Dark/Light Mode

4 BUMN Sinergi Kebut Hilirisasi Mineral Kritis

Jumat, 17 Juli 2026 06:40 WIB
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani. (Foto: Tedy/RM)
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani. (Foto: Tedy/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Empat BUMN sektor energi dan mineral, yakni PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau Mind ID, PT Len Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas bersinergi untuk mempercepat hilirisasi mineral kritis.

Kolaborasi itu dituangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengoptimalkan skema supply-offtake mineral kritis untuk menjamin pasokan bahan baku industri strategis dalam negeri. Sekaligus mempercepat pengembangan industri material maju (advanced materials) melalui kolaborasi teknologi. 

“Pengembangan ini tidak hanya terbatas untuk mobil dan motor listrik nasional. Tetapi juga dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan, dan ketenagalistrikan,” ungkap Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit P Santosa dalam keterangan resmi, Kamis (16/7/2026). 

Mineral kritis merupakan mineral yang memiliki peran penting untuk perekonomian dan pertahanan negara. Namun berisiko tinggi mengalami gangguan pasokan dan tidak memiliki substitusi yang memadai. 

Sementara itu, material maju merupakan material hasil rekayasa yang memiliki sifat fisik, kimia, atau mekanik lebih unggul dibandingkan material konvensional. 

Menurut Sigit, pengembangan industri middle stream material maju harus menjadi bagian dari transformasi industri nasional menuju ekonomi berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi. 

“Kami ingin transformasi ini menuju ekonomi berbasis teknologi, manufaktur bernilai tambah tinggi, dan penguasaan rantai pasok masa depan,” katanya. 

Ia menilai, Indonesia harus mampu menangkap peluang meningkatnya permintaan regional, memperkuat kapabilitas teknologi, serta meningkatkan daya saing di pasar global agar tercapai skala ekonomi yang berkelanjutan. 

Baca juga : Perusahaan Pemilik Truk Dituntut Tanggung Jawab

Karena itu, pengembangan industri material maju perlu dilakukan secara terintegrasi untuk memperkuat daya saing industri nasional. 

Sigit menegaskan, keunggulan Indonesia tidak hanya terletak pada kekayaan mineral, tetapi juga pada kemampuan mengolahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang industri baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, hingga berbagai teknologi masa depan. 

“Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global,” ujarnya. 

Senada, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan, Indonesia harus berdaulat dengan menguasai rantai pasok global industri pengolahan mineral. 

Menurutnya, selama ini nilai tambah kekayaan mineral Indonesia masih lebih banyak dinikmati negara lain, karena Indonesia hanya mengekspor bahan mentah atau mengolahnya hingga tahap ekstraksi. 

“Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju,” tegas Rosan. 

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok global. 

“Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah hingga rare earth,” ujarnya. 

Baca juga : Dicuekin, Kante Tetap Tersenyum

Mineral-mineral tersebut menjadi fondasi berbagai teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, industri pertahanan, dan energi bersih. 

“Namun, puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi, mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali-kali lipat,” katanya. 

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai, meningkatnya permintaan kendaraan listrik global akan mendorong lonjakan kebutuhan baterai berbasis nikel maupun lithium. 

Karena itu, Indonesia harus memiliki roadmap hilirisasi yang jelas, didukung infrastruktur dan kebijakan yang kuat dengan melibatkan BUMN. 

“Hal ini agar Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Ia pun mengapresiasi langkah Danantara mengoptimalkan hilirisasi melalui MoU tersebut, karena dapat menjadi momentum memperkuat tata kelola sumber daya mineral dan ketahanan pasokan. 

“Serta implikasinya terhadap percepatan transisi energi menuju clean energy dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tegasnya. 

Fahmy tetap optimistis prospek investasi hilirisasi nikel Indonesia akan tetap menjanjikan, meski saat ini industri nikel menghadapi tekanan akibat penurunan harga dan melemahnya permintaan global. 

Baca juga : Lamine Yamal, Dulu Digendong Messi, Kini Rival

“Dalam jangka panjang, Indonesia tetap memiliki daya tarik tinggi sebagai tujuan investasi di sektor hilirisasi,” yakinnya. 

Perkuat Kolaborasi 

Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan menegaskan pengembangan advanced materials merupakan fondasi lahirnya produk-produk teknologi strategis bernilai tambah tinggi. 

“Keberhasilan hilirisasi harus diukur dari kemampuan menghasilkan produk teknologi yang berdampak bagi perekonomian nasional,” katanya. 

Menurut Joga, Indonesia memiliki cadangan mineral yang sangat besar. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan sumber daya tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk berteknologi tinggi. 

“Di sinilah kolaborasi Pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya. 

Sebagai induk Holding Industri Pertahanan Defend ID, Len bersama PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana terus mengembangkan berbagai solusi berbasis elektronika, komunikasi, radar, energi, transportasi, kemaritiman, hingga transformasi digital. 

Menurut Joga, penguatan ekosistem advanced materials harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengelolaan sumber daya mineral, pengembangan material maju, riset dan inovasi, hingga proses manufaktur berteknologi tinggi. 

“Kolaborasi yang berkelanjutan akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik sekaligus memperkuat kemandirian industri nasional,” pungkasnya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.