Dark/Light Mode

Hilangkan Ego Sektoral Dan Permudah Komunikasi

Merger Pelindo Bikin Bisnis Pelabuhan Lebih Efisien…

Rabu, 15 September 2021 06:50 WIB
Rencana Penggabungan Pelindo I sampai IV. (Foto: Pelindo I).
Rencana Penggabungan Pelindo I sampai IV. (Foto: Pelindo I).

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana penggabungan (merger) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II, III dan IV (Persero) merupakan langkah tepat. Jika hal itu terwujud, dapat menghilangkan ego sektoral dan memudahkan komunikasi dalam mengembangkan pelabuhan di Tanah Air.

Penilaian tersebut disampaikan Direktur Celios (Center of Economics and Law Studies), Bhima Yudhistira.

“Kinerja Pelindo selama ini dibagi berdasarkan teritorial. Dengan adanya merger, bisa hilangkan ego sektoral yang selama ini terjadi dan lebih efisien,” ungkap Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Pelindo Sinergikan Bisnis Anak Usaha

Selain itu, lanjut Bhima, inovasi dan digitalisasi bisa diterapkan secara merata di seluruh Pelindo. Sehingga koordinasi menjadi tidak serumit sebelumnya. Dan yang tidak kalah penting, keputusan untuk pengembangan pelabuhan bisa lebih cepat.

Bhima menilai, pengembangan kapasitas pelabuhan sangat urgent. Di samping agar perusahaan mampu bersaing dengan operator pelabuhan negara lain, juga karena saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19. Momentumnya pas mengingat kegiatan perdagangan melalui jalur laut dimanfaatkan banyak negara.

“Kalau kapasitas pelabuhan bisa ditingkatkan, maka kapal-kapal besar bisa masuk, pengiriman barang juga bisa langsung ke Indonesia. Tidak perlu lagi transit di hub negara tetangga, seperti Singapura,” tuturnya.

Baca Juga : Sistem Aplikasi KEK Dorong Pengusaha Tanamkan Modal

Namun demikian, Bhima menilai, pasca merger, perusahaan masih membutuhkan masa transisi hingga lima tahun ke depan untuk mewujudkan harapan Pemerintah. Pasalnya, untuk menyeragamkan pelayanan maupun Sumber Daya Manusia (SDM) dari empat perusahaan sektor pelabuhan, butuh waktu.

Dia berharap, merger ini tidak hanya berorientasi pada penurunan biaya logistik semata. Tetapi juga mampu memberikan standarisasi pelayanan di seluruh pelabuhan. Baik di Jawa, Sumatera hingga di Indonesia timur.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pihaknya menargetkan BUMN pelabuhan Indonesia ini bisa menjadi operator terminal peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan total throughput peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit).
 Selanjutnya