Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekonom: Pemerintah Mesti Dukung Langkah BI Lewat Kebijakan Fiskal Dan Regulasi
Selasa, 9 Juni 2026 20:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen diproyeksikan ampuh meredam kejatuhan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Namun, penetapan kebijakan moneter agresif ini dinilai sekadar taktik defensif untuk membeli waktu di tengah gempuran ketidakpastian global.
Pemerintah kini dituntut bergerak cepat menyuntikkan dukungan nyata melalui disiplin fiskal ketat dan ketegasan regulasi demi memulihkan kepercayaan pasar secara permanen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai manuver pengetatan ini krusial untuk mendongkrak kembali daya pikat aset berbasis rupiah di mata investor internasional.
Kenaikan instrumen moneter ini diharapkan memicu aliran modal asing masuk ke pasar domestik, sekaligus menegaskan komitmen otoritas moneter yang menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama pertahanan makroekonomi.
Bersandar pada situasi pasar yang bergerak liar, intervensi tegas dari bank sentral dianggap sebagai benteng pertahanan yang mendesak untuk meredam kepanikan penanam modal.
Baca juga : Beniyanto Tamoreka Dukung Penguatan Tata Kelola SDA dan Percepatan Investasi
“Dalam situasi ketika rupiah melemah lebih dalam dari perkiraan dan sempat menembus level psikologis penting, BI memang perlu memberi sinyal tegas bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama,” ujar Josua, Selasa (9/6/2026).
Josua menggarisbawahi bahwa strategi BI kali ini tidak diluncurkan sebagai amunisi tunggal. Kenaikan suku bunga acuan tersebut diperkuat oleh orkestrasi instrumen pendukung yang masif, mulai dari optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemangkasan biaya lindung nilai atau hedging, penyediaan injeksi likuiditas bagi industri perbankan, hingga operasi stabilisasi langsung di pasar valuta asing.
Kombinasi berlapis ini dinilainya sangat penting demi meyakinkan pasar bahwa likuiditas domestik tetap tebal dan mekanisme pasar sekunder tetap berjalan normal.
Kendati demikian, Josua memperingatkan adanya batas kemampuan dari efektivitas kebijakan suku bunga jika tekanan eksternal terus merangsek naik. Tingginya harga minyak mentah dunia, eskalasi konflik geopolitik yang membara di Timur Tengah, serta tren suku bunga tinggi Amerika Serikat yang bertahan lama merupakan variabel luar yang sewaktu-waktu bisa meruntuhkan pertahanan rupiah jika fondasi domestik tidak segera dibenahi.
Kondisi moneter yang ketat ini dipastikan membawa konsekuensi serius yang harus dibayar mahal oleh sektor riil domestik. Lonjakan BI Rate berpotensi langsung mengerek biaya dana perbankan nasional, menahan laju penurunan bunga kredit, serta memaksa dunia usaha bersikap ekstra hati-hati dalam merancang agenda ekspansi bisnis mereka.
Baca juga : PHRI Dukung Pemerintah Tertibkan OTA Asing Dan Akomodasi Ilegal
Tekanan pengetatan likuiditas ini diproyeksikan akan langsung menghantam lini bisnis yang sangat bergantung pada fluktuasi suku bunga perbankan.
“Dampaknya bisa terasa pada sektor yang sensitif terhadap bunga, seperti properti, kendaraan bermotor, pembiayaan konsumsi, dan modal kerja,” tambah Josua.
Untuk mengimbangi dampak perlambatan konsumsi masyarakat tersebut, ia mendesak pemerintah agar segera menyelaraskan ritme kebijakan dengan Bank Indonesia.
Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) wajib dijaga tetap disiplin, belanja negara dialokasikan secara selektif dan produktif, serta kebijakan tata kelola devisa diatur agar tidak menjepit ruang gerak dunia usaha.
Josua menegaskan bahwa memenangkan pertempuran melawan depresiasi kurs memerlukan kerja sama tim yang solid antara otoritas moneter dan eksekutif. Stabilitas nilai tukar tidak akan pernah kokoh jika hanya mengandalkan intervensi sepihak di sektor keuangan tanpa adanya kepercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Baca juga : Menko Yusril: Pemerintah Dukung Penuh KPK Usut Dugaan Korupsi Di Imigrasi
“Rupiah tidak bisa dijaga oleh BI sendirian; rupiah akan lebih stabil apabila stabilitas moneter didukung oleh kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya