Dark/Light Mode

Demi Bertahan Di Masa Pandemi

BUMN Perikanan Lebarkan Sayap Berjualan Via Online

Sabtu, 4 Juli 2020 06:34 WIB
Ilustrasi industri perikanan. (Foto: Antara)
Ilustrasi industri perikanan. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lesunya bisnis hotel dan restoran di masa pandemi corona berdampak buat BUMN perikanan. Stok ikan berlimpah tapi minim pembeli. Untuk bisa bertahan, BUMN perikanan pun melebarkan sayap dengan berjualan via online.

Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Ka­din) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto, meski sudah memasuki masa kenormalan baru, penjualan ikan masih jauh dari kata normal.

Mencari pembeli di dalam negeri masih susah karena masih banyak hotel dan restoran yang tutup. Sementara untuk ekspor juga sulit. “Kepastian pembelian agak terganggu, karena logistik dan angkutan semakin mahal. Padahal stok ikan berlimpah,” jelas Yugi, kemarin.

Kondisi ini memaksa BUMN perikanan maupun swasta putar otak mencari cara mendongkrak penjualan. Belakangan, sebagian menggenjot penjualan di dalam negeri dengan memanfaatkan jaringan marketplace.

Berita Terkait : Industri Logam Dan Makanan Jadi Andalan Ekspor

“Teman-­teman asosiasi dan milenial sudah ada yang men­ jalankan dan cukup banyak mereka yang melakukan bisnis online,” ucapnya.

BUMN perikanan seperti PT Perikanan Nusantara (Persero) juga sudah mulai menjalankan pola bis­nis seperti ini. Direktur Operasional dan Pemasaran PT Perikanan, Ronald Tanamal mengatakan, pihaknya berusaha mengikuti pe­ rubahan perilaku pasar

“Sebelumnya pola interaksi ini didominasi oleh pola penjua­lan business to business (B2B), sekarang menjadi business to customer (B2C),” kata Ronald dalam keterangannya, kemarin

PT Perikanan bekerja sama dengan Grab Mart untuk me­masarkan dan menjual produk ikan dalam kemasan, Tukato Seafood. “Produk Tukato seperti, tuna steak, tenggiri steak, gurita, cumi ring dan berbagai macam produk frozen seafood lainnya. Kami bisa antar langsung ke tempat konsumen via Grab Bike sesuai standar protokol kesehatan,” katanya.

Baca Juga : Hiburan Malam Yang Nekat Buka, Digebuk Aja

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor ikan Januari–Maret 2020 mencapai 295,13 ribu ton, atau meningkat 10,96 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Pada April 2020 volume ekspor tercatat mencapai 119,65 ribu ton, atau meningkat 29,84 persen apa­ bila dibanding April 2019.

Meningkatnya produktivitas perikanan dan ekspor itu berkat dukungan regulasi. Kadin menilai Kementerian Kelautan dan Peri­ kanan (KKP) berhasil melakukan gebrakan melalui reformasi per­izinan dengan efektifnya Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (SILAT) berbasis online

Sistem yang dikelola Direk­torat Jenderal Perikanan Tang­kap (Ditjen PT) ini mampu memangkas pengurusan izin dari 14 hari menjadi satu jam saja. 

“Banyak dari rekan pelaku usaha juga nelayan sangat ter­bantu dengan ini. Permohonan izin kapal perikanan di atas 30 GT (gross tonagge) dapat dengan mudah didapatkan, se­ hingga tidak ada hambatan untuk melaut,” kata Yugi.

Baca Juga : Resesi Sudah Di Depan Mata

Satu lagi yang diapresiasi Yugi dari KKP adalah, usulan agar pemberian bansos ke masyarakat menyertakan ikan diterima de­ngan baik. BUMN perikanan pun menyerap tangkapan nelayan untuk bansos. “Salah satu con­ tohnya permintaan ikan sarden jadi membludak, salah satunya untuk bansos,” tegasnya. [JAR]