Dewan Pers

Dark/Light Mode

Muhibah Budaya Jalur Rempah Susuri 6 Titik Pelayaran Bersama KRI Dewaruci

Selasa, 19 April 2022 18:47 WIB
Muhibah Budaya Jalur Rempah. (Foto: Ditjen Kebudayaan)
Muhibah Budaya Jalur Rempah. (Foto: Ditjen Kebudayaan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar Muhibah Budaya Jalur Rempah, yang sebelumnya tertunda karena pandemi Covid-19. Kegiatan ini merupakan pelayaran menggunakan KRI Dewaruci, kapal latih TNI Angkatan Laut yang membawa pemuda-pemudi pilihan dari 34 provinsi dengan tujuan untuk napak tilas Jalur Rempah Nusantara.

Muhibah Budaya Jalur Rempah dimulai 1 Juni 2022 dan berakhir 2 Juli 2022. Pelayaran akan mengarungi lintas samudra menyusuri enam titik Jalur Rempah yaitu Surabaya, Makassar, Baubau-Buton, Ternate-Tidore, Banda, dan Kupang.

Peserta akan disebar dalam 4 titik pergantian atau pertukaran peserta, yaitu Surabaya, Makassar, Ternate, dan Kupang. Jumlah peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah setiap koridor pelayaran sebanyak 134 orang (126 laki-laki dan 8 perempuan). Terdiri atas awak TNI AL KRI Dewaruci (80 orang), perwakilan provinsi (42 orang), pendamping/mentor (6 orang), dan media (6 orang).

Berita Terkait : Mau Diskon Tambah Daya Listrik Di Promo Lebaran Ceria, Ini Caranya

Pelayaran ditandai dengan Festival Jalur Rempah, mengangkat kekayaan alam dan budaya masing-masing titik singgah yang dirajut dari elemen budaya berupa seni, kriya, kuliner, ramuan, wastra, dan kesejarahan. Di antaranya upacara penyambutan dan pelepasan KRI Dewaruci beserta peserta yang dimeriahkan atraksi seni khas daerah, kunjungan ke situs cagar budaya, diskusi dan praktik budaya, pemutaran film, penanaman serempak pohon rempah, serta gala dinner bersama gubernur, wali kota, dan stakeholder terkait.

Di titik Ternate-Tidore, gala dinner dihadiri Sultan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Kegiatan ini sebagai upaya diplomasi budaya dan menguatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia. "Kita ingin melihat jalur rempah dari geladak kapal kita sendiri," kata Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek Hilmar Farid, seperti keterangan yang diterima redaksi, Selasa (19/4).

Hilmar mengatakan, Jalur Rempah sebenarnya terbentang tidak hanya di Nusantara, tetapi sampai timur Afrika. “Nusantara (khususnya bagian timur) adalah hulu Jalur Rempah yang berperan dalam sejarah, bahkan jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Selain itu, Jalur Rempah menjadi penting untuk melengkapi agenda poros maritim dunia dari sisi kultural, yakni membangkitkan kesadaran maritim,” ujarnya.

Berita Terkait : Minyak Curah Terdistribusi, Harga Sesuai HET, Pedagang Pasar Ucapkan Terima Kasih Ke Kapolri

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Restu Gunawan. Muhibah Budaya, kata Restu, adalah untuk menyiapkan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia (World Heritage) dalam memperkuat diplomasi Indonesia dan 

meneguhkan sebagai poros maritim dunia. "Kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan kembali ke-Indonesiaan yang telah terhubung sejak lama dan diharapkan bisa membantu pembangunan berkelanjutan," ujarnya.

Ketersambungan budaya dalam lintas daerah di Indonesia, lanjut Restu, menjadi suatu esensi dari program Muhibah Budaya Jalur Rempah atas keberagaman pendukung budaya yang dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah. "Untuk mengembangkan dan memperkuat ketahanan budaya dan diplomasi budaya, memaksimalkan pemanfaatan Cagar Budaya dan Warisan Budaya Takbenda," jelasnya.

Berita Terkait : KIN Susu Steril Ajak Masyarakat Berbagai Kebaikan

Gerakan ini, lanjut Restu, diharapkan menjadi kebangkitan atas kekuatan kebaharian, dan mengubah paradigma lama. "Membangun perspektif yang luas atas potensi alam dan budaya Indonesia untuk masa depan yang lebih baik," tutupnya. [KW]