Dark/Light Mode

Awal Tahun, Investasi Tembus Rp 465 Triliun

Indonesia Semakin Dilirik Investor Asing

Rabu, 30 April 2025 07:00 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan saat konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan I 2025 di Jakarta, Selasa (29/4/2025). DOK KEMENTERIAN INVESTASI & HILIRISASI
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan saat konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan I 2025 di Jakarta, Selasa (29/4/2025). DOK KEMENTERIAN INVESTASI & HILIRISASI

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mencatat realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2025 mencapai Rp 465,2 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi di sektor hilirisasi tercatat sebesar Rp 136,3 triliun, menyumbang 29,3 persen dari total investasi yang terealisasi.

Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi nasional semakin menjadi daya tarik utama bagi para investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menteri Investasi dan Hili­risasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan, capaian ini setara 24,4 persen dari target investasi nasional tahun 2025 sebesar Rp 1.905,6 triliun.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), realisasi investasi naik 15,9 persen dibandingkan Rp 401,5 triliun pada kuartal I-2024.

Dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq), realisasi investasi naik 2,7 persen dari Rp 452,8 triliun.

“Realisasi investasi ini sangat sesuai dengan harapan kami. Peningkatan sebesar 15,9 persen year-on-year menunjukkan tren yang positif,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Capaian Realisasi Investasi Triwulan I Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Baca juga : Tata Kelola Dan Layanan BUMD Belum Optimal

Dari total realisasi, investasi dalam negeri atau Penanaman Mo­dal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp 234,8 triliun (50,5 persen). Sedangkan Penanam­an Modal Asing (PMA) sebesar Rp 230,4 triliun (49,5 persen).

Menurut Rosan, dominasi PMDN ini bukan karena penurunan PMA, melainkan lonjakan signifikan pada investasi domestik.

PMDN meningkat 19,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan PMA juga tumbuh 12,7 persen.

“Ini menunjukkan kepercayaan investor dalam dan luar negeri terhadap Indonesia tetap kuat,” jelas Rosan.

Faktor pendorong kenaikan ini, antara lain percepatan pembangunan infrastruktur. Seperti jalan tol di Sumatera Utara dan Riau, serta pelaporan investasi baru di sektor real estate.

Dari segi negara asal, PMA terbesar berasal dari Singapura 4,6 miliar dolar AS, Hong Kong 2,2 miliar dolar AS, China 1,8 miliar dolar AS, Malaysia 1 miliar dolar AS dan Jepang 1 miliar dolar AS.

Baca juga : Barcelona Vs Inter Milan, Pertarungan Mesin Gol

Sektor-sektor penyerap PMA terbesar meliputi industri logam dasar dan barang logam (bukan mesin dan peralatannya), pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, jasa lainnya, serta industri kimia dan farmasi.

Dari segi wilayah, investasi di luar Pulau Jawa tercatat mencapai Rp 235,9 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp 229,3 triliun. Ini menunjukkan pergeseran positif ke arah peme­rataan investasi nasional.

Investasi yang terealisasi sepan­jang kuartal I-2025 juga menciptakan 594.104 lapangan kerja baru, meningkat 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Ini indikator yang sangat positif di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Minat investor, baik dalam maupun luar negeri, terhadap Indonesia terus menguat,” kata Rosan.

Terkait sektor hilirisasi, realisasi investasi mencapai Rp 136,3 tri­liun, meningkat signifikan 79,82 persen dibandingkan Rp 75,8 triliun pada kuartal I-2024.

Secara rinci, investasi di sektor hilirisasi didominasi oleh mineral Rp 97 triliun, perkebun­an dan kehutanan: Rp 31,13 triliun, Minyak dan Gas Bumi Rp 6,55 triliun, Perikanan dan Kelautan Rp 1,03 triliun.

Baca juga : Kalah Di Babak Awal Madrid Open 2025, The Djoker Sadar Diri

Sebelumnya, Menteri Ener­gi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia me­ngatakan, untuk mendukung program hilirisasi hingga tahun 2040, Indonesia membutuhkan investasi sekitar 550 miliar dolar AS atau setara Rp 9.249 triliun. Mencakup 28 komoditas di sektor pertambangan, migas, perikanan, kehutanan dan pertanian.

Dari kebutuhan tersebut, investasi tahap pertama pada 2025 sudah mencapai komitmen senilai 40 miliar dolar AS atau Rp 672,82 triliun.

Bahlil menegaskan, hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Se­perti yang terjadi pada komoditas nikel, nilai tambah naik dari 3,3 miliar dolar AS menjadi 35 miliar dolar AS. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.