Dark/Light Mode

PLTPL: Sumber Energi Bersih Masa Depan IKN Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Minggu, 14 April 2024 21:03 WIB
Pembangunan IKN (Foto: Setpres)
Pembangunan IKN (Foto: Setpres)

Dalam laporan yang dirilis Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Glasgow tahun 2021, disebutkan bahwa suhu bumi meningkat sangat signifikan dalam lima dekade terakhir, terutama karena faktor manusia (antropogenik). Peningkatan suhu bumi juga disertai dengan peningkatan emisi gas karbon dioksida (CO2) yang merupakan faktor pendorong utama dibalik meningkatnya ancaman pemanasan global. Menurut Copernicus Uni Eropa (C3S) konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai 414,3 ppm pada tahun 2021, naik sekitar 2,4 ppm dari tahun 2020. Jika tren kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer terus berlanjut, ancaman perubahan iklim akan menjadi lebih menakutkan di masa depan. 

Sebagai upaya preventif untuk menanggulangi dampak perubahan iklim, Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen untuk mencapai dan mengelola berbagai indikator pembangunan berkelanjutan menuju net zero carbon dan 100 persen energi bersih di tahun 2060 (Agustina, 2024).

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang bersumber dari laut dengan potensi daya listrik yang dihasilkan mencapai 240 GW. Sebagai upaya untuk mengelola besarnya potensi tersebut adalah dengan membangun sistem konversi energi panas laut atau dikenal sebagai PLTPL (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Laut). PLTPL bekerja seperti mesin kalor dengan memanfaatkan perbedaan suhu permukaan laut dan suhu pada kedalaman tertentu kemudian dikonversi menjadi energi listrik. 

Berbagai penelitian mengenai potensi energi panas laut di Indonesia terus dilakukan diantaranya oleh Aprilia dkk (2019), Andayani dkk (2020), Hammad dkk (2020), Julianto (2020), dan berbagai penelitian di dalamnya. Termotivasi dari berbagai penelitian terdahulu, dalam penelitian ini akan dianalisis potensi energi panas laut di wilayah perairan Kalimantan Timur. 

Secara geografis, IKN berada dekat dengan garis khatulistiwa sehingga wilayah perairan IKN berpotensi mendapatkan intensitas penyinaran matahari yang cukup besar dan memiliki potensi energi panas laut yang cukup tinggi. Akan tetapi, tingginya potensi energi tersebut, belum banyak dikaji dan dimanfaatkan secara optimal. Dengan adanya PLTPL diharapkan dapat menjadi inovasi sumber energi bersih bagi Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa mendatang.

Dalam tulisan ini digunakan data sekunder berupa suhu permukaan laut dan suhu pada kedalaman 450 meter yang didapatkan dari WOA (World Ocean Atlas) 2018. Pengambilan data dilakukan pada stasiun 22085 yang terletak di perairan Kalimantan Timur dengan koordinat 118,5°E/0,5°S. Data penelitian kemudian diolah menggunakan aplikasi ODV (Ocean Data View).

Baca juga : Tebar Energi Kebersamaan, PHE Salurkan Bantuan Rp 4 Miliar

Pembahasan meliputi analisis praimplementasi, implementasi, dan pascaimplementasi. Pada analisis praimplementasi, dikaji karakteristik suhu permukaan laut (SPL) dan efisiensi PLTPL. Nilai SPL tertinggi dicapai pada musim timur dan musim peralihan II, tepatnya pada bulan Oktober yaitu sebesar 29,42°C. Sedangkan nilai SPL terendah dicapai pada musim barat dan musim peralihan I, tepatnya pada bulan Februari yaitu sebesar 28,26°C. Tingginya suhu permukaan laut pada musim timur dan musim peralihan II disebabkan oleh posisi matahari yang bergerak mendekati wilayah ekuator sehingga radiasi matahari yang diterima oleh perairan laut Kalimantan Timur akan lebih besar bila dibandingkan dengan musim barat dan musim peralihan I.

Pada analisis implementasi, dikaji mekanisme pembangkitan energi listrik oleh PLTPL. PLTPL bekerja seperti mesin panas dengan memanfaatkan perbedaan suhu permukaan laut dan suhu pada kedalaman tertentu. Dalam penelitian ini dipilih kedalaman 450 meter untuk mendapatkan nilai perbedaan suhu optimal yang lebih dari 20°C sebagai syarat pembangkitan energi listrik oleh PLTPL. Nilai rata-rata tahunan SPL dan suhu pada kedalaman 450 meter di perairan laut Kalimantan Timur masing-masing adalah 29,05°C dan 8,05°C. Dengan demikian didapatkan nilai efisiensi rata-rata PLTPL sebesar 6,95%. Pembangkitan energi listrik dilakukan menggunakan sistem terbuka dengan air laut sebagai fluida kerja.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, PLTPL IKN mampu membangkitkan daya listrik sebesar 7.720 kW. Jika rata-rata konsumsi listrik rumah tangga sebesar 1000 watt, maka satu stasiun PLTPL dapat digunakan oleh 7.720 rumah tangga. Setelah melewati turbin, air laut hangat akan diteruskan menuju kondensor. Dalam kondensor, air laut hangat akan bertemu dengan air laut dingin sehingga mengalami proses kondensasi yang menghasilkan volume air bersih sebesar 22.601 liter/hari. Hasil air yang sudah terdesalinasi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai air minum, irigasi, serta keperluan pertanian. 

Berdasarkan perhitungan biaya, total biaya produksi PLTPL di perairan Kalimantan Timur adalah sebesar Rp526,29/kWh. Merujuk pada data statistik PLN tahun 2018-2022, biaya rata-rata produksi pembangkit listrik untuk PLTA adalah sebesar Rp432/kWh, PLTU berbasis batu bara adalah Rp705/kWh, PLTP adalah Rp975/kWh, PLTG adalah Rp1.611,79/kWh, PLTGU adalah Rp1.322,23/kWh, dan PLTD berbasis BBM adalah Rp4.746,32/kWh (Laoli, 2023). Dapat disimpulkan bahwa biaya produksi PLTPL jauh lebih murah dari banyak pembangkit listrik konvensional lainnya seperti PLTU, PLTP, PLTG, PLTGU, dan PLTD.

Pada tahap pascaimplementasi, dikaji dampak lingkungan dari pembangunan PLTPL. Berdasarkan analisis ekologi, didapatkan bahwa salah satu dampak negatif pembangunan PLTPL adalah pembuangan air laut yang kaya nutrisi dalam volume besar berpotensi menimbulkan fenomena ganggang mekar sehingga dapat menyebabkan kematian masal bagi ikan dan biota laut lainnya.

Kesimpulan

Baca juga : Telkom Gandeng Jepang Dorong Inovasi Pertanian Keberlanjutan

Sistem pembangkit listrik PLTPL di Perairan laut Kalimantan Timur memiliki nilai efisiensi 6,95% dan berpotensi menghasilkan daya listrik sebesar 7,72 MW yang dapat digunakan untuk 7.720 rumah tangga. Selain menghasilkan daya listrik, PLTPL juga menghasilkan air bersih sebanyak 22.601 liter/hari untuk 7,72 MW yang dihasilkan. Total biaya produksi PLTPL di perairan Kalimantan Timur adalah sebesar Rp526,29/kWh. Biaya ini jauh lebih murah dari banyak pembangkit listrik konvensional lainnya seperti PLTU, PLTP, PLTG, PLTGU, dan PLTD. Dengan demikian, PLTPL diharapkan dapat menjadi inovasi sumber energi bersih bagi Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa mendatang.

Daftar Pustaka

Agustina, C.D. 2024. Keberadaan Energi Baru Terbarukan di Ibu Kota Nusantara. URL: https://zonaebt.com/regulasi-energi/ [24 Maret 2024]

Andayani, N.K.S., dkk. 2020. Indonesian Journal of Oceanography. Vol.2, No.04. 

Aprilia, E., dkk. 2019. Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol. 6 No. 2. 

Hammad, F.K., dkk. 2020. Indonesian Journal of Oceanography, Vol.02, No.02.

Baca juga : Pj Gubernur Sumsel Bikin Gebrakan Tujuh Gerakan Serentak

Julianto, C. 2020. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”, Yogyakarta. 

Laoli, N. 2023. PLN Ungkap Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Listrik EBT Masih Mahal. URL: https://industri.kontan.co.id/news/ [24 Maret 2024]

World Ocean Atlas. 2018. URL: https://odv.awi.de/data/ocean/world-ocean-atlas-2018/

Zulfa Siti Zakia
Zulfa Siti Zakia
Mahasiswa Fisika, Universitas Jenderal Soedirman

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.