Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tanpa Kita Sadari, Transportasi Listrik Itu Sungguh Dominan
Kamis, 18 April 2024 18:28 WIB
Baling-baling kapal laut memang sudah banyak yang diputar oleh motor listrik. Namun suplai listriknya masih dari mesin diesel. Tetapi ini sudah jauh lebih bagus karena ada pengurangan penggunaan bahan bakar yang signifikan alias timbul efisiensi yang lebih tinggi. Hanya pesawat terbang yang terpaksa masih harus membakar bahan bakar, meskipun semakin ke sini efisiensi mereka juga semakin baik sekali. Beruntung, moda transportasi darat sudah berkembang sedemikian pesat. Baik mobil pribadi, bus, dan kereta api. Jangan-jangan tanpa kita sadari, transportasi listrik itu sungguh dominan dewasa ini.
Kendaraan Listrik
70% penjualan mobil di China adalah mobil listrik.
Proyeksi Perkembangan Kendaraan Listrik (Kementrian ESDM, 2020)
Awal mula kendaraan listrik sudah ada sejak abad ke-19 atau tahun 1880-an. Pada 19 April 1881 Gustave Trouvé, penemu Perancis, berhasil menguji coba kendaraan listrik pertama di dunia. Ia memasangkan motor listrik ke sepeda roda tiga merek James Starley.
Tahun 1859, Gaston Planté, seorang fisikawan asal Perancis menemukan baterai timbal-asam yang mempercepat perkembangan kendaraan listrik. Pada tahun 1884, Thomas Parker, seorang penemu Inggris, berkontribusi pada pengembangan kendaraan listrik fungsional di Wolverhampton, Inggris. Tahun 1889, Andreas Flocken dari Jerman menciptakan kendaraan listrik Flocken Elektrowagen, menunjukkan potensi penggerak listrik untuk transportasi praktis.
Baca juga : Peran Penting Perusahaan Transportasi Dorong Kemajuan Ekonomi Indonesia
Era modern kendaraan listrik dipacu oleh Tesla Model S, Model 3, Model X, dan Model Y serta kendaraan listrik lainnya seperti Nissan Leaf, Jaguar I-PACE, BMW i3, dan Hyundai Kona Electric hingga kemudian lahir bejibun kendaraan listrik lainnya. China adalah contoh sukses negeri yang sangat mendukung kendaraan listrik.
Saat ini, 70% penjualan mobil di China adalah mobil listrik. Sepanjang tahun 2020, penjualan mobil listrik dan plug-in hybrid (PHEV) di Uni Eropa melonjak hingga tiga kali lipat, mencapai 1 juta unit kendaraan.
Di Indonesia, mobil listrik memang jauh panggang dari api. Masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Terutama tantangan harga jual dan ketersediaan jaringan pengisian cepat (fast charging).
Namun demikian, tren penjualan mobil listrik di Indonesia belakangan ini sangat menggembirakan. Per 2022-2023, peningkatan penjualan EV mencapai 49 persen. Dan data dari Gaikindo menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2023, volume penjualan grosir (wholesale) mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia mencapai 17,06 ribu unit. Angka ini melonjak 65,2% dibandingkan dengan tahun 2022 sekaligus mencatat rekor tertinggi baru.
China menggelindingkan 421.000 bus listrik, setara 17% dari total bus di negara tersebut. Pada tahun 2021, Europa telah mengoperasikan 8.500 bus listrik, dengan Moscow sebagai operator terbesarnya. Pemerintah Australia juga menetapkan 2025 - 2030 sebagai target no emisi untuk armada bus di sana.
Baca juga : Makin Diminati Masyarat, Transaksi Komoditi Syariah Terus Meningkat
China dan Eropa yang sudah memberikan contoh, ditambah tren di Indonesia yang sedemikian menggembirakan, tampaknya menunjukkan bahwa tanpa kita sadari, transportasi listrik itu sungguh dominan. Setidaknya menuju ke arah dominasinya. Tinggal tunggu waktu saja.
Kereta Listrik, Jagoan Kita Semua
Perawatan kereta listrik juga lebih sederhana karena komponen mekanis yang lebih sedikit. Biaya operasional kereta listrik lebih rendah karena listrik lebih murah daripada bahan bakar fosil.
Pada 31 Mei 1879, perusahaan Jerman bernama Siemens & Halske memperkenalkan kereta listrik pertama di dunia. Penemuan ini menjadi penting dalam industri perkeretaapian karena efektivitas listrik yang lebih baik daripada kereta uap yang mengeluarkan banyak asap saat beroperasi. Langkah ini kemudian diadopsi oleh perusahaan kereta di beberapa negara untuk menggantikan trem yang masih ditarik oleh kuda.
Sebelum kereta listrik, kereta tenaga uap dan trem yang ditarik menggunakan kuda menjadi moda transportasi di Eropa pada paruh kedua abad ke-19. Populasi penduduk yang terus meningkat menyebabkan peningkatan jumlah penumpang. Namun, kereta uap kurang fleksibel untuk digunakan di dalam kota, dan polusi yang dihasilkan masih signifikan.
Pada tahun 1890, London membuka jalur kereta listrik pertama sekaligus menjadikan The Tube/London Underground sebagai kereta bawah tanah tenaga listrik pertama di dunia. Sebelumnya, The Tube berupa kereta uap dan kemudian beralih ke kereta listrik. Satu-satunya kelebihan kereta api (berbahan bakar fosil) dibanding kereta listrik adalah biaya infrastruktur yang lebih rendah. Sayangnya, satu keunggulan ini harus dibayar dengan segala kelemahan.
Baca juga : Ramadan, Bank Mega Syariah Genjot Transaksi Syariah Card
Kereta listrik melaju lebih cepat karena responsif terhadap motor listrik serta memiliki efisiensi tinggi karena pengereman regeneratif mengubah energi kinetik menjadi listrik. Sementara kecepatan kereta api konvensional tergantung pada jenis bahan bakar dan sistem transmisi, serta memiliki efisiensi lebih rendah karena banyak energi terbuang saat pengereman. Selain itu, kereta listrik juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi langsung, yang artinya ada pengurangan polusi udara dan suara.
Perawatan kereta listrik juga lebih sederhana karena komponen mekanis yang lebih sedikit. Biaya operasional kereta listrik lebih rendah karena listrik lebih murah daripada bahan bakar fosil. Sebaliknya, kereta api konvensional menghasilkan emisi gas buang dan polusi lingkungan secara langsung serta menghabiskan banyak biaya perawatan karena faktor bahan bakar dan suku cadang. Dengan kelebihan-kelebihan di atas, jelas tampak jika kereta listrik adalah jagoan kita semua sebab dia menawarkan efisiensi biaya dan waktu/kecepatan yang lebih tinggi.
Tidak ada data yang pasti pada Japan Railways (JR) ataupun Deutsche Bahn Jerman untuk kepemilikan kereta api konvensional mereka. Jika kita telusuri di mesin pencari, mereka hanya disebutkan memiliki sejumlah kecil kereta api konvensional untuk melayani rute-rute tertentu saja. Selebihnya, bisa dikata nyaris semua kereta mereka adalah kereta listrik. Banyak dari kita yang mendengar bagaimana membahanya Shinkansen, TGV, atau ICE di Jepang dan Europa sana.
Di Indonesia, sebagaimana kita semua saksikan sendiri saat ini, kereta listrik hanya ada pada sistem KRL dan MRT Jakarta, LRT Jakarta/Palembang, dan kereta cepat Jakarta - Bandung saja. Selebihnya masih ditarik oleh lokomotif berbahan bakar diesel, meskipun dengan penggerak motor listrik. Kita doakan, semoga suatu saat kelak, semua kereta di Indonesia bertransformasi menjadi kereta listrik.
Aleef Rahman Hadiwiyono
Aleef Rahman HDW
Aleef Rahman HDW
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya