Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - PT Krakatau Steel (KS) berencana mengakuisisi tiga perusahaan baja. Perusahaan baja pelat merah itu tidak sendiri. Rencananya KS akan menggandeng BUMN karya.
DIREKTUR Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, akuisisi dilakukan terhadap dua sampai tiga perusahaan baja nasional yang akan berhenti beroperasi. Proses akuisisi dimulai pada kuartal II dan kuartal III tahun ini.
Silmy menegaskan, tujuan akuisisi sendiri adalah untuk mendapat kapasitas produksi hingga 1 juta ton. Sekaligus mendukung program pemerintah memenuhi produksi 10 juta ton di kluster industri baja Cilegon.
Emiten berkode KRAS ini telah melakukan proses uji coba produksi di pabrik perusahaan yang akan diakuisisi. Aksi korporasi ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kinerja dengan pola anorganik.
Baca juga : KS Incar Proyek BUMN
Silmy menyebut, nantinya ada dua BUMN Karya yang bekerja sama. Sistemnya partner, tapi Krakatau Steel mayoritas. “Belum boleh ngomong dengan siapa, karena mereka Tbk (perusahaan terbuka) juga. Yang konkret satu, satu lagi sedang bicara tapi beda sasaran, yang kita pelajari ada beberapa,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, kemarin.
Menurut dia, perseroan juga tengah membangun fasilitas untuk lini Picking and Tandem Cold Mill senilai 200 juta dolar AS yang dimulai tahun ini dan ditargetkan bisa beroperasi 2021. Fasilitas tersebut diperkirakan mampu memproduksi Cold Rolled Coil dengan kapasitas 800 ribu ton per tahun.
Untuk memuluskan rencana tersebut, Silmy akan menggandeng mitra yang akan menjadi usaha patungan atau Joint Venture (JV). Perseroan pun dikabarkan tengah melakukan negosiasi dengan POSCO Korea dan Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation.
Silmy menyebut nantinya baru diputuskan apakah perseroan akan membentuk JV dengan salah satu mitra atau keduanya. “Kami sedang negosiasi dengan dua-duanya dan Februari akan ada meeting dengan Nippon Steel dan POSCO,” katanya.
Baca juga : Kemenkes Segera Dirikan Tenda Reproduksi Bagi Korban Tsunami
Di sisi lain, saat ini progres pembangunan Hot Strip Mill #2 sudah mencapai 90,23 persen per November 2018. Proyek pemasok baja hot rolled coil tersebut memiliki kapasitas 1,5 juta ton dan ditargetkan rampung pada April 2019.
Selanjutnya, KRAS juga tengah melakukan pembangunan dermaga 7.1 dan 7.2 yang akan dioperasikan Krakatau Bandar Samudera. Progres telah mencapai 68,53 persen sampai dengan November 2018 dan ditargetkan rampung Mei 2019.
Restrukturisasi Utang Silmy mengatakan, perseroan masih fokus melakukan restrukturisasi keuangannya. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan investor hingga perbankan.
Pada kuartal III-2018, kerugian Krakatau Steel mencapai 37,78 juta dolar AS. Namun, jumlah ini lebih baik karena jumlah kerugiannya bisa ditekan sampai 51,18 persen dibanding kuartal III-2017 sebesar 75,05 juta dolar AS.
Terkait volume penjualan 2018, kata dia, per Januari-September mencapai 1.595.260 ton. Jumlah tersebut naik 14,24 persen dibanding periode yang sama sebelumnya sebesar 1.396.422 ton.
Baca juga : Makna Perusakan Baliho Partai Demokrat
Sepanjang 2018, tren penjualan Hot Rolled-Coil (HRC) di 2018 meningkat sejak Maret yang mencapai 120.843 ton, Oktober sebanyak 127.005 ton, dan puncaknya pada November sebesar 189.702 ton. “Tren positif ini diikuti oleh kenaikan harga jual produk baja sebesar 11 persen. Dari sisi kinerja keuangan juga mengalami kenaikan pendapatan sebesar 22,71 persen. Laba dan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas produk meningkat sebesar 50,19 persen,” katanya.
Soal efisiensi, perseroan melakukan sejumlah perbaikan kinerja operasional di Hot Strip Mill. Hal itu terkait dengan peningkatan produktivitas pabrik, serta penghematan konsumsi energi, dan bahan consumables seperti konsumsi gas, listrik, dan work roll. Dengan total penghematan mencapai Rp 593 miliar hingga November 2018.
“Selama Januari-September 2018, Krakatau Steel memiliki pangsa pasar Hot Rolled Coil sebanyak 40 persen, Cold Rolled Coil 24 persen, dan Wire Rod 7 persen. Sementara, sisanya adalah pangsa produsen domestik lain dan impor,” tukas Silmy. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya