Dark/Light Mode

Pisahkan Dana WanaArtha

BPK Dan OJK Perlu Gelar Audit Khusus Cegah Korban Jiwasraya

Jumat, 20 Nopember 2020 15:39 WIB
Pisahkan Dana WanaArtha BPK Dan OJK Perlu Gelar Audit Khusus Cegah Korban Jiwasraya

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus Jiwasraya dinilai membutuhkan penanganan khusus. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perlu melaksanakan audit khusus atau pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Karena kasus ini, juga mempengaruhi nasib dana nasabah WanaArtha Life.

Pengamat Asuransi, Azuarini Diah menuturkan, perusahaan negara tersebut merupakan perusahaan besar yang bisa dipastikan saja menghasilkan banyak transaksi.

Banyak transaksi itu yang membutuhkan sebuah auditor khusus. “Semua transaksi tersebut tentu harus dilakukan secara bertanggung jawab. Disinilah BPK berperan untuk memeriksa kegiatan tersebut,” ujarnya.

Terkait dengan pemisahan antara dana yang dicurigai terkait kejahatan pidana dengan dana nasabah WanaArtha Life, ia sepakat untuk secepatnya dilakukan.

Hal ini penting agar tak makin membuat masyarakat dirugikan akibat dana investasinya tersandera. “Belum lagi kepercayaan masyarakat yang menurun terhadap produk produk asuransi sejenis,” serunya.

Ia menegaskan, walaupun tujuan penyitaan dan pembekuan rekening yang dilakukan Kejagung adalah untuk mengamankan pengembalian kerugian negara akibat kasus Jiwasraya, bukan berarti semua dana dalam rekening, di luar jumlah kerugian negara juga ikut dibekukan.

Baca Juga : Retno Dorong Pertumbuhan Ekonomi Yang Aman Di Tengah Pandemi

“Seharusnya tak semua orang harus jadi korban dan dilibatkan dengan kasus yang terjadi, hanya karena membeli saham yang kebetulan sama dengan yang dimiliki Jiwasraya,” jelasnya.

Seperti diketahui, 13 SRE dan 42 IFUA (Investor Fund Unit Account) WanaArtha mulai diblokir Kustodian Sentra Efek (KSEI) per 21 Januari 2020, atas instruksi OJK yang diminta oleh Kejagung.

Jika dihitung, nilai efek yang diblokir KSEI waktu itu sekitar Rp3 triliun. Terdiri dari nilai aset investasi WanaArtha di saham sebesar Rp 1,44 triliun dan di reksadana sebesar Rp 1,54 triliun. Sumber lain menyebutkan, dana di rekening WanaArtha yang dibekukan mencapai Rp 4,1 triliun.

Karena pemblokiran ini WanaArtha pun kesulitan membayar manfaat klaim pemegang polis. Kemudian mulai gagar bayar pada bulan-bulan berikutnya.

Pemegang polis WanaArtha sendiri tercatat sebanyak 26 ribu polis, terdiri dari produk dwiguna dan unit link.

Pengamat Hukum Ekonomi Pusat Studi Hukum Kebijakan Indonesia (PSHK), Muhammad Faiz menilai dana nasabah dalam hal ini bisa dipisahkan dengan dana lain dalam rekening efek Wanaartha yang benar-benar terkait kasus.

Baca Juga : Duet Bareng KAI, Pelindo III Optimalkan Aset dan Inovasi Proses Bisnis

"Memang baiknya perlu audit ya terhadap hal itu. Ini untuk melihat mana dana nasabah, mana yang bukan. Bagaimanapun nasabah harus dilindungi. Mungkin mereka mempunyai kebutuhan mendesak yang bergantung kepada dana tadi,” kata Muhammad Faiz kepada wartawan, dikutip Jumat (20/11).

Menurutnya, sebagai otoritas keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa saja meminta kepada BPK untuk mengaudit khusus kasus ini, agar dana nasabah bisa diselamatkan dan industri keuangan punya reputasi yang bagus.

Meski BPK sendiri sudah melakukan pemeriksaan investigasi maupun Penghitungan Kerugian Negara (PKN) terhadap kasus Jiwasraya, audit khusus untuk memastikan dana yang terlibat kasus dengan dana nasabah memang masih dimungkinkan.

Seperti diatur dalam Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004, Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

“Sebagai otoritas keuangan di Indonesia dan bentuk upaya melindungi konsumen, sebaiknya OJK bersama dengan Self-Regulatory Organization di pasar modal, juga berkomunikasi dengan Kejagung terkait hal pemisahan rekening efek ini,” tutur Faiz.

Hanya saja, kabar yang mengemuka justru memperlihatkan koordinasi internal di OJK sendiri, antara Pengawas Pasar Modal dengan Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) tidak terjalin dengan baik.

Baca Juga : Miftachul Akhyar Dianggap Sosok Tepat Untuk Pimpin MUI

Dalam kasus WanaArtha Life ini, Pengawas IKNB OJK, terkesan tidak tahu menahu ketika rekening Sub Rekening Efek (SRE) WanaArtha dibekukan Pengawas Pasar Modal OJK.

“Perlu ada peningkatan intensitas pengawasan khususnya yang terkait onsite supervision dan meninjau atau evaluasi metode atau cara pengawasan yang selama ini sudah dijalankan OJK,” ujar Faiz.

Sebelumnya, dalam konferensi pers virtual, OJK mengaku belum bisa memberikan informasi lanjutan terkait dengan nasib nasabah atau pemegang WanaArtha Life.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi beralasan, saat ini pembahasan terkait suntikan modal dan proses hukum masih berjalan. OJK sejauh ini dinilai sudah melakukan beberapa kali diskusi dengan pemegang saham dan manajemen perusahaan asuransi jiwa tersebut.

Namun pemegang saham belum bisa memberikan respons terkait dengan penambahan modal perusahaan. Sekalipun hal ini dinilai dapat berdampak pada industri secara keseluruhan, namun OJK mengaku tetap harus menghormati proses hukum yang saat ini berjalan. [JAR]