Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Spin-off Alami Kemajuan Pesat
Nama Baru BTN Syariah Ada Di Kantong Presiden
Sabtu, 7 Juni 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Impian PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN melahirkan Bank Umum Syariah (BUS), sebagai bank syariah nomor dua terbesar di Indonesia, semakin dekat. Bank pelat merah itu baru saja menandatangani Akta Jual Beli dan pengambilalihan saham PT Bank Victoria Syariah (BVIS).
Pengambilalihan saham BVIS merupakan bagian dari proses pemisahan (spin-off) BTN Syariah, selaku Unit Usaha Syariah (UUS) milik BTN.
Penandatanganan Akta Jual Beli dan pengambilalihan saham tersebut dilakukan BTN bersama para pemegang saham BVIS, PT Victoria Investama Tbk dan PT Bank Victoria International Tbk di Menara BTN 1 Jakarta, Kamis (5/6/2025).
“Proses spin-off BTN Syariah direncanakan dapat berlangsung sekitar Oktober hingga November tahun ini,” ungkap Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.
Setelah spin-off, sambung Nixon, maka BTN Syariah yang digabungkan dengan BVIS akan menjadi lebih besar.
Nixon menegaskan, pihaknya sudah berjanji kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, bahwa bank syariah baru ini ditargetkan untuk menjadi terbesar kedua dalam kurun waktu yang tidak lama. Dengan bisnis yang efisien, inklusif, dan berbasis nilai-nilai syariah.
Baca juga : Tiga Dari 10 Pelajar Di Jakarta Depresi
“Karena tidak cukup hanya satu bank yang melayani kebutuhan syariah, karena market-nya luas,” tandas Nixon.
Dia melanjutkan, setelah muncul PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI, yang kini menjadi bank syariah terbesar di Indonesia, maka suka atau tidak suka telah mengubah mindset masyarakat akan kebutuhan produk syariah.
Padahal dahulu, imbuhnya, syariah dikesankan sesuatu hal yang sangat tradisional dan kuno. Bahkan, ada yang mengkaitkannya dengan kredit macet.
“Sejak ada BSI, sekarang banyak masyarakat yang pindah, memilih akad syariah. Secara tidak langsung kami (BTN Syariah) ikut kecipratan, dan BSI telah mengedukasi dan melakukan penetrasi keuangan syariah,” ujarnya.
Ditanya soal nama pengganti untuk BTN Syariah, Nixon merahasiannya.
“Kami sudah ada ancer-ancer nama baru. Tapi bukan dari saya, ini dari Presiden Prabowo Subianto. Makanya tidak boleh ngomong sekarang, karena ada unsur legal,” kata Nixon.
Baca juga : Final UEFA Nations League 2025, Ronaldo Vs Yamal
Nama baru dari Presiden Prabowo itu, berdasarkan usulan BTN dan Menteri BUMN. Yang diharapkan, bank baru ini akan diresmikan dan beroperasi setidaknya sebelum 2025 berakhir.
Nixon menjelaskan, perlu dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham baik di BTN maupun Bank Victoria Syariah. Karena akan ada perubahan anggaran dasar, merek, dan lain-lainnya.
Nixon mengatakan, BTN melakukan penandatanganan dokumen akuisisi tersebut pada 5 Juni 2025 setelah menerima surat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon perusahaan pengendali.
“Nilainya kurang lebih Rp 1,5 triliun atau sekitar 1,4 hingga 1,5 kali buku BVIS,” sebut Nixon.
Dengan visi menjadikan BTN Syariah sebagai kategori KBMI (Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti) II, dan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 18-19 persen, Nixon mengatakan, dibutuhkan modal awal sekitar Rp 6 triliun yang berasal dari pendanaan BTN sekitar Rp 3,5 triliun hingga Rp 4 triliun.
Modal itu bisa dipenuhi dengan nilai pembelian BVIS Rp 1,5 triliun, serta rights issue sebesar Rp 1 triliun yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.
Baca juga : Final NBA, Haliburton Penyelamat Pacers Di Detik Akhir
Sekadar informasi, pada akhir 2023, total aset BTN Syariah telah mencapai Rp 54,28 triliun. Sehingga BTN Syariah wajib spin-off dalam kurun waktu dua tahun setelah laporan keuangan tersebut, yakni sebelum tahun 2025 berakhir.
“Pada Oktober tahun ini, mungkin asetnya sudah mencapai sekitar Rp 65 hingga Rp 67 triliun,” ujarnya.
Sementara, Direktur Utama Victoria Investama Aldo Jusuf Tjahaja mengaku optimistis, BVIS di bawah naungan BTN akan menjadi lembaga keuangan syariah yang terus tumbuh dan kompetitif di masa yang akan datang.
“Dan menjadi salah satu institusi pemain kuat di perbankan syariah Indonesia,” tukas Aldo.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya