Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sumbang PDB Nasional Rp 120 Triliun
Industri Fesyen Dan Kriya Punya Daya Saing Kuat
Senin, 11 Mei 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sektor industri fesyen dan kriya menunjukkan tren positif dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp 120,13 triliun pada triwulan I-2026.
Pemerintah merespons capaian ini dengan memperkuat ekosistem industri berkelanjutan. Terutama bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) guna menghadapi dinamika pasar global.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, capaian PDB tersebut tumbuh 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 111,34 triliun.
“Peningkatan ini selaras dengan lonjakan investasi di sektor tersebut yang menembus angka Rp 14,21 triliun pada awal tahun ini,” ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Baca juga : Pertagas Siap Pasok Gas Bumi Ke Industri Strategis
Menurut Agus, performa ekspor juga tetap kuat. Pada periode Januari-Februari 2026, ekspor pakaian jadi mencapai 1,44 miliar dolar AS, tekstil 0,52 miliar dolar AS dan kriya sebesar 2,43 miliar dolar AS.
“Capaian ini menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya nasional masih memiliki daya saing yang kuat di tengah dinamika pasar global,” katanya.
Sebagai langkah konkret penguatan sektor ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/5/2026). Bali dipilih karena memiliki ekosistem kreatif yang matang dengan keberadaan ratusan sentra IKM fesyen dan kriya.
Menurut Agus, Bali memiliki peran strategis sebagai simpul pengembangan industri fesyen dan kriya nasional.
Baca juga : Isu Sanitasi & Sampah Jadi PR Pemprov DKI
“Bali tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tapi juga sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif yang terhubung dengan pasar nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Gedung BPIFK dirancang sebagai creative hub untuk mempercepat transformasi industri 4.0 dan menumbuhkan wirausaha baru.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menambahkan, gedung itu dibangun dengan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) dan menggunakan 92 persen produk dalam negeri.
Hingga triwulan I-2026, BPIFK tercatat telah memberikan pendampingan kepada 722 pelaku IKM di 29 provinsi.
Baca juga : Arne Slot Anteng Disoraki Publik Anfield
“Pendampingan ini tidak hanya meningkatkan omzet dan penyerapan tenaga kerja. Tapi juga memperkuat kapasitas usaha, kualitas produk dan daya saing pelaku IKM secara berkelanjutan,” ucap Reni. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Senin, 11 Mei 2026 dengan judul "Sumbang PDB Nasional Rp 120 Triliun, Industri Fesyen Dan Kriya Punya Daya Saing Kuat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya