Dewan Pers

Dark/Light Mode

Nolak Bantuan Bank Dunia

Luhut Amalkan Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Rabu, 18 Nopember 2020 06:51 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pepatah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah dipraktikkan Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan saat menolak tawaran Bank Dunia yang akan memberikan bantuan terkait pembiayaan penanganan Corona.

Tawaran itu datang saat Luhut melakukan kunjungan ke Amerika Sekitar (AS). Luhut tiba di negeri Paman Sam itu, Minggu sore (15/11). Senin (16/11), Luhut bertemu CEO Conservation International M Sanjayan, Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, United States Trade Representative (USTR) Robert Lighthizer, hingga Presiden Bank Dunia David Malpass.

Luhut dan Malpass bertemu di Kantor Kedutaan Besar RI untuk Amerika Sekitar, di Washington DC. Di pertemuan itu, Bank Dunia banyak menawarkan bantuan untuk Indonesia. Salah satunya, suntikan dana segar untuk pengadaan vaksin Covid-19. Namun, dengan tegas Luhut menolaknya. "Saya bilang, sudah cukup,” ucap Luhut, dalam sebuah diskusi daring, kemarin.

Berita Terkait : Kumpulkan Massa Lebihi Batas, Calon Pilkada Bangka Tengah Disemprit Bawaslu

Rupanya, Malpass belum menyerah memberi tawaran pinjaman untuk program lain. “Sampai mereka nanya, ‘apa yang bisa kami bantu?" kisah Luhut.

Ditanya begitu, Luhut lalu menyodorkan program rehabilitasi mangrove seluas 630.000 hektare. Replanting mangrove terbesar di dunia ini masuk dalam salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam lingkup lingkungan. 

Menurut Luhut, bila nantinya mangrove tumbuh dan menjadi ekosistem ikan dan kepiting, pemeliharaannya akan membuka lapangan pekerjaan baru.

Berita Terkait : Kementan Ekspor Bahan Baku Obat Hewan Sediaan Premiks Ke Eropa Dan Asia

"Kalian bantu mangrove saja," ucap Luhut mengulang percakapannya dengan Malpass. "Termasuk tadi dengan coral reef (batu karang). Kami membuat ini untuk generasi cucu-cucu kita semua," sambungnya.

Menurut Luhut, Bank Dunia menaruh minat pada program yang ditawarkan ini. Namun, dia menegaskan, program itu bukan untuk menyenangkan Bank Dunia, tapi program itu dibuat untuk masa depan generasi Indonesia.

"Kalian juga jangan merasa kami ini harus men-service (melayani) kalian ya. Yang pertama (jadi perhatian) adalah generasi yang akan datang. Saya kira message (pesan) itu very clear (sangat jelas)," ucapnya.

Berita Terkait : Jokowi : Alhamdulillah, Kasus Aktif dan Kesembuhan Covid RI Lebih Baik Dari Rata-rata Dunia

Luhut juga dengan tegas meminta dunia tak menceramahi Indonesia soal lingkungan. Seperti soal kebakaran hutan 2 juta hektare pada 2015. Sebab, negara-negara lain juga mengalami kebakaran hutan. Bahkan lebih parah. Hutan Amerika yang terbakar hingga 4 juta hektare, dan Australia 6 juta hektare. "Jadi diplomasi itu straightforward (lugas) tetapi dengan humble tone (nada rendah hati)," jelas Luhut.

Meskipun tawaran pinjaman ditolak Luhut, Bank Dunia tak tersinggung. Malpass justru senang. Khususnya, ketika ia mendapat penjelasan soal Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker).
 Selanjutnya