Dark/Light Mode

Dana Hibah Dari PGII Dorong Transisi Energi

Kamis, 17 November 2022 08:40 WIB
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal/Ist
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) memiliki komitmen selama lima tahun ke depan akan menginvestasikan 600 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman dan hibah. Dana itu untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang. 

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, Indonesia bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk mendorong dan mempercepat transisi energi.

"Kalau ini yang dimaksudkan untuk membangun infrastruktur berkelanjutan, saya harapkan juga berkaitan dengan infrastruktur yang arahnya mendorong transformasi ke yang lebih hijau. Dari sisi energi, misalnya," kata Faisal di Jakarta, Rabu (16/11).

Faisal beralasan, sektor energi hijau atau berkelanjutan membutuhkan biaya yang sangat besar. Sedangkan Indonesia punya beragam sumber daya untuk energi hijau yang belum tergarap karena masalah pendanaan.

"Kalau kita bicara infrastruktur energi terutama yang lebih hijau, problemnya selama ini dari pembiayaan atau kebutuhan investasinya besar. Memang dibutuhkan tambahan investasi besar untuk Indonesia yang punya potensi energi hijau luas," jelasnya.

Kendati energi hijau membutuhkan dana besar sebagai investasi awal, pasar dan konsumen energi tersebut juga cukup besar. Ketika infrastruktur energi berkelanjutan sudah terbentuk, maka ongkos operasional akan jadi lebih murah.

"Pasarnya juga besar. Tapi butuh dana awal yang tinggi. Karena kalau sudah ada infrastrukturnya, ongkos operasional lebih murah untuk pengunaan energi yang lebih hijau. Misalnya solar panel, dibanding dengan yang konvensional, yang fossil fuel," ungkapnya.

Baca juga : Jana Kramer, Di-Ghosting Chris Evans

Oleh sebab itu, Faisal mendorong agar pemerintah bisa mengikat komitmen tersebut. Diharapkan, bisa menjembatani kebutuhan tersebut. 

“Kalau memang ada komitmen ya perlu diikat, karena memang dari sisi kebutuhan investasi infrastruktur berkelanjutan, itu memang besar," katanya.

Di sela-sela Pertemuan Tingkat Tinggi Presidensi G20, telah diadakan pertemuan Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII), Selasa (15/11) di Bali. 

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertindak sebagai moderator bagi para pemimpin dunia tersebut. 

Pada sesi akhir kegiatan, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menutup pertemuan PGII tersebut. PGII merupakan upaya kolaboratif oleh anggota G7 (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Prancis) yang diluncurkan pertama kali pada Juni 2021 pada KTT G7 ke-47 di Inggris.

Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Segara Institute, Pieter Abdullah. Menurutnya, komitmen pendanaan PGII senilai 600 miliar dolar AS, diharapkan bisa mempercepat proses transisi energi di indonesia. 

Proyek energi baru terbarukan (EBT) yang terbengkalai maupun yang tengah berjalan, mendapatkan pendanaan cukup. 

Baca juga : Bank Dunia Dukung Transisi Energi Di Indonesia

“Dengan adanya dana bantuan itu bisa mengejar, melakukan percepatan, shifting dari sumber energi dengan emisi karbon tinggi dengan sumber energi yang emisi karbonnya rendah. Kita bisa kejar target Net Zero Emission (NZE),“ ungkap Pieter.

SDA Melimpah

Piter mengatakan, sumber daya alam (SDA)  begitu melimpah, dan bisa menjadi sumber EBT. Salah satu yang pernah dikaji adalah Energi laut. 

Dalam tulisan yang dibuat oleh Kementerian ESDM, energi laut yang dihasilkan dari gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut (samudera) merupakan sumber energi di perairan laut yang berupa energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut, dan energi perbedaan suhu lapisan laut.

“Kita tidak hanya garis pantai yang panjang, tetapi arus laut. Kondisi yang unik di dunia tidak banyak memiliki potensi itu. Indonesia salah satu yang memilikinya,” jelas Pieter. 

Pernah ada kajian tentang potensi arus laut sebagai energi pembangkit listrik di selat Larantuka, Flores Timur, NTT. 

“Dengan ada banyak bantuan pendanaan, maka proyek yang belum diselesaikan, dipercepat dan mempercepat transfer energi,” kata Piter. 

Baca juga : Mendorong Daerah Wujudkan Kemandirian Energi Bersih

Komitmen pendanaan PGII ini diteken pada gelaran KTT G20. Ini catatan lanjutan keberhasilan presidensi Indonesia. Terlepas dari isi komunike, dunia mengakui kepemimpinan Indonesia sudah berhasil dan menghasilkan sesuatu yang nyata, terutama bagi negara berkembang.

Piter mengapresiasi kerja keras pemerintah dalam mensukseskan gelaran G20. 

“Indonesia sejak awal ingin menciptakan sesuatu yang nyata dari forum G20, itu dilaksanakan secara serius, dengan mimpi dalam G20 ada banyak sekali forum, dan diarahkan pada bentuk bentuk yang nyata,” ungkap Piter. 

Dengan kesungguhan Pemerintah Indonesia menjalankan presidensinya, menjadi tugas berat bagi India, yang merupakan presidensi G20 berikutnya, untuk membuat gelaran yang sepadan.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Live KPU