Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, Indonesia bisa saja mendikte harga sawit internasional. Terlebih, setengah dari pasokan sawit dunia berasal dari Indonesia.
Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Dwi Sutoro, mengungkapkan Indonesia memiliki kekuatan besar untuk bisa mengatur industri kelapa sawit global.
Dwi menilai, hal tersebut bukan sekadar angan-angan semata, mengingat industri sawit nasional, telah sukses membawa Indonesia menjadi pemain utama dunia, terutama dalam produksi minyak sawit mentah (CPO).
Baca juga : Top! Slipknot Pilih Konser Di Indonesia Ketimbang Singapura
Saat ini, kontribusi Indonesia sekitar 55 persen terhadap minyak sawit dunia, dan 42 persen minyak nabati dunia.
"Kalau kita dua minggu saja tidak ekspor, itu kan banyak yang teriak-teriak. Artinya, itu kekuatan yang luar bisa. Kita harus mendikte dunia," ujar Dwi, jelang Musyawarah Nasional (Munas) XI Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Bali, Rabu (8/3).
Indonesia sebagai industri sawit terbesar harus menjadi barometer bisnis komoditas tersebut. Indonesia harus bisa berdaulat dalam mengelola perkebunan sawitnya sendiri. Tentunya, dengan roadmap yang jelas.
Baca juga : Masjid Kebanggaan Indonesia Berdiri Megah Di Osaka
"Mulai dari cara melakukannya, penentuan teknologi di hulu, bagaimana menggunakan robotik sistem, pemupukan yang benar, dan bagaimana benih yang unggul, itu harusnya di Indonesia. Kita harus punya roadmap yang luar biasa," cetus Dwi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menilai, perlu dorongan besar dari berbagai pihak, baik Pemerintah, organisasi, maupun para petani, untuk memaksimalkan perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Karena menurutnya, pengelolaan industri kelapa sawit, tidak hanya di hulu, tapi juga harus di hilirnya. Di satu sisi partner bisnis harus memberikan advice yang dapat memperkuat produktivitas dan strategi dalam pengembangan bisnis sawit.
Baca juga : Tim Para-Atletik Indonesia Raih 5 Emas Di Dubai
"Kenapa demikian, karena ini kita sudah berbicara pada rantai pasok. Jika hilirnya bermasalah atau lagi terkena masalah, pasti di hulunya juga akan kena dampaknya," terang Dwi.
Saat ini, ekspor CPO Indonesia sudah semakin minim, karena sebagian besar sudah dalam bentuk produk turunan.
"Itu adalah pergerakan yang bagus. Dan kami ingin menunjukkan bahwa dengan berbagai perbaikan yang ada, PTPN solid," imbuh Dwi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya