Dark/Light Mode

Perkecil Gap Defisit Transaksi Berjalan Dengan PDB

BI Kerek Lagi Repo Rate 25 Bps Jadi 6 Persen

Jumat, 16 November 2018 20:55 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Khairizal/Rakyat Merdeka)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Khairizal/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Semakin melebarnya jurang antara defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dengan produk domestik bruto (PDB), memaksa Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate (repo rate) sebesar 25 basis poin (bps), sehingga kini menjadi 6 persen.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dilaksanakan pada 14-15 November 2018 tersebut, juga diputuskan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan tersebut sebagai langkah lanjutan Bank Indonesia untuk memperkuat upaya menurunkan CAD ke dalam batas yang aman.

“Tentunya selama ini level kenaikan repo rate sudah efek­tif turunkan CAD. Tapi kita ingin memastikan CAD akan terus turun. Kami juga upayakan koordinasi pemerintah tahun de­pan, (sehingga CAD) menurun menjadi 2,5 persen dari PDB. Tahun ini kami ingin menekan lebih rendah dari 3 persen PDB,” terang Perry saat menggelar kon­ferensi pers pengumuman RDG BI di Jakarta, kemarin.

Sebagaimana diketahui, posisi CAD pada triwulan III-2018 me­lebar menjadi 3,37 persen dari PDB, lebih tinggi dibanding tri­wulan sebelumnya sebesar 3,02 persen. Padahal batas amannya di bawah 3 persen.

Tak hanya itu, Perry meng­klaim, keputusan naiknya repo rate guna memperkuat daya tarik aset keuangan dengan mengan­tisipasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) dalam beberapa bulan ke depan. Sehingga mendorong aliran modal asing masuk.

Baca juga : BKS: Bisa Setop Perang Tarif

Untuk itu, Bank Sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi global tumbuh melan­dai dan tidak seimbang, disertai ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi. Ekono­mi AS yang tumbuh kuat pada 2018 diperkirakan akan menga­lami konsolidasi pada 2019.

“Namun ekspektasi inflasi AS tetap tinggi, sehingga the Fed diperkirakan melanjutkan kenaikan suku bunga kebijakan­nya. Di Eropa, pertumbuhan ekonomi cenderung melambat di tengah inflasi yang dalam tren meningkat,” ujarnya.

Sementara di negara emerging markets, pertumbuhan ekonomi China juga terus melambat, yang disebabkan berlanjutnya proses deleveraging di sistem keuangan dan pengaruh ketegangan hubungan dagang dengan AS. Pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai dan risiko mem­buruknya hubungan dagang antarnegara tersebut, tentu akan berdampak pada tetap rendahnya volume perdagangan dunia.

Menyoal nilai tukar rupiah, Perry bilang pergerakannya sudah sesuai fundamentalnya, meski sempat mengalami depre­siasi hingga Oktober 2018 dan menguat di November 2018. Secara point to point, imbuhnya, rupiah terdepresiasi 3,84 persen dan sekitar 1,98 persen di Ok­tober 2018.

“Hal ini lantaran ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Aliran masuk modal ke pasar keuangan dari semua jenis aset year to date terdepresiasi 8,25 persen lebih rendah dari Turki, Afrika Selatan, dan India,” jelas Perry.

Sementara, sebagai langkah mendorong lebih lanjut pendala­man pasar keuangan, khususnya pasar uang rupiah, BI mener­bitkan aturan transaksi derivatif suku bunga rupiah, yaitu Interest Rate Swap (IRS) dan Overnight Index Swap (OIS). Aturan terse­but dapat memperkaya alternatif instrumen lindung nilai terhadap perubahan suku bunga domestik.

Baca juga : Mau Terbang Lagi, Merpati Disuruh Beresin Utang Dulu

“Dengan telah diterbitkannya IndONIA (Indonesia Overnight Index Average) dan upaya penguatan JIBOR (Jakarta Inter­bank Offered Rate), kebijakan ini diharapkan dapat mendukung pembentukan yield curve yang lebih transparan di pasar uang dan pasar utang. Dan selanjutnya dapat memperkuat transmisi ke­bijakan moneter, serta mendorong berkembangnya pasar surat utang, baik yang diterbitkan Pemerintah maupun korporasi,” ujarnya.

IndONia merupakan indeks pinjam meminjam antar bank tanpa agunan untuk jangka waktu satu malam atau over­night. Singkatnya, IndONIA ada­lah suku bunga acuan pasar uang antarbank (PUAB) untuk tenor satu malam atau overnight.

Mengomentari kenaikan repo rate, Chief Economist dari PT Bank Permata Tbk Josua Pardede berpendapat, seharusnya BI tetap mempertahankan repo rate, mengingat kondisi global masih positif. Salah satunya dari harga minyak dunia yang tertekan. Ditambah sentimen perang da­gang mereda, sehingga membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat.

Sementara dari sisi internal, inflasi cukup terkendali sehingga seharusnya menjadi pertimbangan BI. Tercatat inflasi Oktober 2018 sebesar 0,28 persen. Inflasi Januari-Oktober 2018 sebesar 2,22 persen dan inflasi tahun kalender 3,16 persen.

“Sebetulmya memang repo rate masih bisa bertahan 5,75 persen, karena sentimennya membaik. Meskipun CAD meningkat, tapi hal itu masih berada dalam batas aman,” imbuhnya kepada Rakyat Merdeka.

Meski begitu, Josua mengakui adanya sorotan pertemuan G20 akibat negosiasi perang dagang be­lum ada solusi. The Fed pun cenderung agresif meski pertahankan suku bunga acuan. Namun tetap normalisasi (kenaikan suku bunga-red) tahun depan,” katanya.

Baca juga : Nasib Merpati Diketok Hari Ini

“Sentimen FFR tetap men­jadi perhatian, dan ini dapat dikelola baik. Apalagi aliran dana investor asing juga sudah mulai masuk ke pasar keuangan Indonesia. Ditambah cadangan devisa juga masih kuat. Hal tersebut dapat memberikan ke­percayaan di pasar,” katanya.

Hal senada dikatakan Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Jahja melihat, BI sebenarnya tidak perlu kembali menaikkan bunga acuan dalam RDG bulan ini. Pasalnya saat ini, kondisi market cukup tenang, bahkan sempat menguat.

“Jadi, suku bunga belum perlu naik. Justru yang perlu dianti­sipasi adalah rencana kenaikan FFR di Desember mendatang. Jika memang terjadi kenaikan suku bunga The Fed, maka BI pun perlu menyesuaikan,” ucap­nya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.