Dewan Pers

Dark/Light Mode

Khawatir Inflasi AS, Rupiah Makin Lemes

Rabu, 19 Mei 2021 10:21 WIB
Rupih dan dolar AS. (Foto: ist)
Rupih dan dolar AS. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka kembali loyo. Rupiah melemah 0,15 persen ke level Rp 14.295 per dolar AS, dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp 14.272 per dolar AS.

Mayoritas mata uang di Asia juga melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang minus 0,13 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yuan China minus 0,01 persen, ringgit Malaysia turun 0,02 persen, bath Thailand turun 0,06 persen, dan peso Filipina melemah 0,01 persen.

Berita Terkait : Habis Libur Lebaran, Rupiah Malah Loyo

Indeks dolar AS terhadap mata uang saingannya naik 0,07 persen ke 89,816. Nilai tukar rupiah terhadap euro turun 0,17 persen ke level Rp 17.466, terhadap poundsterling Inggris melemah 0,14 persen ke level Rp 20.267, dan terhadap dolar Australia cukup tipis melemah 0,09 persen ke level Rp 11.126.

Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra mengatakan, rupiah sepanjang hari ini berpotensi melemah. Pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko terlihat dari pelemahan indeks saham Asia, yang mengekor pelemahan indeks saham AS kemarin.

Berita Terkait : Dihalangi AS, PBB Gagal Rilis Kejahatan Israel

"Hal ini mungkin bisa menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini. Kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi di AS mungkin menjadi pemicu aksi hindar risiko," ujarnya dalam riset, Rabu (19/5).

Meski begitu, di sisi lain, pasar masih menganggap Bank Sentral AS tidak akan mengubah kebijakan pelonggaran moneternya, dalam waktu dekat. Karena data tenaga kerja AS yang belum menunjukkan pemulihan seperti sebelum pandemi.

Berita Terkait : Covid-19 Masih Tinggi, Rupiah Babak Belur

“Hal ini kemungkinan bisa menahan pelemahan rupiah tidak terlalu dalam,” sebut Ariston.

Pelaku pasar kata dia, menantikan notulen rapat kebijakan moneter AS yang akan dirilis dini hari nanti. Pasar masih ingin mengonfirmasi sikap bank sentral terhadap kenaikan laju inflasi di AS saat ini, apakah ada sinyal pengetatan moneter atau tidak. [DWI]