Dark/Light Mode

Petrosea Teken Mining Services Agreement Senilai Rp 2,7 T

Kamis, 8 April 2021 20:27 WIB
Aktivitas penambangan yang dilakukan pekerja Petrosea/Ilustrasi (Foto: Petrosea)
Aktivitas penambangan yang dilakukan pekerja Petrosea/Ilustrasi (Foto: Petrosea)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Petrosea Tbk (PTRO) bersama anak usahanya, PT Karya Bhumi Lestari, menandatangani kerja sama jasa pertambangan dengan PT Kartika Selabumi Mining (KSM) dan PT Palm Mas Asri untuk area tambang KSM yang berlokasi di Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

Di dalam perjanjian, Petrosea sebagai pihak yang melakukan manajemen proyek dan KBL sebagai kontraktor. Kerja sama ini memiliki perkiraan target produksi sebesar 78,28 juta BCM volume lapisan tanah penutup dan 3,95 juta ton batubara untuk durasi tujuh tahun sampai 31 Desember 2027, dengan estimasi nilai kontrak sebesar Rp 2,7 triliun.

Baca Juga : Hadirkan Lapangan Kerja, Uji Coba Ojol Bikinan Partai Emas Terus Jalan

“Perolehan kontrak ini akan mendukung pencapaian sustainable superior performance di masa mendatang serta memastikan implementasi strategi 3D, yaitu diversifikasi, digitalisasi, dan dekarbonisasi, yang akan menjadi enabler (pendukung) dan pilar kunci perusahaan untuk terus mengembangkan value proposition kepada seluruh pelanggan dan stakeholder,” ujar Presiden Direktur Petrosea, Hanifa Indradjaya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (8/4).

Karya Bhumi Lestari adalah anak perusahaan yang 100 persen sahamnya dimiliki Petrosea. Anak perusahaan ini fokus untuk mendukung Petrosea di sektor pertambangan dan konstruksi, khususnya pengadaan alat berat, yang selalu mengedepankan operational excellence dan service excellence.

Baca Juga : Sandiaga Klaim Ratusan Ribu Pekerja Parekraf Bali Sudah Divaksin

Sebelumnya, Petrosea mengumumkan mendapatkan laba sebesar 32,28 juta dolar AS (setara Rp 470 miliar) pada tahun 2020. Angka ini naik 3,53 persen dari 31,18 juta dolar AS (setara Rp 454 miliar) dari tahun sebelumnya. Perusahaan juga berhasil meningkatkan posisi kas menjadi 133,95 juta dolar AS (setara Rp 1,6 triliun). Angka ini naik 59,12 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, walaupun mengalami penurunan total pendapatan sebesar 28,49 persen menjadi 340,65 juta dolar AS (setara Rp 4,9 triliun) dikarenakan pembatasan sosial yang diberlakukan di pasar internasional. [USU]