Dark/Light Mode

Data Ekonomi AS Bikin Rupiah Klepek-klepek

Jumat, 4 Juni 2021 16:58 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rupiah ditutup melemah 0,07 persen ke level Rp 14.295 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan rupiah kemarin sore, Kamis (3/6) di level Rp 14.285 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah didorong akibat dolar yang menguat, terhadap mata uang lainnya. Bahkan mencapai level tertinggi multi-minggu, setelah serentetan data ekonomi yang kuat menjelang rilis gaji bulanan meningkatkan kemungkinan pengetatan awal Federal Reserve.

Data ekonomi AS mencatat, terdapat 385 ribu klaim pengangguran awal dalam seminggu terakhir. Bahkan lebih rendah dari 390 ribu klaim dalam perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com dan 405 ribu klaim yang diajukan selama minggu sebelumnya.

Berita Terkait : Yield Obligasi AS Rontok, Rupiah Makin Joss

Akibatnya, pengusaha swasta AS meningkatkan perekrutan pada bulan Mei, dengan perubahan pekerjaan non-pertanian ADP meningkat menjadi 978 ribu. Penurunan jumlah kasus Covid-19 memungkinkan bisnis untuk dibuka kembali dan meningkatkan permintaan.

"Investor sekarang menunggu data ketenagakerjaan lebih lanjut, termasuk data non-farm payrolls untuk Mei, yang akan dirilis hari ini," ujarnya dalam riset harian, Jumat (4/6).

Data tersebut dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang prospek ekonomi dan langkah kebijakan Federal Reserve AS selanjutnya.

Berita Terkait : Top! Rupiah Dibuka Paling Perkasa

Selain itu, investor juga tetap khawatir tentang perlambatan langkah-langkah stimulus Fed, didorong oleh prospek inflasi yang tidak terkendali. Namun, beberapa pejabat Fed menegaskan, kembali tekanan harga akan bersifat sementara, dan bank sentral akan mempertahankan langkah-langkah stimulus saat ini tidak berubah untuk sementara waktu.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menyatakan, Indonesia harus mewaspadai berbagai risiko yang bisa menghalangi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Sedangkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen di tahun 2021 sangat bergantung dari kemampuan pemerintah dalam meredam pandemi Covid-19.

"Selain itu, Indonesia sebagai negara pengimpor vaksin juga mendapat tantangan tersendiri untuk mengendalikan pandemi," tuturnya.

Berita Terkait : Jelang Libur Hari Pancasila, Rupiah Malah Lemes

Menurutnya, faktor pengendalian dan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas menjadi penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen. [DWI]