Dewan Pers

Dark/Light Mode

Telementoring ECHO Pertama: Lompatan Baru, Pelayanan Kanker di Indonesia

Jumat, 3 Desember 2021 18:09 WIB
Telementoring ECHO Pertama: Lompatan Baru, Pelayanan Kanker di Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan RI bersama Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan Roche Indonesia menginisiasi pelatihan pertama telementoring ECHO (Extension for Community Health Outcomes). Model telementoring ini adalah bagian dari Project ECHO yang merupakan sebuah program kemitraan strategis dengan tujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas penatalaksanaan kanker di Indonesia serta mendukung akselerasi pengembangan jejaring kanker nasional.

Salah satu tantangan utama pelayanan kanker di Indonesia saat ini adalah ketimpangan jumlah dan penyebaran fasilitas pelayanan kanker serta terbatasnya jumlah tenaga medis ahli khusus kanker. Hingga saat ini, Indonesia hanya memiliki 13 rumah sakit rujukan nasional untuk kanker, di mana lima diantaranya terdapat di Jawa, tiga di Sumatera, dua di Kalimantan, dua di Sulawesi, dan satu di Bali. Sementara itu, jumlah dokter spesialis penyakit dalam hematologi onkologi medik (Sp.PD-KHOM) di Indonesia hanya mencapai 188 orang, atau sebesar 0,07 dari 100 ribu penduduk.

“Sebagai pusat kanker nasional, seluruh tim medis di RS Kanker Dharmais berusaha untuk selalu memberikan pelayanan dan perawatan terbaik bagi seluruh pasien kami. Akan tetapi, kami juga sadar akan keterbatasan sumber daya yang ada, termasuk dari sisi teknologi dan jumlah tenaga medis,” kata dr. R. Soeko Werdi Nindito D., MARS, Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Berita Terkait : Kemenparekraf Nobatkan Banda Aceh Sebagai Kota Kreatif Indonesia 2021

Project ECHO sejalan dengan rencana jangka panjang Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk membuat jejaring layanan kanker secara nasional agar sistem pelayanan terpadu untuk kanker dapat semakin merata di seluruh Indonesia. Strategi ini meliputi pembagian layanan kanker menjadi empat strata, yang dibagi berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan, kelengkapan dan jenis alat yang tersedia, serta jumlah dan tingkat keahlian tenaga medis.

Melalui telementoring ECHO, rumah sakit jejaring di berbagai daerah nantinya akan diberikan pengampuan dari Rumah Sakit Kanker Dharmais. Pada tahap selanjutnya, saat rumah sakit di daerah telah mampu beroperasi secara independen, maka rumah sakit tersebut akan memberikan pengampuan pada rumah sakit lain di wilayahnya.

“Hadirnya Project ECHO ini diharapkan dapat menjangkau semakin banyak pasien kanker di Indonesia, khususnya di wilayah terpencil, dalam mendapatkan pelayanan dan perawatan kanker. Melalui Project ECHO, pasien di berbagai wilayah dapat memperoleh pelayanan langsung tanpa harus datang ke rumah sakit rujukan. Dengan penanganan yang lebih cepat dan lebih baik, diharapkan dapat menurunkan staging kanker serta memperbaiki kualitas dan hasil penatalaksanaan pasien untuk jangka panjang,” tambah dr. Soeko Nindito.

Berita Terkait : Dubes Kumar Bharti Luncurkan Buku India-Indonesia

Pada tahap awal program telementoring ECHO, sebagai Pusat Kanker Nasional, Rumah Sakit Kanker Dharmais bertindak sebagai hub lead (koordinator jaringan) dengan 11 rumah sakit menjadi spoke seperti Rumah Sakit Sanglah di Bali, Rumah Sakit Kandou di Manado, Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung dan Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie di Kalimantan Timur. Pada tahun 2022, 11 rumah sakit ini diharapkan dapat menjadi hub dan akan mengampu 99 rumah sakit (spoke) nantinya. Dengan metode ini, Project ECHO dapat dengan cepat mengurangi kesenjangan pengetahuan dan pelayanan penatalaksanaan kanker di Indonesia.

Presiden Direktur PT Roche Indonesia, Dr. Ait-Allah Mejri menambahkan, “Kami senang sekali dapat bermitra dengan Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan Kementerian Kesehatan RI untuk mengimplementasikan telementoring pertama sebagai bagian dari Project ECHO. Program ini menjadi cetak biru terkait bagaimana sektor swasta dan publik dapat bertindak aktif dan bekerja sama untuk kepentingan negara. Roche sangat yakin bahwa teknologi digital dapat membantu penyedia layanan kesehatan dan pasien untuk mengatasi masalah aksesibilitas yang ada saat ini. Sekarang, pasien kanker bisa memiliki harapan lebih baik untuk mendapatkan pelayanan berkualitas dan hasil penatalaksanaan yang lebih baik dimanapun mereka berada.”

Sebelumnya, penandatangan kemitraan untuk Project ECHO antara Kementerian Kesehatan RI, Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais, dan Roche Indonesia telah dilaksanakan tahun lalu. Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan kemitraan antara Roche dan ECHO Institute, University of New Mexico Health Sciences Center di tingkat global untuk meningkatkan hasil penatalaksanaan kanker melalui Project ECHO yang diimplementasikan di beberapa negara seperti Filipina, Myanmar, Malaysia, Pakistan, Ghana, Pantai Gading, Eswatini, Kanada dan Indonesia. [ARM]