenyataan itu tak dapat dihindarkan. Yang terpenting, usaha rintisan tetap memiliki prospek dan inovasi yang menjanjikan serta memberikan solusi,” tutur John.

John mengungkapkan, sebagai investor startup melalui Venturra Capital, hal terpenting dari usaha rintisan adalah valuasi serta forecast future.

Berita Terkait : Bos Khilafatul Muslimin Resmi Sandang Status Tersangka Penyebaran Berita Bohong

Sebagaimana dilakukan Lippo Group dalam upaya mengembangkan berbagai usaha rintisan. Prinsip mendasar, yakni mencari dan menyeleksi mitra, yakni  para founder serta startup yang mempunyai visi menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Selama startup menawarkan solusi kepada masyarakat dan mengembangkan inovasi yang selalu relevan, tentu akan memiliki prospek cerah. Usaha rintisan seperti itu sudah bisa digambarkan melalui visi para founder-nya,” kata John.

Untuk itu, John bersama Venturra Capital telah lama menerapkan empat pilar investasi, meliputi seed funding, investasi pre-IPO, kemitraan hingga kolaborasi.

Dari strategi investasi itu, Lippo Group pun telah melahirkan berbagai usaha rintisan seperti Ruangguru, OVO, Sociola bahkan unicorn Grab.

“Jadi, IPO perusahaan rintisan harus selalu didukung, karena digitalisasi ini keniscayaan. Terlebih lagi, memiliki prospek cerah karena kekuatan solusi untuk masyarakat,” kata John. ■