Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, Indonesia tidak perlu cemas dengan perang dagang jilid II antara Amerika Serikat (AS)-China. Menurutnya, pertarungan dua “gajah” ekonomi itu tak berdampak buruk bagi RI. Sebaliknya, Indonesia bisa ketiban untung.
“Biar saja mereka berantem. Kalau kita nggak ada urusan, malah bisa dapat untung,” ujar Purbaya di sela kunjungan kerjanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/10/2025).
Purbaya menegaskan, pemerintah Indonesia tak ingin terseret dalam pusaran konflik dagang dua negara adidaya tersebut. Sebaliknya, Indonesia akan memanfaatkan momentum untuk memper luas pasar ekspor, terutama ke Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, kenaikan tarif 100 persen yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk-produk asal China justru membuka celah bagi produk Indonesia untuk masuk dan bersaing di pasar AS. “Barang kita jadi lebih kompetitif di Amerika. Untung, kita untung, biar mereka berantem, kita diuntungkan,” tegas Purbaya santai.
Baca juga : Upaya Nadiem Kandas
Namun, perang dagang AS-China justeru bikin dunia sedikit meriang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah. Pada perdagangan Senin (13/10), IHSG ditutup turun 30,65 poin atau 0,37 persen ke level 8.227,20. Mayoritas bursa Asia juga tertekan.
Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebut pelemahan ini akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tensi dagang dua raksasa dunia itu. Mengingat, Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan tarif impor tambahan 100 persen terhadap China mulai 1 November 2025.
Bukan cuma IHSG, rupiah pun ikut terpeleset. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 16.573 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan, fluktuasi ini masih akan berlanjut. “Untuk perdagangan besok, rupiah masih berpotensi melemah di kisaran Rp 16.570–16.620 per dolar AS,” katanya.
Baca juga : Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Rp 468 Triliun
Ibrahim menilai, pasar sedang gelisah lantaran AS dan China sama-sama keras kepala. “China sudah bersiap mengambil langkah-langkah tegas melindungi kepentingannya, sementara AS di bawah Trump sulit ditebak arah kebijakannya,” ujarnya.
Diketahui, Presiden Trump kembali bikin geger. Selain mengenakan tarif impor tambahan 100 persen terhadap produk China, Washington juga akan membatasi ekspor “perangkat lunak penting” ke Negeri Tirai Bambu paling lambat 1 November mendatang.
Tak mau kalah, Beijing lakukan pembalasan. Pemerintah China mengenakan tarif pelabuhan baru bagi kapal asal AS, sebesar 400 yuan atau sekitar Rp 934 ribu per ton bersih.
Kebijakan ini jadi balasan atas keputusan Washington yang sejak April lalu sudah memungut biaya serupa terhadap kapal China di pelabuhan AS sebesar 50 dolar AS atau sekitar Rp 831 ribu per ton bersih. Saling sandera itu membuat perang dagang dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kembali memanas.
Baca juga : Mirah Sumirat: Perlu Pengawasan Agar Tidak Disalahgunakan
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira kurang sepakat dengan pernyataan Purbaya. “Kalau gajah berantem, rumputnya bisa habis. Jadi, jangan buru-buru bilang kita untung,” sindir Bhima, tadi malam. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya