Dark/Light Mode

Spin-off Alami Kemajuan Pesat

Nama Baru BTN Syariah Ada Di Kantong Presiden

Sabtu, 7 Juni 2025 07:00 WIB
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) Achmad Friscantono (kedua kanan) usai Penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan di Jakarta Kamis, (5/6/2025). (Foto: Dok. Rakyat Merdeka)
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) Achmad Friscantono (kedua kanan) usai Penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan di Jakarta Kamis, (5/6/2025). (Foto: Dok. Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Impian PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN melahirkan Bank Umum Syariah (BUS), sebagai bank syariah nomor dua terbesar di Indonesia, semakin dekat. Bank pelat merah itu baru saja menandatangani Akta Jual Beli dan pengambilalihan saham PT Bank Victoria Syariah (BVIS).

Pengambilalihan saham BVIS merupakan bagian dari proses pemisahan (spin-off) BTN Syariah, selaku Unit Usaha Syariah (UUS) milik BTN.

Penandatanganan Akta Jual Beli dan pengambilalihan saham tersebut dilakukan BTN bersa­ma para pemegang saham BVIS, PT Victoria Investama Tbk dan PT Bank Victoria International Tbk di Menara BTN 1 Jakarta, Kamis (5/6/2025).

“Proses spin-off BTN Syariah direncanakan dapat berlang­sung sekitar Oktober hingga November tahun ini,” ungkap Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.

Setelah spin-off, sambung Nixon, maka BTN Syariah yang digabungkan dengan BVIS akan menjadi lebih besar.

Nixon menegaskan, pihaknya sudah berjanji kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, bahwa bank syariah baru ini ditarget­kan untuk menjadi terbesar kedua dalam kurun waktu yang tidak lama. Dengan bisnis yang efisien, inklusif, dan berbasis nilai-nilai syariah.

Baca juga : Tiga Dari 10 Pelajar Di Jakarta Depresi

“Karena tidak cukup hanya satu bank yang melayani kebutuhan syariah, karena mar­ket-nya luas,” tandas Nixon.

Dia melanjutkan, setelah mun­cul PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI, yang kini menjadi bank syariah terbesar di Indonesia, maka suka atau tidak suka telah mengubah mindset masyarakat akan kebutuhan produk syariah.

Padahal dahulu, imbuhnya, syariah dikesankan sesuatu hal yang sangat tradisional dan kuno. Bahkan, ada yang meng­kaitkannya dengan kredit macet.

“Sejak ada BSI, sekarang banyak masyarakat yang pindah, memilih akad syariah. Secara tidak langsung kami (BTN Syariah) ikut kecipratan, dan BSI telah mengedukasi dan melakukan penetrasi keuangan syariah,” ujarnya.

Ditanya soal nama peng­ganti untuk BTN Syariah, Nixon merahasiannya.

“Kami sudah ada ancer-ancer nama baru. Tapi bukan dari saya, ini dari Presiden Prabowo Subianto. Makanya tidak boleh ngomong sekarang, karena ada unsur legal,” kata Nixon.

Baca juga : Final UEFA Nations League 2025, Ronaldo Vs Yamal

Nama baru dari Presiden Prabowo itu, berdasarkan usulan BTN dan Menteri BUMN. Yang diharapkan, bank baru ini akan diresmikan dan beroperasi seti­daknya sebelum 2025 berakhir.

Nixon menjelaskan, perlu di­lakukan Rapat Umum Pemegang Saham baik di BTN maupun Bank Victoria Syariah. Karena akan ada perubahan anggaran dasar, merek, dan lain-lainnya.

Nixon mengatakan, BTN melakukan penandatanganan doku­men akuisisi tersebut pada 5 Juni 2025 setelah menerima surat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon perusahaan pengendali.

“Nilainya kurang lebih Rp 1,5 triliun atau sekitar 1,4 hingga 1,5 kali buku BVIS,” sebut Nixon.

Dengan visi menjadikan BTN Syariah sebagai kategori KBMI (Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti) II, dan rasio kecu­kupan modal atau Capital Ad­equacy Ratio (CAR) sebesar 18-19 persen, Nixon mengatakan, dibutuhkan modal awal sekitar Rp 6 triliun yang berasal dari pendanaan BTN sekitar Rp 3,5 triliun hingga Rp 4 triliun.

Modal itu bisa dipenuhi dengan nilai pembelian BVIS Rp 1,5 triliun, serta rights is­sue sebesar Rp 1 triliun yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga : Final NBA, Haliburton Penyelamat Pacers Di Detik Akhir

Sekadar informasi, pada akhir 2023, total aset BTN Syariah telah mencapai Rp 54,28 triliun. Sehingga BTN Syariah wajib spin-off dalam kurun waktu dua tahun setelah laporan keuangan tersebut, yakni sebelum tahun 2025 berakhir.

“Pada Oktober tahun ini, mungkin asetnya sudah menca­pai sekitar Rp 65 hingga Rp 67 triliun,” ujarnya.

Sementara, Direktur Utama Victoria Investama Aldo Jusuf Tjahaja mengaku optimistis, BVIS di bawah naungan BTN akan men­jadi lembaga keuangan syariah yang terus tumbuh dan kompetitif di masa yang akan datang.

“Dan menjadi salah satu insti­tusi pemain kuat di perbankan syariah Indonesia,” tukas Aldo.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.