Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Ekonomi 7 Persen
Para Menteri Bahagia, Juga Waspada Lho
Sabtu, 7 Agustus 2021 07:40 WIB
Sebelumnya
Pemerintah, kata Sri Mulyani, akan terus melakukan kajian dan analisa terhadap sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi. Tujuannya, agar perekonomian tetap berjalan meski pandemi belum usai. Dan tentunya, pemulihan ekonomi bisa cepat, juga merata.
Sri Mulyani menilai, momentum pemulihan ekonomi sangat kuat. Sehingga harus dijaga betul oleh pemerintah. Selain itu harapannya, angka penularan harian bisa ditekan.
Bagaimana analisa pengamat terkait hal ini? Ekonom senior Indef, Dradjad Hari Wibowo mengingatkan, sebenarnya ekonomi Indonesia sangat rapuh. Memang, kenaikan di kuartal II tembus 7,07 persen. Namun, hal itu dikarenakan basis Produk Domestik Bruto (PDB) merosot drastis di periode yang sama tahun lalu, minus 5,32 persen.
Baca juga : Ekonomi Tumbuh 7 Persen, Rupiah Ikutan Joss
Analoginya, jelas Dradjad, seperti ini. Tahun 2019, medali yang dimiliki Indonesia 100. Tapi di tahun 2020 hilang 5,32 menjadi 94,68 medali. Kemudian di 2021 medali bertambah lagi, jadi hanya 101,37. Angka ini mencerminkan kenaikan 7,07 persen ketimbang 2020. Tapi, jika dibandingkan angka dasarnya 100, maka kenaikannya sebatas 1,37 persen.
Dradjad menyoroti apa yang disampaikan Sri Mulyani bahwa capaian di kuartal II itu dikarenakan pelonggaran mobilitas. Hasilnya, konsumsi tumbuh 5,93 persen, lebih tinggi dari biasanya. Masalahnya, pelonggaran tersebut terbukti membuat kasus Corona di Indonesia meledak.
Kondisi ini memaksa pemerintah menerapkan PPKM Darurat dan PPKM Level 4 di berbagai provinsi selama Juli hingga awal Agustus. Artinya, hampir separuh dari kuartal II-2021 dilalui dalam PPKM.
Baca juga : Ekonomi 7 Persen Mimpi Jadi Nyata
“Jelas, pertumbuhan konsumi akan anjlok, meski mungkin tidak akan negatif. Karena kita berangkat dari basis yang rendah,” terang Dradjad.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memprediksi, pertumbuhan ekonomi di kuartal III bakal kembali minus di rentang 1-2 persen karena ada pembatasan mobilitas. “Jangan keburu senang dulu karena pemulihan semu satu kuartal. Konsumsi rumah tangga bisa melemah lagi, dan motor dari investasi juga terpengaruh adanya PPKM,” pesannya.
Bukan tidak mungkin realisasi investasi bakal tertunda. Investor wait and see, sampai kasus harian turun dan PPKM dilonggarkan. Sehingga PR pemerintah, fokus mengantisipasi kuartal III dan IV agar ekonomi bisa selamat dari resesi. Sehingga ekonomi tumbuh positif sepanjang 2021.
Baca juga : Ekonomi Tumbuh 7 Persen, DPR Ingatkan Pemerintah Tetap Waspada
Menurut Bhima, yang terpenting saat ini adalah kualitas pertumbuhan. Yakni hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan serapan tenaga kerja. Karena, kualitas pertumbuhan di triwulan II sebenarnya rendah meski angkanya mencapai 7,07 persen. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya