Dark/Light Mode

Hery Gunardi: Bankir Multidimensi Pendorong Transformasi Di Industri Keuangan

Rabu, 26 Maret 2025 08:00 WIB
Hery Gunardi. (Foto: Dok. BSI)
Hery Gunardi. (Foto: Dok. BSI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbicara sosok Hery Gunardi di dunia perbankan nasional, ibarat paket komplit yang masih sangat jarang kita temui. Perjalanan panjang Hery sebagai bankir selama lebih dari 34 tahun merupakan rekam jejak yang lengkap.

Hery mengawali karir di Bank Bapindo pada 1991, menjadi anggota tim merger pendirian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada 1998-1999 dan menjadi salah satu pengambil keputusan penting di bank pelat merah tersebut. Dia turut membidani kelahiran PT AXA Mandiri Finansial Services (AMFS) yang merupakan perusahaan asuransi joint venture antara dua korporasi besar Bank Mandiri dan AXA Group Perancis, hingga memimpin mega merger kelahiran PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di tengah pandemi Covid-19.

Hery muda termasuk salah satu sosok yang ikut dalam tim yang membidani pendirian Bank Mandiri dan berpengalaman dalam proses pembentukannya. Pria kelahiran Kota Raflesia, Bengkulu ini menjabat sebagai Department Head Bank Assurance sekaligus Direktur PMO Pendirian Perusahaan Asuransi Patungan (selanjutnya AMFS) pada 2002-2003, yang kemudian berlanjut sebagai Direktur di AMFS pada 2003-2006.

Baca juga : Soal Pertemuan Mega-SBY-Jokowi-Prabowo, Puan Tak Lelah Berharap

Pada 2006, Ia kembali ke Bank Mandiri untuk menangani segmen wealth management Bank Mandiri sebagai Senior Vice President hingga 2008. Meskipun demikian, Hery tak sepenuhnya meninggalkan AMFS karena mendapatkan amanat sebagai Komisaris Utama AMFS pada 2006 – 2008. Sejak itu, perjalanan karir Hery terus menanjak hingga menjadi Plt Direktur Utama Bank Mandiri pada September – Oktober 2020. Ia ditugaskan menjadi Direktur Micro & Retail Banking pada April 2013 yang kemudian menjadi Direktur Micro & Business Banking, Consumer Banking, Distributions, Bisnis Kecil dan Jaringan, hingga Consumer & Retail Transaction. Puncaknya ketika memimpin menjadi Wakil Direktur Utama dan terakhir sebagai Plt Direktur Utama pada 2020.

Perjalanan memimpin perbankan konvensional dalam rentang periode hampir dua dekade itu membawa Hery mengarungi seluk beluk ragam segmen sektor perbankan. Momentum dalam perjalanan karir Hery pun hadir kembali saat pandemi Covid-19 melanda dan pria yang gemar bermain golf ini mendapatkan amanat untuk memimpin merger bank-bank syariah milik BUMN pada Maret 2020.

Turut membidani kelahiran salah satu bank terbesar di Indonesia dan selanjutnya dipercaya sebagai jajaran direksi selama lebih dari 7 tahun di Bank Mandiri, membuktikan kemampuan Hery mendirikan serta membangun nama besar Bank Mandiri dari nol, dalam posisi apapun yang dipercayakan padanya.

Baca juga : Saleh Partaonan Daulay: Hotel Perlu Mencari Tamu Dari Pasar Lain

Pada Maret 2020, Hery mendapat tugas tambahan saat masih menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri. Tugas tersebut adalah mengawal merger tiga bank syariah milik Himpunan Bank Negara (Himbara), yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, yang kelak akan menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Wacana merger ini sebetulnya sudah ada sejak Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia diluncurkan pada Desember 2015 yang kemudian berlanjut dalam Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia 2019-2024. Tepat di saat dunia sedang terhantam krisis akibat pandemi Covid-19, Hery mendapat amanat untuk merealisasikan wacana penggabungan tersebut. Sebuah amanat yang tidak mudah, terlebih di saat krisis.

Namun berkat kepiawaian dan jam terbangnya dalam membidani kelahiran sejumlah entitas besar di sektor keuangan, mega merger ini dapat diselesaikan dalam tempo 11 bulan sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo ketika itu.

Baca juga : Hariyadi Sukamdani: Perhotelan Sekarang Benar-benar Turun

Dengan filosofi bahwa hasil merger bukan sekadar penjumlahan 1+1+1=3, tetapi bagaimana 1+1+1 bisa menghasilkan 6, 7, atau 8, pria yang dikenal pekerja keras ini berusaha mengimplementasikan agar proses berjalan dengan baik. Hal ini menjadi krusial sebab sukses gagalnya sebuah merger terletak pada implementasi yang baik atau tidak.

“Ketika saya menjalankan project merger tersebut, sebagai seorang pemimpin, saya berkomitmen untuk membangun budaya perusahaan yang unggul, kuat, dan tangguh. Karena saya percaya, bahwa kepemimpinan yang baik akan menciptakan budaya kerja yang lebih baik, yang pada gilirannya mendukung keberhasilan perusahan,” lanjutnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.