Dark/Light Mode

Dihadiri Menko Airlangga

President University Gelar Konferensi Internasional Humaniora-Ilmu Sosial

Rabu, 27 Oktober 2021 17:04 WIB
Pembicara International Conference on Humanities and Social Science (ICHSS) 2021. (Foto: ist)
Pembicara International Conference on Humanities and Social Science (ICHSS) 2021. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Fakultas Humaniora President University (PresUniv) menyelenggarakan International Conference on Humanities and Social Science (ICHSS) 2021 dari 26-27 Oktober 2021. 

Acara ini dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan dipandu dosen Prodi Hubungan Internasional PresUniv, Natasya Kusumawardani.

ICHSS merupakan konferensi internasional perdana Fakultas Humaniora PresUniv dengan tema “The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0”. 

Ada lima sub tema yang dibahas pada konferensi ini, yaitu International Relations and Other Social & Cultural Issues, Communication Science, Law, Education, dan Biodiversity.

Konferensi dibuka oleh Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP), Prof Budi Susilo Soepandji. Dia berharap konferensi ini menjadi agenda yang penting bagi mahasiswa dan segenap civitas academica humaniora di tingkat global dan bisa dilakukan setiap tahun.

Prof Budi mengatakan, tema tersebut sangat kontekstual dengan kondisi saat ini dan mengingatkan bahwa situasi pandemi ini telah mengubah peradaban global secara drastis dan tidak terprediksi sebelumnya. Menurut dia, beberapa cendekiawan dan tokoh sebenarnya telah memprediksi akan adanya perubahan pesat di peradaban manusia. 

“Namun, tak satupun dari mereka yang memprediksi bahwa pandemi akan mempengaruhi percepatan dari perubahan itu sendiri,” bebernya.

Berita Terkait : Harga Saham Lesu, Posisi Investasi Internasional RI Turun

Dia lalu membahas salah satu buku dari mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Al Gore, yang berjudul The Future: Six Drivers of Global Change. Ada enam faktor yang memicu terjadinya perubahan secara global di masa depan, yakni eskalasi globalisasi ekonomi, pesatnya perkembangan komunikasi digital dan jaringan internet, dan menurunnya peran AS sebagai pemimpin global.

Kemudian akumulasi dampak kerusakan lingkungan dan berkurangnya sumber daya alam yang vital bagi umat manusia, pesatnya perkembangan bioteknologi dan ilmu hayati, dan ketidakharmonisan antara peradaban manusia dan sistem ekologi.

“Di sini terlihat bahwa Al Gore tidak memprediksi bahwa pandemi menjadi salah satu faktor yang mendorong percepatan dari perubahan global,” katanya.

Menurut Budi, pandemi membuat masyarakat kurang memiliki interaksi fisik dibandingkan sebelumnya. Dalam konteks yang lebih luas, menurutnya, hal ini memicu pertanyaan mendasar tentang apa kontribusi yang dapat diberikan Ilmu Humaniora untuk menanggapi situasi saat ini. 

Ia berharap melalui konferensi ini civitas academica global dari Hubungan Internasional, Ilmu Hukum, Ilmu Komunikasi, Pendidikan, dan Biodiversity dapat berbagi pandangan dan ilmu yang berharga untuk bertahan dalam kondisi sekarang.

“Saya percaya bawa kita berbagi harapan yang sama, konferensi ini akan berkontribusi pada peningkatan penelitian juga praktik pada Ilmu Humaniora,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan update dari penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurutnya, penanganan kasus aktif di Indonesia lebih baik jika dibandingkan secara global. 

Berita Terkait : Mantan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika Meninggal Dunia Di Usia 84

“Dilihat dari kasus rata-rata, dalam tujuh hari ada kurang dari 1.000 kasus, yaitu 728, dan terus menurun. Pada Minggu (24/10) sudah menjadi 460 kasus,” ujar Airlangga.

Dia menegaskan, penurunan kasus Covid-19 yang sangat drastis ini bukan karena pemerintah mengurangi jumlah tes. “Pemerintah tidak pernah mengurangi jumlah tes,” tegasnya.

Airlangga menjelaskan tiga strategi yang diterapkan pemerintah dalam menangani kasus Covid-19, yaitu deteksi, perubahan perilaku, dan vaksinasi.

Upaya pemerintah menangani pandemi Covid-19 berdampak terhadap kinerja perekonomian. Pada kuartal II-2021, Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 16 tahun terakhir, yaitu sebesar 7,16 persen.

Untuk sektor yang sedang dalam pemulihan saat ini adalah sektor industri, transportasi, retail, akomodasi, pertanian, hingga perumahan. Ia menyampaikan bahwa strategi yang diterapkan adalah dengan memberikan konsumen kepercayaan dan keringanan pajak, terutama pada sektor otomotif dan properti.

Ungkap Airlangga, tantangan saat ini sebenarnya adalah demografi Indonesia yang kebanyakan dari Generasi Z dan milenial yang melek digital. “Ini tentu tantangan bagi PresUniv. Bonus demografi ini adalah kunci pertumbuhan Indonesia di masa mendatang,” katanya. 

Ini perlu menjadi perhatian, karena ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN. Airlangga mengutip data yang menyebutkan bahwa 41,9 persen total transaksi ekonomi digital di ASEAN datang dari Indonesia. 

Berita Terkait : Rektor Unhan Paparkan Format Baru Pasca Pandemi Di Konferensi International

“Ini peluang bagi mahasiswa untuk melakukan bisnis digital, seperti financial technology (fintech), e-commerce, layanan kesehatan digital, education technology (edutech), hingga health tech,” jelasnya

Pada akhir sesi Airlangga menceritakan upaya pemerintah mempercepat transformasi ekonomi melalui Making Indonesia 4.0 yang mengutamakan tujuh sektor utama, yaitu makanan & minuman, tekstil & garmen, otomotif, bahan kimia, elektronik, farmasi, dan peralatan medis.

Konferensi ini juga menghadirkan sembilan pembicara lainnya. Mereka adalah Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Hukum Prof Satya Arinanto, Guru Besar Ekologi, Biologi Konservasi, Limnologi, dan Ekologi Lahan Basah dari Universitas Gadjah Mada Prof Tjut Sugandawaty Djohan, Associate Professor and Coordinator of the Indonesia Programme, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University Leonard C. Sebastian, Prof Politik dan Hubungan Internasional di School of International Studies Universiti Utara Malaysia, Prof Mohd Azizuddin Mohd Sani.

Kemudian, Dosen di  Faculty of Education Monash University Dr. Katrina Tour, Kaprodi Hubungan Internasional PresUniv Muhammad A.S. Hikam, Kaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar PresUniv Ani Pudjiastuti, Tim Ahli Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Mariana Molnar Gabor-Warokka. [DIT]