Dark/Light Mode

Inilah Bukti-Bukti Komitmen KAI Terhadap Kelestarian Lingkungan

Sabtu, 23 November 2019 05:28 WIB
Foto: Humas KAI
Foto: Humas KAI

 Sebelumnya 
Terkait air limbah, KAI melaksanakan Pembuatan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) di dipo dan Balai Yasa, dan cucian kereta.

Untuk limbah padat, KAI menanganinya sesuai jenisnya. Khusus limbah padat domestik, pengelolaannya bekerja sama dengan Dinas Kebersihan setempat.

Sedangkan Limbah Padat B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), disimpan di tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 (TPS Limbah B3). Setelahnya, diserahkan kepada pihak ketiga yang telah berizin, untuk melakukan kegiatan pengelolaan selanjutnya.

Untuk kelestarian tanah dan air, KAI melakukan penanaman mangrove di sungai dan pantai. Misalnya di Kelurahan Belawan Sicanang, Medan, Sumatera Utara; di Hutan Mangrove Pantai Pariaman, Sumatera Barat, dan daerah lainnya.

Baca juga : Menteri Siti Terima Utusan Khusus Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia

Untuk suara/getaran, KAI melakukan pengukuran kebisingan di kabin lokomotif dan kereta pembangkit, serta menerapkan penggunaan ear plug dan/atau ear muff di lokasi dengan kebisingan tinggi, seperti di dipo dan Balai Yasa.

KAI juga peduli pelestarian satwa dengan melaksanakan konservasi penyu dan penanaman Pandan Laut di Pantai Bilik Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Sepanjang tahun 2018 hingga semester 1 tahun 2019, KAI sudah melepasliarkan 200 tukik.

Dalam pelayanannya, KAI juga sudah menekan penggunaan plastik. KAI mengganti penggunaan plastik menjadi plastik ramah lingkungan yakni ecoplas.

Baca juga : Perkuat Ekonomi Lewat Kehutanan dan Lingkungan

Ecoplas mengombinasikan polimer sintetik dengan tepung tapioka. Ini merupakan biodegradable plastic, sebuah inovasi yang tergolong baru. Produknya berupa kantong serupa plastik, namun bukan plastik.

Dalam proses produksinya, biodegradable plastic tidak menggunakan polyethylene ataupun polyprophylene, sebagaimana plastik konvensional.

Biodegradable plastic ini menggunakan bahan dasar nabati singkong/cassava. Pemilihan singkong sebagai bahan dasar pembuatan ecoplas bukan tanpa alasan.

Singkong mengandung zat tertentu yang dapat disatukan dan diolah menjadi resin (biji plastik). Resin itulah yang kemudian dibuat menjadi berbagai bentuk kantong plastik.

Baca juga : Wamen LHK Ajak Milenial Jaga dan Rawat Lingkungan

Untuk kemasan makanan di restorasi, KAI melalui anak usahanya yakni PT Reska Multi Usaha (RMU) juga sudah menekan penggunaan plastik untuk wadah makanan menjadi kertas atau disebut dengan green pack. RMU juga memulai penggunaan paper straw alias sedotan kertas di kafe-kafenya.

“Selain itu, KAI juga sudah menggunakan jenis bahan bakar yang lebih ramah lingkungan yakni B20. Ini merupakan BBM dengan pencampuran 20 persen biodiesel, dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar,” tutur Edi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.