Dark/Light Mode

Covid-19 Masih Tinggi, Rupiah Babak Belur

Selasa, 11 Mei 2021 09:48 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah menguat tinggi kemarin, pagi ini nilai tukar rupiah loyo lagi. Rupiah dibuka melemah 0,01 persen ke level Rp 14.200 per dolar AS, dibanding penutupan kemarin Rp 14.198 per dolar AS.

Mayoritas mata uang di Asia juga melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan paling lemah hingga 0,49 persen, ringgit Malaysia turun 0,27 persen, dolar Taiwan minus 0,15 persen, yuan China minus 0,14 persen, yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama turun 0,08 persen terhadap dolar AS.

Indeks dolar AS naik 0,07 persen ke level 90,272. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,08 persen ke level Rp 17.222, terhadap poundsterling Inggris menguat 0,01 persen ke level Rp 20.033, dan terhadap dolar Australia juga turun 0,07 persen ke level Rp 11.120.

Berita Terkait : Terbang Tinggi, Rupiah Bikin Dolar Tak Berkutik

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah masih akan mampu melanjutkan penguatannya meski ada kemungkinan tetap mengalami tekanan pasar di awal perdagangan.

Ibrahim mengatakan, meski dolar sedikit naik di awal pekan ini, pergerakannya masih sekitar level terendah dalam dua bulan. Hal ini seiring laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan minggu sebelumnya, dan implikasinya terhadap kebijakan moneter menjelang data inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini.

Dia menilai, investor juga tengah menunggu data inflasi AS termasuk Indeks Harga Konsumen Inti, yang akan dirilis akhir pekan ini. China juga akan merilis data inflasi pada hari Selasa, meski beberapa investor tetap pesimis karena indeks dolar sempat merosot.

Berita Terkait : Yield Obligasi AS Anjlok, Rupiah Makin Joss

Di sisi lain, rupiah diharapkan mampu menguat meski dari dalam negeri sentimen tak terlalu cerah. Di mana efektivitas kebijakan pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi masih jauh dari harapan.

“Ini terlihat dari penanganan pandemi Covid-19 yang masih belum konsisten sehingga selalu tertinggal dari negara negara lain yang sudah tumbuh positif dan bisa menangani Covid-19 dengan vaksinasi,” kata Ibrahim.

Menurutnya, jika pemerintah tidak memperbaiki penanganan pandemi Covid-19 maka ada ketakutan di kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi masih akan terkontraksi dan masih terjebak dalam jurang resesi. “Atau kalaupun positif kemungkinan hanya di 1-2 persen dan keluar dari jurang resesi,” imbuhnya.

Berita Terkait : Ekonomi RI Resesi, Rupiah Tetap Joss

Ibrahim memproyeksi, rupiah kemungkinan bergerak berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp 14.160- Rp 14.230 per dolar AS. [DWI]