Dark/Light Mode

Pergeseran Layar Tontonan dan Landscape Bisnis Kanal Digital Indonesia

Selasa, 21 Juli 2026 20:29 WIB
Ilustrasi pergeseran layar tontonan dan landscape bisnis kanal digital Indonesia (Gambar: Dok. Pribadi)
Ilustrasi pergeseran layar tontonan dan landscape bisnis kanal digital Indonesia (Gambar: Dok. Pribadi)

Masih terlintas di benak suasana nobar di kampung. TV tabung berukuran besar ditaruh di teras rumah, ibu-ibu menyiapkan gorengan dan kopi tubruk, anak-anak berkerumun di tikar plastik, dan semua yang menyaksikan larut dalam satu emosi yang sama. Suasananya meriah, hangat, dan spontan. Itulah wajah Indonesia ketika menyambut setiap pagelaran Piala Dunia. Sebuah pesta rakyat dalam arti yang paling sederhana.

Piala Dunia 2026 baru saja usai. Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di menit ke-106 babak perpanjangan waktu di MetLife Stadium, New Jersey. Sepanjang turnamen, La Roja hanya kemasukan satu gol. Rekor pertahanan terbaik bagi juara Piala Dunia sepanjang sejarah. Sebuah pencapaian luar biasa. Namun di Indonesia, pertanyaan menariknya bukan siapa yang juara, melainkan bagaimana kita menontonnya dan bagaimana perubahan itu membuka peluang baru bagi dunia usaha.

Dari Layar Bersama ke Layar Masing-Masing

Beberapa dekade lalu, nobar adalah cara utama masyarakat Indonesia menikmati Piala Dunia. Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, 2006 di Jerman, bahkan 2010 di Afrika Selatan. Warung kopi, balai Desa, dan halaman rumah warga menjadi "stadion rakyat" yang terbuka untuk siapa saja. Saya sebut pengalaman menonton yang kolektif. Menyatu pada satu layar, satu emosi dan satu momen.

Kini lanskapnya telah berubah secara fundamental. Data Digital 2026 dari We Are Social dan Meltwater menunjukkan bahwa orang Indonesia menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, tersebar di rata-rata 7,7 platform berbeda setiap bulan. Indonesia memiliki 230 juta pengguna internet dengan penetrasi 80,5 persen, dan lebih dari 210 juta pengguna smartphone. TikTok menyerap 44 jam 54 menit per bulan dari setiap penggunanya, sementara YouTube memimpin durasi sesi terlama dengan hampir 17 menit per kali buka.

Konsekuensinya, cara masyarakat mengonsumsi konten Piala Dunia pun bergeser. Banyak orang kini mengikuti turnamen melalui highlight, meme, atau potongan video pendek tanpa menonton pertandingan secara penuh. FIFA mencatat bahwa engagement media sosial Piala Dunia Qatar 2022 melonjak 448 persen dari edisi 2018, dengan video views mencapai 3,6 miliar di kanal resmi. Untuk 2026, tren ini semakin menguat. Piala Dunia bukan lagi sekadar acara televisi melainkan fenomena digital yang dikonsumsi secara terfragmentasi.

Baca juga : Resmikan Nongsa Changi Cable, Menko Airlangga: Batam Gerbang Digital Indonesia

Ini bukan soal kemeriahan yang hilang, melainkan kemeriahan yang berpindah tempat. Dari layar besar di Balai Desa, ke jutaan layar kecil di genggaman masing-masing warga Desa.

Logika di Balik Pergeseran

Untuk memahami fenomena ini, kita bisa merujuk pada konsep attention economy yang pertama kali dirumuskan oleh Herbert A. Simon, peraih Nobel Ekonomi, pada 1971. Simon menjelaskan bahwa kelimpahan informasi menciptakan kelangkaan perhatian. Semakin banyak konten yang tersedia, semakin terbatas kemampuan manusia untuk memberikan perhatian penuh pada satu hal.

Dalam konteks Piala Dunia, data mendukung teori ini. FIFA memproyeksikan Piala Dunia 2026 menjangkau 6 miliar orang secara global, naik 20 persen dari Qatar 2022 yang meraih 5 miliar. Angka absolut naik, tetapi proporsi perhatian terhadap satu pertandingan menurun karena penonton kini memiliki pilihan hiburan yang jauh lebih beragam. Menurut Nielsen, streaming telah mencapai 44,8 persen dari total waktu menonton di Amerika Serikat pada Mei 2025, melampaui gabungan broadcast dan cable untuk pertama kalinya.

Di Indonesia, persaingan perhatian ini semakin intensif. Pasar OTT (over-the-top) bernilai sekitar 5 miliar dolar AS dengan pemain yang sangat beragam, di antaranya Netflix, Disney+, Vidio, Viu, WeTV, dan lainnya. Pasar iklan digital mencapai 3,41 miliar dolar AS pada 2026 menurut Mordor Intelligence, dengan format video menguasai 34 persen total belanja. Artinya, setiap konten termasuk Piala Dunia harus bersaing memperebutkan waktu dan perhatian konsumen yang sama.

Cerug Peluang bagi Pemain di Pasar Digital

Baca juga : Pertamina Dan Boeing Jajaki Pengembangan Ekosistem SAF Di Indonesia

Bagi pelaku bisnis yang jeli, pergeseran ini bukan ancaman melainkan peluang. Terdapat sebuah momentum dalam setiap gelombang perubahan yang datang. Pertanyaannya bagaimana cara membaca momentum dan berselancar di galombang perubahan platform hiburan ini.

Pertama, manfaatkan momentum konten pendek. Dengan 108 juta pengguna dewasa TikTok di Indonesia dan durasi pemakaian rata-rata 44 jam per bulan, platform video pendek adalah kanal distribusi yang sangat potensial. Pelaku usaha dapat membuat konten yang mengaitkan brand mereka dengan momen-momen besar seperti Piala Dunia tanpa harus membeli hak siar atau mengeluarkan biaya besar. Kreativitas menjadi modal utama di sini.

Kedua, jangan abaikan potensi connected-TV. Iklan CTV adalah segmen yang tumbuh paling cepat dalam ekosistem periklanan digital Indonesia. Data menunjukkan 83 juta pengguna OTT yang streaming 3,5 miliar jam per bulan, dengan separuh di antaranya bersedia menonton empat iklan atau lebih per jam. Ini adalah inventory premium yang patut diperhitungkan oleh pengiklan.

Ketiga, bangun strategi multi-platform. Era di mana satu kanal bisa menjangkau semua orang telah berlalu. Dengan rata-rata 7,7 platform yang digunakan masyarakat Indonesia setiap bulan, pelaku usaha perlu mendistribusikan konten dan belanja iklan secara lebih merata lintas platform, dimulai dari media sosial hingga streaming, dari YouTube maupun podcast.

Keempat, kolaborasi dengan creator economy. Ekonomi kreator Indonesia telah mencapai Rp 450 triliun menurut data Bank Indonesia tahun 2025, dengan 12 hingga 15 juta kreator aktif. Kolaborasi dengan kreator lokal yang memiliki audiens niche, misalnya kreator konten sepak bola, lifestyle, atau kuliner. Hal ini berdampak besar dalam memberikan jangkauan yang lebih autentik dan efektif dibanding iklan konvensional.

Kelima, siapkan bisnis untuk live commerce. Di Indonesia, 60 persen pembeli online kini berbelanja melalui sesi live streaming, dan video commerce menyumbang 20 persen GMV e-commerce pada 2025, naik dari kurang dari 5 persen pada 2022. Pelaku usaha yang mengintegrasikan momen-momen budaya pop termasuk olahraga besar ke dalam strategi live commerce mereka akan memiliki keunggulan kompetitif.

Baca juga : Al Azhar Memorial Garden Siap Ekspansi Ke Berbagai Kota Di Indonesia

Terakhir, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 130-150 miliar dolar AS pada akhir 2026 menurut ProSpace Research Institute. Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi smartphone di kota-kota lapis kedua dan ketiga. Pelaku usaha yang mampu menjangkau pasar di luar Jawa dengan konten dan layanan yang relevan secara lokal akan menangkap gelombang pertumbuhan berikutnya.

Yang Tetap adalah Perubahan

Saya mengutip sebuah pesan bijaksana dari filsuf Yunani Heraclitus yang hingga kini masih tetap relevan. Tidak ada yang permanen kecuali perubahan itu sendiri. Seseorang tidak pernah melangkah di sungai yang sama dua kali, karena airnya selalu berbeda.

Cara kita menonton Piala Dunia telah berubah. Cara kita berkumpul telah berubah. Cara bisnis menjangkau konsumen telah berubah. Dan semua itu bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan, melainkan dipahami dan diantisipasi.

Spanyol merayakan gelar juara kedua mereka di hadapan 82 ribu penonton di New Jersey. Ferran Torres, sang pencetak gol tunggal di final, berkata bahwa gol itu milik 47 juta rakyat Spanyol. Namun bagi Indonesia, pelajaran dari perhelatan Piala Dunia berbeda dan sederhana. Kemeriahan tidak harus berbentuk sama seperti dulu agar tetap bermakna. Yang terpenting adalah sebagai masyarakat maupun pelaku usaha perlu adaptif untuk mengalir bersama perubahan, bukan melawannya. Karena seperti kata Heraclitus, satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Muhammad Faisal Saihitua
Muhammad Faisal Saihitua
Pengamat Ekonomi Digital/Direktur EYF Indonesia (Business Consultant & Strategy)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.