Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sri Mulyani Ditantang DPR
2026, Ekonomi Tumbuh 6 Persen, Bisa?
Rabu, 2 Juli 2025 07:55 WIB
Sebelumnya
“Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga di 4,94 persen dan investasi yang tumbuh 4,61 persen secara tahunan,” jelasnya.
Inflasi 2024 tercatat hanya sebesar 1,6 persen, jauh lebih rendah dari target asumsi makro APBN sebesar 2,8 persen. Tingkat pengangguran juga menurun ke angka 4,91 persen, sementara angka kemiskinan menyusut dari 9,03 persen pada Maret 2024 menjadi 8,57 persen pada September 2024. Kemiskinan ekstrem mendekati nol, berada di level 0,83 persen.
Total realisasi belanja negara tahun 2024 mencapai Rp3.359,8 triliun, tumbuh 7,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan negara juga naik 2,4 persen menjadi Rp2.850,6 triliun. Sementara defisit APBN 2024 tercatat hanya 2,3 persen terhadap PDB, lebih rendah dari perkiraan awal 2,7 persen.
“Ini mencerminkan kebijakan fiskal dikelola secara prudent dan berkelanjutan,” terang Sri.
Baca juga : Putusan MK, Totally Wrong...
Dia memastikan bahwa pembiayaan defisit dilakukan melalui kombinasi pembiayaan utang yang terkendali dan pembiayaan non-utang yang produktif.
“Realisasi pembiayaan utang ditekan lebih rendah dari target awal APBN 2024,” tutupnya.
Dengan capaian 2024 yang cukup menjanjikan, bola kini di tangan Pemerintah. Apakah Sri Mulyani sanggup menjawab tantangan DPR untuk menumbuhkan ekonomi Indonesia hingga 6 persen pada 2026?
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, proyeksi ini bukan hanya overshoot, tapi hampir dipastikan sulit tercapai. Kenapa? tahun ini saja, kata dia, outlook komoditas semuanya gloomy alias menurun ke bawah.
Baca juga : NasDem Nilai Putusan MK Tabrak Konstitusi
Ditambah Indonesia jadi tempat pengalihan barang impor China saat terjadi perang dagang. Daya beli masyarakat sedang tertekan. “Anggaran mengalami pelebaran defisit. Jadi hampir tidak ada faktor pendukung pertumbuhan yang bisa jadi motor di 2026,” sebut Bhima, semalam.
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto melihat, proyeksi pertumbuhan 6 persen ini agak susah diraih. Sebab, saat ini masih terjadi pelambatan ekonomi global dan pemulihan ekonomi pasca Pandemi Covid belum tuntas.
“Ditambah perang Rusia-Ukraina, Timur Tengah, hingga perang dagang. Pertumbuhan ekonomi tahun 2024 saja mungkin di bawah target 5,2 persen,” ujar Eko dalam pesannya.
Direktur Kebijakan dan Program Center for Policy Studies Prasasti Piter Abdullah menilai, untuk mencapai pertumbuhan seperti yang dicita-citakan Presiden Prabowo, tak cukup hanya melalui deregulasi kebijakan. Harus dibarengi dengan mempermudah perizinan serta memberikan kepastian hukum bagi para pelaku usaha.
Baca juga : Satgas Siber, Senjata Lawan Kejahatan Digital
“Indonesia itu memiliki semua syarat untuk tumbuh lebih tinggi. Karena kita kaya dengan sumber daya alam dan bonus demografi. Tapi persoalan hukum, persoalan regulasi, dan sebagainya, harus diselesaikan segera,” kata Piter usai menghadiri konferensi pers Peluncuran Prasasti Center for Policy Studies, di Jakarta, Senin (30/6/2025) kemarin.
Ditambahkan Piter, relaksasi impor tak boleh dipandang sebagai satu-satunya memperkuat industri dalam negeri. Diperlukan paket kebijakan mengatasi tantangan struktural industri nasional. [FAQ/UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya