Dark/Light Mode

Kena Dampak Corona, Industri Perhiasan Kurang Kinclong

Rabu, 8 April 2020 13:05 WIB
Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih. (Foto: ist)
Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri perhiasan terkena dampak corona. Permintaan pasar lokal dan ekspor erus berkurang.

Data dan informasi dari Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menunjukkan, terjadi penurunan produksi karena berkurangnya permintaan pasar, baik lokal maupun ekspor. Sejak Maret 2020, kegiatan ekspor produk perhiasan dari Indonesia berhenti total karena negara tujuan melakukan karantina atau lockdown dan menutup kantornya yang direncanakan terjadi hingga pertengahan April 2020. 

“Beberapa komitmen pemesanan untuk buyer dari Amerika Serikat, dijadwalkan ulang pengirimannya hingga Juni, bahkan ada yang sampai September,” ujar Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Rabu (8/4).

Baca juga : Bantu Corona, Gelandang Persija Marc Klok Lelang Sepatu

Sedangkan untuk pasar lokal, penjualan mendekati nol, karena harga emas yang sangat tinggi hingga melampaui Rp 800 ribu per gram dan beberapa pedagang emas juga sudah memilih untuk menutup tokonya.

Dirjen IKMA menambahkan, 30 persen hingga 50 persen karyawan di pabrikan industri perhiasan yang merupakan anggota APPI masih bekerja, sementara sisanya diliburkan selama dua minggu sambil menunggu keadaan selanjutnya. Adapun pabrik industri perhiasan yang masih beroperasi, telah diimbau untuk menjalankan protokol kesehatan, di antaranya memberikan jarak kerja minimum satu meter antara pekerja yang satu dengan pekerja yang lain. 

Selain itu, dilakukan pengecekan suhu tubuh setiap karyawan yang masuk ke pabrik. Karyawan juga wajib menggunakan masker di lingkungan pabrik. Untuk menjaga imunitas pekerjanya, perusahaan juga memberikan makanan sehat dan vitamin kepada setiap karyawan yang masih mengerjakan proses produksi.

Baca juga : Bantu Penanganan Corona, BRILian Kumpulkan Dana CSR Rp 1,5 M

Dalam meningkatkan daya saing IKM perhiasan, Kemenperin sebelumnya telah melakukan beberapa upaya strategis, antara lain pelatihan dan pendampingan tenaga ahli desainer, serta bantuan mesin dan peralatan khususnya di Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang dapat dimanfaatkan oleh IKM di sentra.

Selanjutnya, promosi dan pemasaran melalui pameran dalam dan luar negeri, peningkatan keterampilan SDM melalui pendidikan dan pelatihan produksi, serta perbaikan iklim usaha terkait dengan regulasi di bidang fiskal untuk kemudahan impor bahan baku.

“Harapannya tentu upaya tersebut dapat memberikan dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan maupun masyarakat secara umum, melalui pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas," jelas Gati.

Baca juga : Jokowi Minta Bansos Corona Tepat Sasaran

Berdasarkan catatan Kemenperin, pada tahun 2018, nilai ekspor perhiasan mencapai 2,05 miliar dolar AS. Sementara itu, pada Januari-Agustus 2019 telah menembus hingga 1,47 miliar dolar AS, naik dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 1,3 miliar dolar AS. Adapun negara tujuan ekspor produk perhiasan nasional masih didominasi oleh Singapura, Swiss, Hongkong, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Italia yang mencapai 97 persen dari total ekspor. [DIT]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.