Dark/Light Mode

Biocorn: Solusi Reduksi Polusi dengan Pemanfaatan Limbah Jagung sebagai Biomassa

Selasa, 9 April 2024 13:36 WIB
Pengaplikasian biocorn pada infrastruktur transportasi pertanian jagung. (Gambar: Dok. Pribadi)
Pengaplikasian biocorn pada infrastruktur transportasi pertanian jagung. (Gambar: Dok. Pribadi)

Dalam kehidupan, terdapat sinergi yang ditopang oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk berkolaborasi demi mencukupi kebutuhan yang diperlukan. Salah satu sumber daya yang sangat penting dalam kolaborasi ini adalah sumber energi sebagai daya untuk melakukan aktivitas atau penggerak roda kehidupan manusia. Salah satu sumber energi yang masih menjadi pilihan mayoritas adalah sumber energi fosil. Namun jenis energi ini membutuhkan sumber energi alternatif dalam keberlanjutan penggunaannya. Alasan mengapa perlu ditemukan alternatif lain merujuk pada perkiraan Badan Pusat Statistik, (2023) yang menyatakan minyak bumi Indonesia hanya bisa diekstraksi 18 tahun lagi, sedangkan gas bumi 29 tahun, kemudian batu bara 62 tahun. Efek negatif sumber energi fosil juga perlu direduksi karena menimbulkan persoalan serius pada lingkungan. Efek ini berkaitan dengan emisi gas rumah kaca terutama CO2 atau karbon dioksida sebagai penyebab terjadinya pemanasan global (Haryanto, 2014). Reduksi emisi gas rumah kaca untuk menghindari potensi dampak bencana perubahan iklim (Qin et al., 2022),

Green Energy Sebagai Alternatif Solusi beserta Kelemahannya

Sebagai solusi, salah satu alternatif energi yang menjadi pertimbangan adalah green energy. Menurut definisi, green energy atau energi hijau merupakan sumber energi yang dihasilkan menggunakan bahan terbarukan, juga memanfaatkan elemen alam sekitar yang tidak memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Isu green energy ini telah menjadi perhatian dunia dan telah diadaptasi pada KTT Perubahan Iklim PBB yang berlangsung tahun 2019. Pada pertemuan ini, banyak negara menetapkan emisi CO2 nol bersih pada tahun 2050 sebagai tujuan utama (Mohideen et al., 2021).

Selain fungsinya sebagai alternatif sumber energi fosil, nyatanya green energy memiliki beragam kelebihan yang dinilai sayang untuk diabaikan. Kelebihan yang pertama terkait ketersediannya yang tidak mengalami kepunahan dan dapat diperbaharui kembali, sehingga hal ini akan menekan kekhawatiran terkait jangka waktu penggunaan sumber energi yang singkat. Kelebihan kedua adalah peningkatan kesehatan makhluk hidup dan lingkungan akibat berkurangnya polusi pencemaran udara, polutan pada tanah, pencemaran aliran air, radiasi dan sebagainya. Kelebihan ketiga adalah pemanfaatan sumber daya yang terdapat di alam menjadi sesuatu yang potensial. 

Baca juga : Kolaborasi Dettol dan Alfamart Kampanyekan Tambah Kebaikan di Bulan Ramadan

Namun tentunya keberadaan green energy ini juga memiliki kekurangan dalam penerapannya. Kekurangan yang utama adalah penyediaan biaya awal atau investasi yang membutuhkan dana besar, serta sumber energi terbarukan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor cuaca. Untuk menjawab kekurangan ini, diberikan sebuah solusi terkait pembuatan green energy yang bersumber dari limbah pertanian. Pemanfaatan ini sekaligus menjawab masalah investasi karena bahan baku energi yang digunakan umumnya minim pemanfaatan serta masalah sumber energi bergantung pada cuaca yang tidak mempengaruhi keberadaan limbah. Bioetanol maupun biogas dari biomassa menjadi salah satu pilihan karena fungsinya dapat menggantikan bahan bakar fosil yang menyumbang polusi (Parinduri & Parinduri, 2020).

Pilihan Biocorn atau Biomassa Limbah Jagung Ramah Lingkungan

Bioetanol sendiri merupakan produk etanol yang dihasilkan dari bahan baku nabati dan biomassa lainnya yang diproses secara bioteknologi. Bahan baku limbah yang akan digunakan adalah tongkol dan jerami jagung, atau disebut Biocorn yang terdiri dari bioetanol dan biogas. Alasan pemilihan ini berdasarkan produksi global jagung yang telah memiliki peningkatan sekitar 40% pada beberapa dekade terakhir (Statista, 2018). Produksi dengan kapasitas besar ini menyebabkan sisa tanaman mencakup 50% hasil bahan kering jagung utuh, terbuang tanpa pemanfaatan yang maksimal. Sehingga dibutuhkan adanya pemanfaatan lain agar limbah tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

Pemanfaatan pertama adalah jerami jagung sebagai biogas. Tahap pembuatannya melibatkan analisis bahan kering dan komponen volatil. Limbah jerami yang telah dianalisis kemudian melewati uji fermentasi dalam fermentor khusus dengan campuran inokulum pada kondisi anaerob. Hasil dari fermentasi berupa gas metana yang sangat dibutuhkan sebagai komponen biogas. Pengukuran produksi biogas dari fermentasi ini dilakukan setiap 24 jam dengan menghubungkan reservoir gas. Analisa diakhiri dengan tercapainya produktivitas metana yang mencapai 201–207 m3/Mg massa segar (Mazurkiewicz et al., 2019).

