Dark/Light Mode

Harga Mesin Daur Ulang Mahal, Industri Minta Insentif

Kamis, 8 Juli 2021 22:14 WIB
Diskusi ekonomi sirkular. (Foto: Ist)
Diskusi ekonomi sirkular. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Teknologi industri daur ulang sampah untuk meciptakan ekonomi sirkular terus berkembang. Namun, yang menjadi kendala, harga mesinnya sangat mahal.

Hal tersebut dikatakan Presiden Direktur PT Namasindo Plas, Yanto Widodo saat menjadi pembicara dalam webinar Peluang dan Tantangan Ekonomi Sirkular, dalam Penggunaan Kemasan Botol Plastik yang di adakan Danone, Kamis (8/7).

Yanto tidak sendiri. Hadir juga pada kesempatan itu, Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo.

Yanto mencontohkan, sampah sampah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang sebelumnya sulit untuk didaur ulang, kini sudah bisa diproses menjadi kemasan botol kembali.

Baca juga : PPKM Darurat, Menperin Ajak Industri Bantu Penanganan Corona

"Teknologi pengolahan kemasan plastik PET di Indonesia sudah sangat maju sebagaimana di Eropa dan Amerika Serikat. Produk yang dihasilkan pun sudah memenuhi standar dan kelayakan untuk digunakan kembali,” ujarnya.

Namun, kata dia, ada beberapa kendala dalam pengembangan industri daur ulang. Misalnya, harga mesinnya tidak murah dan bisa mencapai Rp 500 miliaran.

Selain itu, sumber sampah yang ada belum memenuhi kualitas. Pemerintah juga tidak memberikan fasilitas atau insentif. Kemudian Undang-Undang Persampahan belum berjalan maksimal.

"Perlu terobosan dalam mendorong daur ulang plastik dengan memberikan intensif bagi pelaku industri yang terkait dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Baca juga : Mau Vaksinasi Di Bandara, Ini Syaratnya

Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo mengatakan, untuk mendorong industri menerapkan ekonomi sirkular tidak bisa hanya melalui pemberian penghargaan, tetapi melalui iklim usaha yang kondusif.

"Yang dibutuhkan industri itu ialah fasilitas (insentif), peraturan yang memudahkan mereka mendapatkan akses untuk menerapkan ekonomi sirkular  itu," ujarnya.

Karyanto juga mengatakan, Danone berkomitmen membuat 100 persen kemasan plastiknya dapat digunakan ulang, didaur ulang atau dapat terurai pada 2025.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang menyusun insentif pengembangan industri hijau. Kebijakan ini diharapkan bisa merangsang industri untuk tertarik melakukan pengelolaan sampah demi menjaga lingkungan.

Baca juga : PPKM Darurat, Hanya Industri Yang Punya IOMKI Boleh Operasi

“Saat ini masih kami susun fasilitas insentifnya,” ujar Kepala Pusat Industri Hijau Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian R Hendro Martono, Senin (28/6). [DIT]

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.