Dark/Light Mode

BI : Realisasi PEN Dorong Kebangkitan Ekonomi Di Tengah Pandemi

Selasa, 4 Mei 2021 19:59 WIB
Diskusi virtual bertajuk Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi dalam Mengungkit Perekonomian di Masa, di Jakarta, Selasa (4/5). (Foto: Istimewa)
Diskusi virtual bertajuk Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi dalam Mengungkit Perekonomian di Masa, di Jakarta, Selasa (4/5). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi nasional dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia (BI) melihat, harapan untuk ekonomi bisa membaik pada kuartal II-2021 terbuka lebar.

Hingga 16 April 2021, realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp 134,07 triliun. Angka itu setara 19,2 persen dari alokasi sebesar Rp 699,43 triliun.

Anggaran tersebut meningkat 22 persen dibandingkan tahun 2020. Rinciannya adalah untuk sektor kesehatan sebesar Rp 176,30 triliun, dukungan sosial sebesar Rp 157,41 triliun, dukungan UMKM dan korporasi sebesar Rp 184,83 triliun, insentif usaha sebesar Rp 58,46 triliun serta Rp 122,44 triliun untuk dukungan program prioritas.

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo mengatakan, beberapa program perbaikan diarahkan untuk menjadi game changer di 2021, demi mendorong pemulihan ekonomi yang berujung pada pertumbuhan ekonomi yang kembali meningkat.

Berita Terkait : Bos BI: ASEAN Sepakat Perkuat Ketahanan Ekonomi

"Dunia sudah mulai kembali berproduksi lagi saat memasuki tahun 2021, terutama yang memiliki pasar di luar negeri. Survei BI menunjukkan perbaikan di periode kuartal I dan II awal," imbuhnya dalam diskusi Akurat.co bertajuk Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi dalam Mengungkit Perekonomian di Masa Pandemi' secara virtual Jakarta, Selasa (4/5).

Dody mengatakan, meski belum melakukan investasi, dengan adanya kelonggaran kebijakan dari pemerintah, seperti pembiayaan yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, membuat dunia usaha kembali bergairah.

Dengan adanya geliat ini, Dody berharap korporasi mulai mengajukan pembiayaan modal kerja kepada perbankan. Sebab, likuiditas perbankan sangat mencukupi untuk memberikan pembiayaan.

Selain itu, Dody juga menjelaskan, antara suku bunga dasar kredit dengan kebijakan suku bunga acuan BI sudah turun kurang lebih ke kisaran 3,9 hingga 4 persen dari sebelumnya dikisaran 4,25 persen. "Artinya, hanya dalam waktu dua bulan saja suku bunga dasar kredit perbankan juga sudah diturunkan," ucapnya.

Berita Terkait : Kementan Dorong Kontribusi Perkebunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Dengan penurunan suku bunga dasar kredit akan memberikan selisih terhadap suku bunga deposito yang tadinya dikisaran 10 persen sekarang bertahap turun ke 9 persen.

Dengan kondisi ini, Doddy menilai sudah saatnya para pelaku usaha maupun korporasi untuk mulai melakukan pinjaman di perbankan. “Jadi artinya ini positif. Sehingga harusnya kalau dalam suku bunga dasar kredit yang turun ini tentunya akan memberikan insentif kepada borrowers terhadap pelaku maupun korporasi untuk memulai start berpikir untuk melakukan pinjaman pada perbankan,” tambahnya.

Kepala Grup Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Enrico Hariantoro juga memastikan, sudah ada tanda-tanda pemulihan ekonomi. Hal ini terlihat dari tingkat restrukturisasi kredit secara year-on-year (yoy) dan month-to-month (mtm) semakin melandai.

Hal tersebut menunjukkan sebagian dari debitur yang mendapatkan fasilitas tersebut, semakin membaik kondisinya. “Kami tentunya tidak ingin restrukturisasi kredit berlangsung berkepanjangan, karena ini juga tidak sehat," ujarnya.

Berita Terkait : Penerapan Aturan UU Cipta Kerja Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi

Diakui Enrico, restrukturisasi adalah obat sementara, stimulus sementara, dan nanti pada saatnya kondisi sudah normal semua akan kembali dengan peraturan yang dikondisikan seperti normal. "OJK selalu berupaya mendukung PEN melalui berbagai kebijakan stimulus lanjutan," tegasnya.
 Selanjutnya