Dark/Light Mode

Lepas Dari Ketergantungan Dolar, Andalkan Coretax

Tiga Jurus Fiskal Redam Tekanan Ekonomi Global

Selasa, 2 Juni 2026 06:30 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mengandalkan tiga strategi fiskal untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi dunia.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat karena ditopang bauran energi nasional yang beragam, serta kebijakan fiskal yang dijalankan hati-hati dan terukur.

Saat memberikan kuliah umum di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (29/5/2026), Juda mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada satu sumber energi.

Produksi minyak, gas, batubara, biodiesel dan bioenergi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional ketika harga energi dunia mengalami lonjakan.

Baca juga : Kasus Kuota Haji, KPK Segera Tahan 2 TSK

“Energi mix kita lebih baik, sehingga kita masih mempunyai daya tahan terhadap harga minyak yang meroket,” ujar Juda dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Minggu (31/5/2026).

Selain sektor energi, Pemerintah juga mengandalkan strategi fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, sekaligus mempertahankan stabilitas makroekonomi.

Strategi pertama dilakukan melalui pengendalian belanja negara dengan memprioritaskan program yang memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi. Pemerintah menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi energi guna menahan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Belanja negara juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas lapangan kerja dan mendorong kapasitas produksi nasional.

Baca juga : Warga & DPRD Dukung Program Pilah Sampah

“Dari sisi pengeluaran, yang bisa kami lakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kami akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, supply, produksi dan juga mendorong menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.

Strategi kedua dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan kenaikan harga komoditas untuk memperkuat pendapatan negara, sekaligus meningkatkan efektivitas pemungutan pajak melalui implementasi sistem Coretax.

Strategi ketiga ditempuh dari sisi pembiayaan dengan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui penerbitan surat utang dalam berbagai mata uang lain. Seperti Samurai Bonds berdenominasi yen Jepang, Dim Sum Bonds dalam renminbi China dan Kangaroo Bonds menggunakan dolar Australia.

Menurut Juda, efektivitas kebijakan tersebut tercermin pada capaian ekonomi nasional pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, inflasi terkendali di level 2,42 persen, sementara defisit fiskal hingga April 2026 berada di kisaran 0,64 persen.

Baca juga : PSG Berpesta, Paris Rusuh

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan spread juga tetap terjaga.

“Inflasi, fiskal defisit dan juga yield SBN menentukan fiskal kita masih kuat. Strategi yang kami ambil tadi bekerja dengan baik,” pungkas Juda. NOV

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Selasa, 2 Juni 2026 dengan judul "Lepas Dari Ketergantungan Dolar, Andalkan Coretax Tiga Jurus Fiskal Redam Tekanan Ekonomi Global"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.