Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dilema Pembiayaan: Mencari Kombinasi Tepat untuk Membuka Potensi Hijau
Kamis, 18 April 2024 21:32 WIB
Pendahuluan
Indonesia, bagaikan permata berkilauan di garis khatulistiwa, diberkahi dengan kekayaan alam yang melimpah. Sebuah paradoks yang memesona dengan hutan hujan yang rimbun, pantai berpasir putih, dan gunung-gunung megah menjadi daya tarik yang tak tertahankan. Namun, kekayaan alam Indonesia yang melimpah tidak akan bertahan selamanya jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan batu bara sebesar 38,2 miliar ton. Namun, dengan laju penambangan saat ini dan tidak diregulasi dengan benar, cadangan tersebut diprediksi akan habis dalam 30-40 tahun.
Melihat data tersebut, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, masih tertinggal dalam hal diversifikasi energi. Saat ini, bauran energi Indonesia masih didominasi oleh batubara, dengan 70% pada tahun 2022, jauh memiliki target bauran energi nasional sebesar 23%. Pada tahun 2023, bauran batu bara dalam energi primer nasional mencapai 41%, minyak bumi 30%, gas bumi 16%, dan 13% dari energi baru terbarukan (terdiri dari PLTA, panas bumi, geothermal, bioenergi, dan PLTS).
Kondisi Terkini Investasi Energi Baru Terbarukan di Indonesia
Menyadari kebutuhan energi yang terus meningkat seiring berjalannya waktu, pemerintah Indonesia harus menyiapkan alternatif lain selain dari sumber energi tak terbarukan. Dengan itu, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk pengembangan energi baru terbarukan, yang bertujuan untuk meningkatkan secara signifikan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional. Hal ini merupakan komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Ambisi Indonesia di bidang energi baru terbarukan ada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2019-2038 dan Emisi Nol Bersih. RUEN 2019-2038 menguraikan target peningkatan kontribusi energi baru terbarukan terhadap bauran energi nasional menjadi 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2030. Indonesia juga telah berjanji untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060, yang semakin menekankan peran penting energi baru terbarukan dalam portofolio energi Indonesia. Kementerian ESDM mencatat, bauran energi baru terbarukan (EBT) terdapat peningkatan, tetapi tidak signifikan dan belum mendekati target 23% untuk tahun 2025.
Baca juga : Lebaran, Puan: Mari Perkuat Silaturahmi & Memutihkan Nurani
Dalam upaya peningkatan bauran nasional EBT, pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi seperti: pembangunan pembangkit EBT dengan target 10,6 GW pada 2025, implementasi program PLTS atap dengan target 3,6 GW pada 2025, konversi pembangkit diesel ke EBT, program mandatori B35 dengan target 13,9 juta kiloliter pada 2025, program co-firing biomassa pada PLTU dengan target 10,2 juta ton pada 2025, penyediaan akses EBT di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), mengurangi ketergantungan pada batu bara, melakukan reformasi terhadap harga energi, eksplorasi energi panas bumi, dan pemanfaatan EBT off-grid dan langsung. Salah satu inisiatif pemerintah dalam mendukung proyek energi baru terbarukan adalah Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) di bawah Just Energy Transition Partnership (JETP).
JETP bertujuan untuk mengurangi emisi pembangkit listrik menjadi 250 juta ton metrik CO2 pada tahun 2030 dan meningkatkan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional menjadi 44% pada tahun 2030. CIPP mencakup investasi senilai USD 97,3 miliar, dengan USD 66,9 miliar dialokasikan untuk 400 proyek yang harus dimulai paling lambat tahun 2030. Pendanaan untuk inisiatif ini berasal dari pemberi pinjaman global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Jepang, dengan setengah dari dana yang dijanjikan berasal dari pembiayaan swasta.
Pembiayaan swasta ini dapat berupa pinjaman komersial dengan suku bunga pasar, investasi ekuitas, atau instrumen utang lainnya. Seluruh strategi diatas memiliki kesamaan yaitu pendanaan yang tidak sedikit untuk merealisasikannya. Estimasi menunjukkan bahwa untuk mencapai target pada tahun 2025 dibutuhkan lebih dari USD 8 miliar per tahun jauh melebihi tingkat investasi saat ini. Kementerian ESDM memprediksi total investasi EBT di tahun 2024 mencapai IDR 172 triliun. Namun realisasi pada triwulan pertama hanya mencapai IDR 20 triliun.
Baca juga : Hikmah di Penghujung Ramadan: Ibadah Puasa dan Zakat untuk Kemanusiaan
Pemerintah perlu membenahi strateginya agar dapat menarik investor untuk memenuhi target investasi untuk energi baru terbarukan. Beberapa strategi yang harus ditekankan oleh pemerintah yaitu stabilitas kebijakan, insentif keuangan, mitigasi risiko, dan juga mengeksplor mekanisme pembiayaan yang inovatif.
Usulan Mix of Financing Strategies untuk Indonesia
Financing mix yang optimal bergantung pada berbagai faktor seperti ukuran proyek, jenis teknologi, dan profil risiko. Pendekatan potensial untuk Indonesia dari faktor tersebut adalah:
1. Jika proyek berskala besar maka dapat memanfaatkan kombinasi pembiayaan proyek dan obligasi hijau. Kombinasi dari dua pendanaan itu dapat menarik investor konstitusional dan pemodal yang sadar lingkungan. Contoh nyata kombinasi pembiayaan itu adalah proyek Nooroo Solar Power Station di Maroko yang mendapatkan EUR 622 juta dengan kapasitas 800 MW menjadi pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia saat pembangunannya, dan berhasil mengurangi emisi CO2 hingga 800.000 ton per tahun dan menyediakan energi bersih bagi 1 juta rumah tangga.
2. Jika proyek berskala kecil dan bersifat inovatif maka dapat memanfaatkan hibah dan subsidi pemerintah bersamaan dengan penggunaan platform crowdfunding. Kombinasi dari kedua pendanaan tersebut dapat mendorong eksperimen yang dilakukan para praktisi dan akademisi yang dapat didukung langsung oleh partisipasi masyarakat. Contoh nyata kombinasi pembiayaan itu adalah proyek Solar Roofs for Schools di Haiti dengan tujuan memasang sistem panel surya di sekolah-sekolah di Haiti untuk menyediakan akses energi bersih dan meningkatkan kualitas pendidikan. Mendapatkan dana dari kombinasi hibah dari organisasi nirlaba, subsidi dari pemerintah Haiti, dan dana yang dihimpun melalui platform crowdfunding. Dengan suksesnya proyek tersebut, 500 sekolah di Haiti mendapatkan akses energi bersih.
3. Jika yang dicari adalah proyek dengan keberlanjutan jangka panjang, maka pemerintah perlu menerapkan mekanisme penetapan harga karbon untuk menciptakan insentif berbasis pasar untuk energi baru terbarukan dari waktu ke waktu, juga obligasi hijau. Kombinasi ini sudah terlihat hasilnya pada Uni Eropa yang mengimplementasikan EU Emissions Trading System (EU ETS) yang merupakan sistem perdagangan emisi karbon terbesar di dunia yang telah berhasil menurunkan emisi CO2 di sektor yang tercakup hingga 43%. Uni Eropa juga telah menerbitkan obligasi hijau senilai miliaran euro untuk mendanai proyek-proyek ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Mendapatkan pendanaan yang cukup untuk transisi energi baru terbarukan di Indonesia sangat penting agar negara ini dapat mencapai targetnya untuk memiliki 23% bauran energi yang berasal dari sumber terbarukan pada tahun 2025. Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1.600 triliun (102,4 miliar dolar AS) untuk mewujudkan target ini, namun sumber pendanaan tradisional mungkin tidak cukup untuk mencapai tujuan ambisius ini. Bagi Indonesia, pendekatan pendanaan yang terdiversifikasi untuk proyek energi baru terbarukan dapat membantu mengatasi tantangan terbatasnya partisipasi sektor swasta dan ketergantungan pada sumber pendanaan tradisional.
Baca juga : Mencari Jalan Baru untuk Lindungi Penerimaan Negara
Dengan menjajaki gabungan mekanisme pembiayaan, seperti hibah pemerintah, subsidi, obligasi hijau, dan pembiayaan proyek, Indonesia dapat menarik lebih banyak investor dan mempercepat peralihannya ke energi baru terbarukan. Namun, penerapan pendekatan tersebut memerlukan perencanaan yang matang, dukungan peraturan, dan lingkungan investasi yang kondusif untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya.
Nariswari Putri Arif
Mahasiswa Akuntansi
Mahasiswa Akuntansi
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya