Dark/Light Mode

Menperin: Industri Otomotif RI Mampu Produksi Pick-Up Sendiri, Nggak Perlu Impor

Kamis, 19 Februari 2026 18:24 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan industri otomotif nasional telah mampu memproduksi kendaraan pick-up secara mandiri dengan kapasitas besar, berpotensi memperkuat kemandirian industri dan memberikan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan produksi kendaraan pick-up dalam negeri memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Sebagai ilustrasi, apabila pengadaan kendaraan pick-up 4x2 sebanyak 70.000 unit dipenuhi produk lokal, maka dapat memberikan dampak ekonomi (backward linkage) sekitar Rp 27 triliun.

“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati industri di luar negeri. Namun jika dipenuhi industri dalam negeri, manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja akan dirasakan di dalam negeri,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Menurut dia, pemenuhan kebutuhan kendaraan pick-up dari produksi nasional akan mendorong subsektor terkait, seperti industri ban, kaca, baterai, logam, kulit, plastik, kabel, hingga elektronik.

Baca juga : Kemenperin: 1.236 Industri Baru Siap Produksi Di 2026, Serap 218 Ribu Tenaga Kerja

Menperin menjelaskan, saat ini kapasitas produksi kendaraan pick-up nasional mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Sejumlah produsen yang memproduksi kendaraan pick-up di dalam negeri antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.

Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global.

Agus menambahkan, standar dan kualitas kendaraan pick-up 4x2 produksi dalam negeri sangat kompetitif dibandingkan produk impor. Produk lokal juga dinilai mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang beragam, serta diterima baik oleh pelaku usaha karena performanya andal untuk distribusi dan mobilitas barang.

Namun demikian, Indonesia saat ini belum memproduksi kendaraan pick-up tipe 4x4 yang dirancang khusus untuk medan sangat berat, seperti di sektor pertambangan dan perkebunan.

Baca juga : ASAKI: Industri Keramik RI Sudah Swasembada, Tak Perlu Impor

Dari sisi efisiensi ekonomi, lanjutnya, biaya perawatan kendaraan pick-up 4x4 relatif lebih mahal, dengan ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual yang terbatas, serta harga jual kembali yang lebih rendah dibandingkan pick-up 4x2 produksi nasional.

Pengembangan industri kendaraan niaga menjadi bagian strategi pemerintah dalam meningkatkan kemandirian industri dan memperkuat struktur manufaktur nasional. Kemenperin mendorong peningkatan penggunaan komponen dalam negeri, penguatan rantai pasok industri otomotif, pengembangan industri komponen, serta peningkatan investasi dan penguasaan teknologi manufaktur kendaraan.

Menperin juga mengimbau pelaku industri otomotif menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah dinamika global dan domestik. Ia menilai pengadaan kendaraan melalui impor berpotensi mengganggu upaya menjaga keberlanjutan industri dan penyerapan tenaga kerja nasional.

Menurut Agus, pengembangan industri otomotif nasional sejalan dengan arah kebijakan industrialisasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan penguatan industri dalam negeri sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing Indonesia.

Baca juga : Insentif Impor Habis, Industri Mobil Listrik RI Masuk Babak Baru

“Kemenperin berkomitmen terus memperkuat industri otomotif nasional agar semakin inovatif, berdaya saing, serta mampu menjadi pilar utama dalam penguatan struktur industri dan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.