Dark/Light Mode

Ekonomi Global Mulai Pulih, BI Tahan Bunga Di Level 3,75 Persen

Kamis, 17 Desember 2020 15:56 WIB
Gedung Bank Indonesia. (Foto: ist)
Gedung Bank Indonesia. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rapat dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 16-17 Desember 2020 memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (repo rate) sebesar 3,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,5 persen. Hal ini seiring dengan mulai bangkitnya ekonomi global.

"Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (17/12).

BI, kata Perry, akan memperkuat sinergi kebijakan dan mendukung berbagai kebijakan lanjutan untuk memulihkan ekonomi nasional dengan pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19, akselerasi stimulus fiskal, dan penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran. Kemudian, melanjutkan stimulus moneter dan makroprudensial, serta mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan. 

Di samping kebijakan tersebut, kata Perry, BI juga melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar, memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung kebijakan moneter akomodatif. Selanjutnya, memperkuat kebijakan makroprudensial akomodatif untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

Baca juga : Jangan Cuma Di Atas Kertas

"Mendorong penurunan suku bunga kredit melalui pengawasan dan komunikasi publik atas transparansi suku bunga perbankan dengan koordinasi bersama OJK," katanya.

Kemudian, BI memperkuat pendalaman pasar uang melalui perluasan underlying Domestic Non Delivery Forward (DNDF) guna meningkatkan likuiditas dan penguatan JISDOR sebagai acuan dalam mekanisme penentuan nilai tukar di pasar valas. Lalu, memperkuat koordinasi pengawasan perbankan secara terpadu antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjaminan Sosial (LPS) dalam rangka mendukung stabilitas sistem keuangan.

“Selanjutnya mempercepat transformasi digital dan sinergi untuk memperkuat pemulihan ekonomi melalui penguatan kebijakan sistem pembayaran dan percepatan implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025,” ujarnya.

Selain itu, kata Perry, BI memperpanjang kebijakan Merchant Discount Rate QRIS sebesar 0 persen untuk merchant Usaha Mikro sampai dengan 31 Maret 2021. Kemudian, memperkuat dan memperluas implementasi elektronifikasi dan digitalisasi, baik di pusat maupun di daerah, bersinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah serta otoritas terkait melalui pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.

Baca juga : Ekonomi Mulai Pulih, Bos BI Targetkan Kredit Tahun Depan Naik 9 Persen

"Dan, mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi serta kolaborasi perbankan dengan fintech melalui percepatan implementasi Sandbox 2.0, antara lain meliputi regulatory sandbox, industrial test, innovation lab dan startup," katanya.

Ke depan, bank sentral terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, dengan tetap menjaga terkendalinya inflasi dan memelihara stabilitas nilai tukar rupiah, serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Koordinasi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional. 

Fokus koordinasi kebijakan diarahkan untuk mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha, pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. 

"Kinerja perekonomian global terus menunjukkan perbaikan, dan diprakirakan akan meningkat lebih tinggi pada 2021," ujarnya.

Baca juga : LPS Pangkas Bunga Penjaminan Ke Level 4,5 Persen

Perbaikan ekonomi dunia didorong oleh peningkatan mobilitas dan dampak stimulus kebijakan yang berlanjut di berbagai negara, terutama Amerika Serikat (AS) dan China.  [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.