Dark/Light Mode

Menkes Koordinasi Dengan WHO

Hati-hati Hantavirus, Bahaya & Mematikan

Minggu, 10 Mei 2026 07:50 WIB
Seorang penumpang kapal pesiar MV Hondius yang diduga terinfeksi hantavirus dievakuasi di Praia, Tanjung Verde, Rabu (6/5/2026). (Foto: Reuters)
Seorang penumpang kapal pesiar MV Hondius yang diduga terinfeksi hantavirus dievakuasi di Praia, Tanjung Verde, Rabu (6/5/2026). (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat hantavirus bikin heboh. Saking berbahaya dan mematikannya virus ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin langsung berkoordinasi dengan World Health Organization (WHO) untuk meminta petunjuk.

Melansir kanal resmi WHO, hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh tikus atau hewan pengerat lain seperti tupai, hamster, dan marmut. Penularan ke manusia umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi kotoran, urine, atau air liur tikus yang mengering. 

Paparan juga bisa terjadi setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paruparu dan Hemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. 

Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, lemas, mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Namun, pada beberapa kasus, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi paru serius seperti sesak napas, batuk, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah rendah, hingga gangguan fungsi jantung. 

Menyikapi berbahayanya virus ini, Menkes mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan WHO untuk mempersiapkan proses skrining dan pengawasan terhadap potensi penyebaran virus tersebut di Indonesia. 

Baca juga : Diungkap Bos LPS, Tabungan Orang Kaya Naik Di Tengah Krisis

“Virus ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita udah koordinasi dengan WHO, kita minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya,” ujar Menkes di Gedung Kemenkes, Kamis (7/5/2026). 

Meski demikian, ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterima pemerintah, penyebaran virus tersebut saat ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar itu dan belum meluas ke wilayah lain. 

Menkes menjelaskan, pemerintah saat ini fokus mempersiapkan sistem deteksi dini, termasuk kemungkinan penggunaan rapid test maupun reagen khusus untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).

“Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar screening-nya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita Covid dulu, maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujarnya. 

Ia menambahkan, Indonesia dinilai memiliki kesiapan infrastruktur laboratorium yang lebih baik dibanding sebelumnya karena kapasitas mesin PCR sudah tersedia dalam jumlah besar sejak pandemi Covid-19. 

Baca juga : Diungkap CIA, Iran Masih Punya Banyak Rudal

Namun, untuk sementara, pihaknya masih memfokuskan langkah pada penguatan surveilans untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus secara lebih luas. 

“Jadi sekarang kita masih fokus ke surveilansnya, supaya kalau ada apaapa kita bisa cepat,” pungkasnya. 

Di Indonesia, Kemenkes telah melaporkan sedikitnya 23 kasus hantavirus dan tiga kematian di sembilan provinsi dalam periode tiga tahun terakhir. Angka kematian tercatat mencapai 13 persen. 

Namun, seluruh kasus hantavirus di dalam negeri terkonfirmasi sebagai jenis Seoul virus, bukan Andes virus seperti yang ditemukan pada wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. 

Kasus Seoul virus paling banyak teridentifikasi tahun lalu dengan 17 kasus, sementara pada 2024 hanya tercatat satu kasus. Pada 2026, terdapat penambahan lima kasus. 

Baca juga : Jumaria Sang Ikon, Makan Daun Ubi Demi Tabungan Haji

Virus tersebut terdeteksi di DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. 

“23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Kamis (7/5/2026). 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.