Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Bertahun-tahun masyarakat di Desa Rambahan, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi, menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam dan menggarap lahan perkebunan di kawasan subur di Provinsi Riau tersebut. Selama itu pula, masyarakat terbiasa bertani dengan cara yang tradisional dengan sistem perladangan berpindah. Dalam satu lahan yang dimiliki, mereka dapat merotasi berbagai komoditas tanam seperti padi, karet, dan umbi-umbian sesuai dengan musim tanamnya dan kembali mengulanginya jika panen tiba.
Sayangnya, beberapa tahun setelahnya mereka tidak mampu menggarap kembali lahan yang sudah ‘rusak’ dan membiarkannya menjadi lahan terlantar. Padahal, dengan pengelolaan lahan yang lestari, produktivitas lahan masyarakat dapat terus ditingkatkan yang pada akhirnya akan semakin menyejahterakan masyarakat.
Baca juga : Perhatikan Penanganan Cedera Saat Berolahraga
Dua puluh tahun setelahnya, penampakan lahan terlantar di desa itu nyaris tak terlihat lagi. Sejak 2002, warga yang tergabung dalam Hutan Rakyat (HR) kelompok tani Rambahan belajar mengelola lahan tersebut agar kembali produktif dengan mengembangkannya menjadi Hutan Tanaman Rakyat (HTR).
Dalam mengembangkan HTR, kelompok tani ini bermitra dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit usaha Grup APRIL yang mengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk diolah menjadi produk serat, pulp dan kertas. Perusahaan yang beroperasi di Riau ini diketahui sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia dengan produk “PaperOne” yang telah menembus pasar ekspor hingga lebih dari 70 negara.
Baca juga : Hutama Karya Bidik Kontrak Rp 21 T Di 2021
Bermitra dengan RAPP, HR kelompok tani Desa Rambahan mengelola hutan rakyat seluas 350 hektare yang dimiliki oleh 175 pemilik Surat Keterangan Tanah (SKT). Setiap pemilik surat, mengusahakan hutan tanaman akasia maksimal 2 hektare dalam kemitraan ini.
Dalam skema kemitraan ini, delapan kelompok tani di bawah HR Desa Rambahan mendapat bantuan berupa bibit, pupuk, perawatan dan pengawasan dari PT RAPP sejak dimulainya penanaman hingga panen tiba. Dengan begitu, seluruh proses produksi yang diusahakan di lahan rakyat tetap sesuai standar dan mutu produsen kertas berkelanjutan ini.
Baca juga : Abu Letusan Gunung Raung Bikin Bandara Banyuwangi Tutup
Dari proses kemitraan ini, para pemilik lahan juga menjadi memahami pentingnya pengelolaan lahan secara berkelanjutan dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mereka juga jadi teredukasi mengenai bagaimana penanaman pohon akasia yang baik, mulai dengan memberikan jarak tanaman 3x2 meter dengan tanaman lainnya hingga contoh pemupukan yang benar.
Seperti diketahui, HTR merupakan bagian dari Perhutanan Sosial yang menjadi program prioritas utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Skema perhutanan sosial ini diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya. Dengan adanya perhutanan sosial, masyarakat bisa turut mengelola lahan dan mendapatkan manfaat ekonomi yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya