Dewan Pers

Dark/Light Mode

Medco E&P Kembali Temukan Potensi Gas Di Natuna

Selasa, 13 Oktober 2020 19:46 WIB
ILUSTRASI. Eksplorasi minyak Medco E&P Indonesia di laut Natuna.
ILUSTRASI. Eksplorasi minyak Medco E&P Indonesia di laut Natuna.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kontraktor Kontrak Kerja Sama ( KKKS) Medco E&P Natuna kembali menemukan cadangan komersial untuk dikembangkan melalui pemboran sumur eksplorasi West Belut-1.

Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih mengatakan, dengan temuan tersebut membuat sepanjang tahun 2020 Medco E&P Natuna memiliki success ratio pemboran sebesar 100 persen.

Sebelumnya KKKS tersebut juga berhasil menemukan cadangan hidrokarbon melalui 3 sumur eksplorasi di Wilayah Kerja (WK) South Natuna Sea Block B.

Berita Terkait : Warga Ibu Kota Harus Tetap Patuhi 3 M 

“Hasil uji pertama mencatat interval reservoir Formasi Udang terbukti mengalirkan hidrokarbon berupa gas sebesar 11,2 juta kaki kubik per hari (mmscfd),” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2020).

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan di wilayah Natuna potensi gas bumi masih menjanjikan. “Hasil-hasil tersebut menunjukkan potensi cadangan gas di wilayah Natuna masih besar," katanya.

Lebih lanjut, ia memastikan, cadangan tersebut akan segera dikembangkan sesuai strategi jangka panjang SKK Migas yaitu percepatan undeveloped discovery menuju 12.000 mmscfd gas di 2030.

Berita Terkait : Timnas U-19 Jalani Latihan Intensitas Tinggi Di Split

Susana menambahkan, ke depan akan ada 4 reservoir yang akan dilakukan pengujian.

“Melalui well testing ini diharapkan dapat menjelaskan performa produktivitas target reservoir gas di Struktur West Belut dan sehingga dapat menambah potensi cadangan migas di wilayah Natuna," tuturnya.

Pengembangan cadangan tersebut diyakini mampu mendongkrak penerimaan negara dan kesejahteraan rakyat.

Berita Terkait : Menghentikan Potensi Korup

"Aktivitas hulu migas di area tersebut akan membantu memberikan dukungan kepada Pemerintah dalam menunjukkan kedaulatan negara di wilayah Natuna yang berdekatan dengan Laut China Selatan yang saat ini menjadi kawasan yang menjadi perhatian banyak negara," kata Susana. [JAR]