Baca juga : Pemerintah Jor-joran Jinakkan Harga Beras

Pemanfaatan kedua terdapat pada bagian tongkol jagung yang dapat dikonversi menjadi bioetanol. Konversi diawali oleh tahap delignifikasi yang bertujuan untuk memudahkan pelepasan hemiselulosa dan mengurangi kandungan lignin pada tongkol jagung. Delignifikasi dijabarkan dalam beberapa tahapan, yaitu pengecilan ukuran, perendaman dalam NaOCl 1 % (b/v), pembilasan, penyaringan, serta pengeringan. Tahap berikutnya adalah hidrolisis untuk memisahkan filtrat dan residu tongkol jagung, dilanjutkan fermentasi dengan khamir Saccharomyces cerevisiae dalam inkubator selama waktu yang telah ditentukan. Filtrat hasil fermentasi kemudian dimasukkan kedalam labu leher tiga untuk didestilasi dan didapatkan kadar bioetanol (Iyabu & Isa, 2019).

Aplikasi pada Infrastruktur Pertanian terhadap Segi Keberlanjutan

Pemrosesan Biocorn dari limbah jagung ini kedepannya akan diterapkan dalam skala kecil terlebih dahulu untuk menilai keefektifannya. Lingkup penerapannya meliputi pertanian jagung itu sendiri sebagai pemanfaatan kembali. Infrastruktur pertanian yang menjadi sasaran adalah penggantian bahan bakar fosil alat transportasi pertanian jagung dengan Biocorn, seperti traktor untuk penggemburan lahan, kendaraan untuk pendistribusian, dan sarana perluasan pemasaran.

Menurut Richie, (2020) telah dibuktikan bahwa biomassa menjadi energi yang lebih aman daripada energi minyak dilansir dari tingkat kematian akibat proses produksi dan polusi udara dengan tingkat 18,4 kematian dibandingkan 4,6 kematian dari total konsumen 150.000 orang di European Union. Kemudian masih dengan sumber yang sama, biomassa juga lebih unggul dengan emisi gas rumah kaca utamanya karbon monoksida lebih sedikit sekitar 78 – 230 ton dibandingkan emisi akibat energi minyak yaitu 720 ton, Sehingga disimpulkan bahwa energi biomassa lebih bersih bagi lingkungan daripada energi minyak. 

Baca juga : Rinni Wulandari, Ogah Posting Kegiatan Tiap Hari Di Medsos

Untuk permasalahan besarnya dana investasi akibat proses produksi, pertanian jagung dapat menjual kembali hasil Biocorn dalam bentuk bioetanol dan biogas ini pada khalayak atau perusahaan tertentu yang sekiranya membutuhkan energi bersih dalam aktivitas produksinya. Pertanian jagung juga dapat berpartisipasi dalam program emisi CO2 nol bersih yang sudah disinggung sebelumnya, bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk menyalurkan produksi dari limbah pertanian tersebut dan mengedukasikannya pada masyarakat dalam rangka penggunaan green energy yang lebih aman dan ramah lingkungan. Pengaplikasian Biocorn pada infrastruktur transportasi pertanian jagung diperlihatkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. Pengaplikasian Biocorn pada Infrastruktur Transportasi Pertanian Jagung

Penutup

Subtitusi Biocorn berbahan dasar limbah jagung pada infrastruktur transportasi pertanian jagung ini diharapkan dapat menjawab permasalahan mengenai keterbatasan energi fosil serta memenuhi poin SDG atau Sustainable Development Goals pada poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta poin ke-9 tentang pembangunan industri, inovasi, dan infrastruktur. Biomassa yang dihasilkan dari limbah jagung dapat menjadi potensi energi yang dapat diandalkan dan berkelanjutan untuk diterapkan dalam masyarakat lewat pemasaran secara bertahap dan kerjasama dengan pemerintah. Kemudian dengan adanya Biocorn sebagai sumber energi inovatif ini, diharapkan subtitusinya pada infrastruktur mengalami perbaikan sekaligus menjadi wadah pengolahan kembali limbah yang umumnya terbuang setelah proses produksi

Annida Lathifah Ramadhani
Annida Lathifah Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan, tertarik pada beragam bidang penelitian lingkungan dan pemanfaatan pangan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.