Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pertemuan B20 Dan G20 Pacu Konektivitas Rantai Pasok Global
Selasa, 22 November 2022 17:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rangkaian pertemuan B20 dalam rangka Presidensi G20 Indonesia membuat Indonesia ketiban berkah. Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengungkapkan, pelaksanaan G20 dan B20 Indonesia menarik banyak investasi ke Indonesia, termasuk di sektor logistik dalam pengembangan rantai pasok/supply chain global.
Untuk terus memastikan konektivitas rantai pasok global, kata Yukki, di G20 bahkan memperkenalkan concrete deliverables atau daftar proposal proyek, program atau inisiatif nyata sebagai pendekatan baru untuk mencapai tujuan tersebut.
Menurutnya, soal mata rantai pasok atau supply chain global menjadi pembicaraan di ajang G20 dan B20. Apalagi, Indonesia berhasil menunjukkan kepada dunia keberhasilan menjaga surplus neraca dagang dalam kurun waktu 22 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 di tengah penyebaran Covid-19.
"Keberhasilan ini tentu semakin membuka peluang untuk menarik investor dunia menanamkan modalnya di Indonesia, terutama di sektor logistik yang pulih lebih cepat dibandingkan sektor lain," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/11).
Yukki menegaskan, industri logistik adalah yang paling awal terdampak pandemi tapi juga yang paling cepat recovery. Namun, sektor logistik dan transportasi Indonesia termasuk dalam mata rantai pasok global sehingga pemulihannya memerlukan kolaborasi untuk dapat berhasil.
Baca juga : Mahfud: Gitu Aja Kok Jadi Pertanyaan...
Misalnya, dengan dengan kolaborasi bersama perusahaan informasi teknologi (IT) yang menopang industri logistik.
Yukki yang juga menjabat Chairman Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) itu menambahkan, selain menyangkut IT, kolaborasi juga bisa dilakukan bisa dengan memanfaatkan fasilitas logistik yang belum dioperasikan secara optimal supaya produk nasional mampu berdaya saing global.
Yukki melihat Pemerintah terus memperbaiki masalah logistik dan rantai pasokan nasional agar menjadi efektif dan efisien dengan menempuh empat cara.
Pertama, dengan memprioritaskan bangunan infrastruktur dalam proyek strategis nasional mulai dari jalan, rel kereta api pelabuhan serta bandar udara untuk menjamin akses pasokan nasional terus terhubung.
Kedua, Indonesia terus mengembangkan kawasan ekonomi khusus untuk meningkatkan konektivitas antar pemangku kepentingan logistik.
Baca juga : Petemuan Anies-Gibran Bawa Pesan Keakraban
Ketiga, pengembangan sistem digital yang terintegrasi dengan platform ekonomi logistik nasional, meliputi lalu lintas barang dan dokumen hingga daftar pelanggan.
Keempat, Indonesia sejauh ini telah mendorong peningkatan logistik dengan e-commerce dan inisiasi dari perusahaan start up untuk dapat berkolaborasi menjangkau logistik market place.
Selain logistik, Yukki juga melihat perlunya kolaborasi dan sinergi antara Pemerintah, swasta, dan pelaku UMKM agar UMKM bisa naik kelas dengan bantuan permodalan, pendampingan usaha hingga akses pasar.
Yukki mengatakan, saat ini dunia tengah menghadapi berbagai tantangan mulai dari transisi energi, serta ancaman berbagai krisis seperti ekonomi, pangan, kesehatan, hingga persoalan lainnya.
"Oleh karena itu, kita terus mendorong model pengembangan UMKM di Indonesia yang agar semakin kuat dan meluas pada tataran global," ujar Yukki.
Baca juga : Meriahkan Side Event G20 di Bali, UMKM Binaan Pertamina Bidik Pasar Global
Seperti diketahui, Presidensi G20 berhasil menghasilkan deklarasi bersama yang dinamai G20 Bali Leaders’ Declaration. KTT G20 juga menghasilkan sejumlah capaian konkret.
Capaian tersebut, antara lain terbentuknya pandemic fund yang sampai hari ini mencapai 1,5 miliar dolar AS. Capaian lainnya adalah pembentukan dan operasionalisasi resilience and sustainability trust (RST) di bawah IMF sejumlah 81,6 miliar dolar AS untuk membantu negara-negara yang menghadapi krisis.
Capaian lain terkait energy transition mechanism di mana Indonesia memperoleh komitmen dari just energy transition partnership (JETP) sebesar 20 miliar dolar AS. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya