Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Petani Dan Pemda Kompak Tolak Kenaikan Tarif Cukai Tembakau
Rabu, 8 September 2021 15:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rencana pemerintah mengerek tarif cukai hasil tembakau tahun depan ditolak banyak pihak. Dari mulai petani, pekerja, dan konsumen.
Petani khawatir kenaikan cukai akan mengurangi serapan panen tembakau. Sementara, konsumen menilai kenaikan cukai, pabrik rokok akan cenderung mengurangi kualitas produknya yang justru akan menambah risiko kesehatan.
Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun depan berpotensi meningkat lantaran pemerintah menargetkan penerimaan cukai tahun depan senilai Rp 203,9 triliun. Nilai tersebut meningkat 11,9 persen dibandingkan target realisasi tahun ini senilai Rp 182,2 triliun.
Hingga saat ini, CHT merupakan penopang sekaligus komponen utama penerimaan cukai pemerintah yang mencapai 95 persen lebih.
Baca juga : BPS Catat Kesejahteraan Pak Tani Kian Membaik
Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) DIY Triyanto menjelaskan, saat ini perkebunan tembakau sudah memulai masa panen. Sedangkan saat mulai melakukan penanaman sebelumnya, faktor kebijakan cukai belum jadi pertimbangan sehingga sangat riskan untuk mengurangi penyerapan panen meskipun hasil panen melimpah.
"Saat ini masih proses awal panen, masih proses pemetikan, dan perajangan. Nanti Oktober sampai November semoga tidak hujan. Jika kondisi cuaca bagus, namun jika tarif cukai dinaikan, pabrik akan cenderung mengurangi serapan," katanya, Rabu (8/9).
Triyanto menilai, kondisi ini akan membebani petani apalagi dalam masa pandemi, kini petani sejatinya sudah mengalami banyak tekanan. Banyak petani, kata dia, bahkan sudah mulai mengurangi para pekerja tambahan sebelumnya guna meringankan beban saat pandemi.
Padahal, proses pascapanen justru membutuhkan banyak pekerja. Menurutnya, dampak dari kenaikan cukai terutama akan terjadi kepada petani, dan para pekerjanya.
Baca juga : Taliban Pesta Tembakin Peluru
"Semakin sering cukai dinaikan, para pekerja pelinting juga akan terus menghadapi ancaman PHK. Karena pabrik rokok pasti akan menekan biaya dengan efisiensi pekerja. Sementara buat petani serapan panen yang berkurang pasti akan merugikan kami," ujarnya.
Sementara itu, kekhawatiran juga disuarakan oleh Perwakilan Petani Cengkih asal Buleleng Bali Ketut Nara. Ketut menegaskan, petani cengkih juga berharap agar pemerintah tidak menaikkan tarif CHT pada 2022 karena hal ini akan berdampak pada penurunan serapan cengkih. Apalagi mengingat sejak tahun lalu produktivitas cengkih trennya menurun.
Seperti yang dialami para petani di Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, di mana hasil panen raya tidak maksimal dikarenakan pengaruh iklim.
"Yang paling penting adalah kehadiran pemerintah dalam pengendalian harga agar serapan cengkih tetap stabil. Selama pandemi 1,5 tahun ini kami petani berusaha sekuat tenaga untuk bertahan," tegasnya.
Baca juga : Pemerintah Dan DPR Sepakat Dongkrak Batas Bawah Target Pertumbuhan Ekonomi
Penolakan juga disuarakan oleh Ketua DPRD Pamekasan Fathorrahman. Ia menolak keras rencana kenaikan cukai rokok. "Untuk nasib buruh dan perusahaan rokok lokal Pamekasan, akan kami bicarakan dengan eksekutif," ucapnya. [KPJ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya