Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hikmah di Penghujung Ramadan: Ibadah Puasa dan Zakat untuk Kemanusiaan
Sabtu, 6 April 2024 17:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bulan Ramadan 1445 Hijriah akan segera berakhir. Ramadan tahun ini meninggalkan kesan mendalam tentang kuatnya rasa toleransi antar agama di Indonesia. Ramadan tidak hanya menjadi perayaan umat Islam, namun banyak serangkaian acara mulai dari sahur hingga berbuka puasa juga ikut diramaikan umat lainnya.
Membahas tentang keberkahan puasa dan keutamaan zakat fitrah bagi yang menjalankan, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ahmad Zubaidi, menceritakan tentang cairnya hubungan antarmasyarakat saat Ramadan.
“Dalam konteks keragaman agama dan budaya di Indonesia, serta terkait dengan toleransi lintas agama, menurut saya selama Ramadan ini luar biasa. Kita lihat ada fenomena war takjil yang secara langsung mendorong adanya interaksi antar masyarakat. Di banyak lingkungan perkantoran pun demikian, banyak yang difasilitasi untuk berbuka puasa bersama oleh perusahaannya walaupun pimpinannya bukan Muslim,” ujar Kiai Zubaidi, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (5/4).
Kiai Zubaidi bercerita, dirinya pernah diundang untuk menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan sebuah perusahaan yang dimiliki oleh non-Muslim. Hal yang berkesan adalah ketika mereka semua, terlepas apa pun agama ataupun tingkat jabatan yang diembannya, ikut serta mendatangi acara buka puasa bersama itu.
Baca juga : BSI Fasilitasi Mudik Gratis Untuk 644 Pemudik
Para karyawan telah bersiap sebelum waktu Maghrib tiba. Tampak ekspresi kebahagiaan dari mereka yang mendatangi rangkaian acara tersebut. Ketika azan Maghrib berkumandang, semuanya ikut serta menyantap hidangan yang ada, termasuk yang non-Muslim ikut berbuka. Menurut Kiai Zubaidi, saat itu ia menyaksikan sebuah fenomena yang luar biasa.
“Artinya bahwa di negara kita ini memang sungguh luar biasa kehidupan toleransi antar agamanya. Umat Islam yang berpuasa bisa menghormati yang non-Muslim, begitu pun sebaliknya, yang non-Muslim juga bisa menghormati yang mereka yang berpuasa,” terangnya.
Ulama yang sering menyerukan kerukunan lintas iman ini juga bercerita tentang kehidupan bertetangganya dengan warga yang berbeda agama. Ada tetangganya yang non-Muslim dan rumahnya terletak persis di samping masjid yang sering dikunjungi oleh Kiai Zubaidi.
Ia menyebutkan, walaupun bukan beragama Islam, tetangganya ini sangat rajin sekali membersihkan masjid, apalagi di Ramadan yang banyak kegiatan keagamaan. Selain itu, tetangganya ini juga aktif menawarkan diri untuk membantu membersihkan masjid jika ingin digunakan untuk Salat Jumat.
Baca juga : Memetik Berkah Lailatul Qadar di Penghujung Ramadan
“Berkaca dari berbagai kejadian yang membuat saya yakin tentang luar biasanya persatuan bangsa Indonesia ini. Kita bisa simpulkan bahwa sebenarnya pada tataran masyarakat umum tidak ada masalah yang berarti. Tidak ada gesekan ataupun saling curiga, karena masyarakat kita terbiasa untuk hidup saling berdampingan,” ucap Kiai Zubaidi.
Demi menjaga keberlangsungan lingkungan masyarakat yang damai dan toleran, ia juga mengimbau untuk tetap waspada pada gerakan yang menyerukan ideologi atau pemahaman transnasional, yang biasanya menyelipkan aspek intoleransi dalam dakwah agamanya.
Selain itu, Kiai Zubaidi menerangkan tentang esensi ibadah zakat fitrah dan zakat mal, yang biasanya dilakukan umat Islam ketika Ramadan. Pada pemanfaatannya, zakat dalam Islam ternyata memiliki aspek kepedulian yang sangat luas dan tidak dibatasi dinding-dinding keagamaan.
Menurutnya, Islam adalah ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan ini ditunjukkan dengan penyaluran zakat yang tidak hanya khusus bagi sesama umat Islam. Walaupun beberapa ulama berbeda pandangan tentang ini, ada beberapa ahli tafsir dan ulama yang membolehkan zakat untuk disalurkan pada selain umat Islam, selama mereka memang dianggap sangat membutuhkan bantuan.
Baca juga : Semarakkan Ramadan, Generasi Muda Peruri Bagikan Takjil untuk Masyarakat Sekitar
Zakat fitrah juga sebagai penyempurna amalan puasa di Ramadan. Kiai Zubaidi berpendapat, jika dengan berzakat seseorang bisa mendapatkan kembali fitrahnya, maka yang selanjutnya perlu dilakukan adalah mempererat tali persaudaraan di antara sesama manusia.
Dengan begitu, umat Islam di Indonesia tidak hanya siap untuk mengokohkan persaudaraan pada sesama Muslim atau ukhuwah Islamiah, tapi mereka juga siap menguatkan persaudaraan sebangsa dan setanah air atau ukhuwah wathaniyah.
“Lebih jauh lagi, kita juga menjadi lebih siap dalam merajut persaudaraan dengan sesama anak manusia, atau yang biasa disebut dengan ukhuwah basyariyah. Mudah-mudahan dengan semangat kemanusiaan yang menggelora, perayaan idul fitri ini akan menjadikan kehidupan kita semakin bahagia, sejahtera, tentram dan semakin damai,” tandas Kiai Zubaidi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya